0
News
    Home Tidak Ada Kategori

    Kasus Corona Indonesia Diprediksi Capai 100.000 di Akhir Juli, Lampaui China - kumparan

    5 min read

    Kasus Corona Indonesia Diprediksi Capai 100.000 di Akhir Juli, Lampaui China - kumparan

    Kasus Corona Indonesia Diprediksi Capai 100.000 di Akhir Juli, Lampaui ChinaDekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam. Foto: Dok. Istimewa

    Lonjakan kasus virus corona di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian para ahli kesehatan. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, memprediksi bahwa Indonesia akan memiliki 100.000 kasus corona pada akhir Juli 2020.

    Menurut Ari, saat ini Indonesia memiliki penambahan 15 ribu kasus corona dalam 10 hari terakhir. Catatan tersebut tiga kali lipat lebih besar ketimbang penambahan kasus di bulan Mei, di mana rata-rata Indonesia hanya mencatat 5 ribu kasus baru dalam 10 hari.

    "Yang membuat kita juga khawatir saat ini, di bulan Mei itu angka penambahannya 5 ribu per 10 hari. Bulan Juni itu 10 ribu per 10 hari. Juli ini, saya sudah lihat rata-ratanya ini ke angka 14 ribu sampai 15 ribu per 10 hari," kata Ari, dalam sebuah panel diskusi virtual yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran UI, Kamis (9/7).

    "Jadi kita bisa bilang di akhir Juli, bahkan nanti mungkin di awal Agustus kita sudah tembus 100 ribu. Berarti kita sudah lewat angkanya China. Faktanya demikian," sambungnya.

    Berdasarkan data yang dihimpun situs covid19.go.id, Indonesia memang memiliki tambahan 15.962 kasus virus corona dalam 10 hari terakhir. Pada Kamis (9/7), Indonesia bahkan mencatatkan rekor baru dengan 2.657 kasus dalam sehari.

    Sementara untuk jumlah kasus COVID-19, Indonesia hingga 11 Juli pukul 12.00 WIB telah mencatat jumlah kasus sebanyak 72.460, sementara China ada 84.992.

    Menurut Ari, Indonesia tidak sedang berada dalam gelombang kedua corona. "Jangankan second wavefirst wave aja kita belum sampai ini," katanya.

    Kasus Corona Indonesia Diprediksi Capai 100.000 di Akhir Juli, Lampaui China (1)Staf medis Indonesia ikut serta dalam tes massal untuk virus corona COVID-19 di stadion Patriot di Bekasi. Foto: AFP/REZAS

    Senada dengan Ari, ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Iwan Ariawan, juga menyebut bahwa Indonesia sedang menuju puncak kedua, tetapi masih dalam gelombang pertama.

    Lihat data Rt (angka reproduksi efektif)

    Dalam analisis yang dilakukan oleh timnya, Iwan menyebut bahwa Indonesia terlalu cepat dalam melakukan transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Alih-alih menunggu angka reproduksi (Rt) corona berada di bawah 1 selama 14 hari, yang menunjukkan bahwa persebaran kasus sudah dapat mulai dikendalikan, PSBB transisi justru dilakukan ketika angka reproduksi corona masih berada di atas 1.

    "Rt kita kalau secara nasional belum pernah di bawah 1. Rt kita sampai kemarin (Rabu) pun masih 1,14. Artinya apa? Artinya, PSBB kita sudah dilonggarkan sebelum epidemi benar-benar terkendali. Jadi risiko penularan di populasi masih tinggi," kata Iwan, di kesempatan yang sama.

    Kasus Corona Indonesia Diprediksi Capai 100.000 di Akhir Juli, Lampaui China (2)Materi pemaparan Iwan Ariawan di diskusi panel virtual IMERI FKUI, Kamis (10/7). Foto: Medicine UI via YouTube

    Iwan menjelaskan, lonjakan kasus corona setelah pelonggaran PSBB erat kaitannya dengan pergerakan penduduk yang masif. Dalam hal ini, semakin banyak penduduk yang bergerak, semakin meningkat pula kasus corona di Indonesia.

