Indonesia Dipaksa Mundur dari All England, Hariyanto Arbi "Smes" BWF Halaman all - Kompas.
4 min read
Indonesia Dipaksa Mundur dari All England, Hariyanto Arbi "Smes" BWF Halaman all - Kompas.com

KOMPAS.com - Legenda bulu tangkis Indonesia, Hariyanto Arbi, mengecam perlakuan terhadap skuad Merah Putih di All England 2021.
Skuad bulu tangkis Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021 pada Kamis (18/3/2021) pagi WIB menyusul penemuan kasus Covid-19 pada salah satu penumpang dalam penerbangan yang sama dengan Anthony Sinisuka Ginting dkk.
Mereka lalu mendapatkan surat elektronik yang menginfokan agar kontingen melakukan isolasi mandiri selama 10 hari hingga Selasa (23/3/2021).
Hal itu sesuai dengan kebijakan pemerintah Inggris yang mewajibkan penumpang menjalani karantina apabila berada dalam satu pesawat dengan orang yang positif Covid-19.
Alhasil, status seluruh pemain Indonesia menjadi kalah WO. Padahal, tiga wakil yang berlaga di babak pertama All England pada Rabu (17/3/2021) sudah memastikan tiket ke fase 16 besar.
Mantan pebulu tangkis tunggal putra, Hariyanto Arbi, ikut buka suara mengenai polemik ini.
Eks juara All England 1993 dan 1994 tersebut menilai Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) perlu bertanggung jawab atas situasi yang dialami tim Indonesia.
Tak tanggung-tanggung, Hariyanto Arbi mendaratkan "smes keras" kepada BWF dengan menyebut organisator bulu tangkis dunia itu tidak menunjukkan sikap profesional.
"Saya ikut sedih dan prihatin. Mereka persiapannya sudah bagus, lalu kalahnya bukan karena kalah bertanding. Itu pasti lebih menyakitkan," kata Hariyanto Arbi dalam program acara Rosi di KOMPAS TV pada Kamis (18/3/2021) malam WIB.
"Kalau kita melihat sejarah panjang All England, ini benar-benar mencoreng kejuaraan tahun ini. BWF perlu bertanggung jawab, mereka tidak profesional dalam hal ini," ujar Hariyanto Arbi menambahkan.
Menurut sosok yang dijuluki 'smes 100 watt' ini, BWF dan panitia All England seharusnya melanjutkan protokol kesehatan yang diterapkan di 2 turnamen Thailand Open dan BWF World Tour Finals pada Januari 2021.
Tiga turnamen itu diselenggarakan dengan sistem gelembung di mana peserta harus melakukan karantina sebelum bertanding dan tidak diizinkan pergi selain ke hotel dan arena pertandingan.
Selama tiga pekan di Thailand, pebulu tangkis dan tim ofisial juga dites swab PCR sebanyak tujuh hingga delapan kali.
"Kalau memang panitia All England tidak siap menyelenggarakan turnamen ya seharusnya di-cancel, tidak perlu memaksakan," kata Hariyanto Arbi.
"BWF sudah punya pengalaman di Thaialnd Open. Di sana prokesnya bagus sekali, mereka seharusnya mencontoh Thailand Open yang mewajibkan pemain karantina dulu sebelum bertanding," tuturnya.
Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya, telah berkomunikasi dengan Direktur Asia Tenggara dari Kementerian Luar Negeri Inggris, Sarah Cooke, terkait hal ini.
Untuk memastikan tidak adanya diskriminasi, unfairtreatment, dan kurangnya transparansi, pemerintah Indonesia memberikan sejumlah opsi.
Opsi pertama yang paling mungkin dilakukan adalah secepatnya mengadakan tes swab PCR kepada atlet Indonesia dan tim ofisial.
Seandainya hasil PCR menunjukkan positif Covid-19, pemerintah menyarankan opsi kedua yaitu meminta panita mempertimbangkan penghentian sementara All England 2021.
Sebab, sebelumnya telah terjadi kontak antara para atlet dan tim ofisial.
Opsi ketiga, ujar Desra melanjutkan, jika angka positif Covid-19 yang dialami atlet atau tim pendukung cukup masif, pemerintah meminta panitia menghentikan All England 2021.
Menanggapi ketiga opsi tersebut, Hariyanto Arbi lebih memilih agar All England 2021 dibatalkan. Ia menyebut langkah itu sebagai bentuk keadilan.
"Opsi ditunda dan dibatalkan itu bisa saja. Tinggal BWF mau melakukannya atau tidak," tuturnya.
"Mendengar komentar Pak Anton Subowo (Presiden Badminton Asia), kalau ditunda agak susah karena arena disewa cuma sampai hari Senin. Kalau saya lebih setuju dihentikan saja."
