Keluarga Pelaku Teror di Perancis: Kami Ingin Bukti, jika Benar, Hukum Dia - kompas
Keluarga Pelaku Teror di Perancis: Kami Ingin Bukti, jika Benar, Hukum Dia - kompas
AP/Mehdi El AremTUNIS, KOMPAS.com - Keluarga, tetangga, dan kerabat dari Ibrahim Issaoui (21)--beberapa media menyebut juga Brahim Assaoui-- tersangka penyerang di Gereja Notre-Dame, kota Nice, Perancis Selatan pada Kamis (29/10/2020) mengaku terkejut kepada wartawan.
Berbicara kepada Associated Press (AP), saudara laki-laki Ibrahim Issaoui, Wissem mengatakan, "Saya ingin lihat (rekaman) saudara saya memasuki gereja, tolong biarkan saya melihat video ketika dia masuk. Tunjukkan pada saya bahwa memang benar dia yang melakukan penyerangan dan hakimi dia sebagai teroris (jika benar).
Tunjukkan pada saya serangan itu, saya tidak yakin gereja tidak punya kamera pengawas, saya yakin kota di Perancis pasti diawasi dengan kamera pengintai di mana-mana. Saya juga ingin melihat pakaian-pakaiannya selama penyerangan, jika memang dia terbukti menyerang, dia akan bertanggung jawab."
Baca juga: Warga Perancis Marah menjadi Target Serangan Terorisme
Singkatnya, keluarga Ibrahim Issaoui menginginkan bukti bahwa anggota keluarga mereka itu melakukan penyerangan.
Sementara ibu dari pelaku, Gamra yang diliputi kesedihan mengatakan bahwa dia menginginkan kebenaran tentang bagaimana putranya bisa diduga melakukan serangan teror tragis ini.
Selain keluarga, tetangga pelaku teror juga berbicara soal sosok pria itu. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa Ibrahim Issaoui ingin pindah ke Eropa "untuk memperbaiki situasinya seperti para pemuda lain yang mengubah situasi hidup mereka".
Baca juga: Ibu Pelaku Teror Penyerangan Pisau di Perancis Menangis dan Terkejut atas Perbuatan Anaknya
Salah satu dari tetangga pelaku teror yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa Ibrahim Issaoui tidak ada tanda-tanda potensial dalam melakukan serangan teror.
"Saya tidak melihat dia menjadi keras atau ada perubahan dari perilakunya. Dia tidak pernah membuat orang lain merasa takut," kata tetangga itu.
Ahmed Kid, seorang teman Issaoui, mengatakan dia mengingat Issaoui sebagai seseorang yang "mencintai semua orang, seperti teman-temannya, dan orang lain".
Baca juga: Demo Anti-Perancis Menjalar ke Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan
"Dia pindah ke Eropa karena ingin memperbaiki situasi seperti pemuda lainnya, memperbaiki situasi keluarga dan kehidupan," ujar Ahmed.