    Rasa aman palsu di zona hijau, kuning, oranye, merah

    Pergerakan penduduk dan hubungannya dengan penambahan kasus ini pula yang membuat Iwan menganggap bahwa kategori zona hijau, kuning, oranye, dan merah sebagai 'rasa keamanan palsu'.

    Keempat zona tersebut merupakan indikator yang digunakan pemerintah untuk menentukan apakah suatu wilayah sudah dapat mengendalikan corona atau belum. Namun, zonasi ini akan selalu berubah-ubah, kata Iwan, dan tidak selalu menjamin bahwa zona hijau selalu memiliki risiko yang rendah.

    "Penduduk itu bergerak dari (zona) merah ke hijau, merah ke kuning, merah ke oranye, dan seterusnya," kata Iwan. "Kita mesti hati-hati dengan zonasi karena ini bisa memberikan rasa keamanan palsu di zona-zona hijau."

    Tak hanya soal keputusan relaksasi PSBB yang terlalu prematur, Indonesia juga saat ini memiliki masalah dalam melacak persebaran virus corona.

    Kata Iwan, pelacakan kasus corona di Indonesia tak memenuhi standar epidemiologis yang seharusnya. Dalam hal ini, Iwan merujuk anjuran Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat yang mengharuskan setidaknya ada 5-20 orang yang diperiksa dalam melacak satu kasus. Angka tersebut, kata Iwan, didasari karena kita biasanya bertemu 15 hingga 25 orang dalam sehari.

    Berdasarkan data pemeriksaan kontak di DKI Jakarta pada Maret hingga Mei 2020, misalnya, rata-rata orang yang dilacak per satu kasus masih jauh dari standar tersebut. Rata-rata pelacakan bulan Maret hanya mencakup 7 orang per satu kasus corona. Adapun di bulan April dan Mei hanya memiliki rata-rata pelacakan 3 orang per satu kasus.

    "Di bulan April, pelacakan memang banyak. Tapi, kebanyakan lingkaran-nya (cakupan) kecil-kecil," kata Iwan.

    Selain pelacakan kasus yang tidak sesuai standar, Indonesia juga memiliki rapor merah terkait jumlah tes virus corona yang minim. Berdasarkan data yang dihimpun Worldometer per Jumat (10/7) sore, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-162 sebagai negara dengan rasio tes PCR terbanyak, dengan catatan 3.712 tes per 1 juta penduduk.

    Kasus Corona Indonesia Diprediksi Capai 100.000 di Akhir Juli, Lampaui China (3)Suasana di Stasiun Manggarai saat PSBB transisi di Jakarta saat pandemi COVID-19. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

    Tim FKM UI pun memprediksi bahwa pandemi corona di Indonesia masih akan terus berlangsung sampai akhir tahun 2020. Dalam sebuah pemodelan yang kumparan dapatkan dari Pandu Riono, salah seorang anggota peneliti di Tim FKM UI, Indonesia diprediksi memiliki penambahan 4.000 kasus dalam sehari, jika pemerintah tidak melakukan testing, pelacakan, dan isolasi yang serius serta masyarakat yang tidak disiplin dalam menjalankan cara hidup 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan).

    Tentu, prediksi tersebut merupakan skenario terburuk dalam pemodelan Tim FKM UI. Setidaknya, ada dua skenario lain yang lebih baik, dengan syarat pemerintah serius dan masyarakat disiplin dalam menjalankan cara hidup 3M.

    Meski timnya berupaya memprediksi kasus virus corona di Indonesia, Pandu Riono memperingatkan bahwa pemodelan yang timnya buat hanya didasari oleh pola penambahan kasus dan tak lagi bisa akurat. Hal tersebut disebabkan oleh 'variabel yang sulit' dalam memprediksi corona di Indonesia saat ini.

    "Saya nggak bisa memprediksi akurat lagi, karena variabelnya sangat sulit," kata Pandu kepada kumparan. "Kita enggak tahu apa yang terjadi besok. Misalnya, nanti tanggal 17 Agustus, apa yang akan terjadi? Apa yang akan terjadi pada Idul Adha, ketika terjadi kerumunan-kerumunan itu, yang tidak mungkin protokol kesehatan 3M itu dipatuhi?"

    ***

    Saksikan video menarik di bawah ini.

    Komentar
    Additional JS