"Maksud saya, pertandingannya dibatalkan semua kalau memang tidak bisa ditunda. Dibatalkan saja untuk keadilan karena ini bukan salah tim kita," tutur Hariyanto Arbi.

KOMPAS.com - Legenda bulu tangkis Indonesia, Hariyanto Arbi, mengecam perlakuan terhadap skuad Merah Putih di All England 2021.
Skuad bulu tangkis Indonesia dipaksa mundur dari All England 2021 pada Kamis (18/3/2021) pagi WIB menyusul penemuan kasus Covid-19 pada salah satu penumpang dalam penerbangan yang sama dengan Anthony Sinisuka Ginting dkk.
Mereka lalu mendapatkan surat elektronik yang menginfokan agar kontingen melakukan isolasi mandiri selama 10 hari hingga Selasa (23/3/2021).
Hal itu sesuai dengan kebijakan pemerintah Inggris yang mewajibkan penumpang menjalani karantina apabila berada dalam satu pesawat dengan orang yang positif Covid-19.
Alhasil, status seluruh pemain Indonesia menjadi kalah WO. Padahal, tiga wakil yang berlaga di babak pertama All England pada Rabu (17/3/2021) sudah memastikan tiket ke fase 16 besar.
Mantan pebulu tangkis tunggal putra, Hariyanto Arbi, ikut buka suara mengenai polemik ini.
Eks juara All England 1993 dan 1994 tersebut menilai Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) perlu bertanggung jawab atas situasi yang dialami tim Indonesia.
Tak tanggung-tanggung, Hariyanto Arbi mendaratkan "smes keras" kepada BWF dengan menyebut organisator bulu tangkis dunia itu tidak menunjukkan sikap profesional.
"Saya ikut sedih dan prihatin. Mereka persiapannya sudah bagus, lalu kalahnya bukan karena kalah bertanding. Itu pasti lebih menyakitkan," kata Hariyanto Arbi dalam program acara Rosi di KOMPAS TV pada Kamis (18/3/2021) malam WIB.
"Kalau kita melihat sejarah panjang All England, ini benar-benar mencoreng kejuaraan tahun ini. BWF perlu bertanggung jawab, mereka tidak profesional dalam hal ini," ujar Hariyanto Arbi menambahkan.
Menurut sosok yang dijuluki 'smes 100 watt' ini, BWF dan panitia All England seharusnya melanjutkan protokol kesehatan yang diterapkan di 2 turnamen Thailand Open dan BWF World Tour Finals pada Januari 2021.
Tiga turnamen itu diselenggarakan dengan sistem gelembung di mana peserta harus melakukan karantina sebelum bertanding dan tidak diizinkan pergi selain ke hotel dan arena pertandingan.
Selama tiga pekan di Thailand, pebulu tangkis dan tim ofisial juga dites swab PCR sebanyak tujuh hingga delapan kali.
"Kalau memang panitia All England tidak siap menyelenggarakan turnamen ya seharusnya di-cancel, tidak perlu memaksakan," kata Hariyanto Arbi.
"BWF sudah punya pengalaman di Thaialnd Open. Di sana prokesnya bagus sekali, mereka seharusnya mencontoh Thailand Open yang mewajibkan pemain karantina dulu sebelum bertanding," tuturnya.
Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya, telah berkomunikasi dengan Direktur Asia Tenggara dari Kementerian Luar Negeri Inggris, Sarah Cooke, terkait hal ini.
Untuk memastikan tidak adanya diskriminasi, unfairtreatment, dan kurangnya transparansi, pemerintah Indonesia memberikan sejumlah opsi.
Opsi pertama yang paling mungkin dilakukan adalah secepatnya mengadakan tes swab PCR kepada atlet Indonesia dan tim ofisial.
Seandainya hasil PCR menunjukkan positif Covid-19, pemerintah menyarankan opsi kedua yaitu meminta panita mempertimbangkan penghentian sementara All England 2021.
Sebab, sebelumnya telah terjadi kontak antara para atlet dan tim ofisial.
Opsi ketiga, ujar Desra melanjutkan, jika angka positif Covid-19 yang dialami atlet atau tim pendukung cukup masif, pemerintah meminta panitia menghentikan All England 2021.
Menanggapi ketiga opsi tersebut, Hariyanto Arbi lebih memilih agar All England 2021 dibatalkan. Ia menyebut langkah itu sebagai bentuk keadilan.
"Opsi ditunda dan dibatalkan itu bisa saja. Tinggal BWF mau melakukannya atau tidak," tuturnya.
"Mendengar komentar Pak Anton Subowo (Presiden Badminton Asia), kalau ditunda agak susah karena arena disewa cuma sampai hari Senin. Kalau saya lebih setuju dihentikan saja."
"Maksud saya, pertandingannya dibatalkan semua kalau memang tidak bisa ditunda. Dibatalkan saja untuk keadilan karena ini bukan salah tim kita," tutur Hariyanto Arbi.