Mau Terapi Stem Cell? Boleh Saja, Asal Ketahui Dulu dari Mana Asalnya Halaman all - Kompas
7 min read
Mau Terapi Stem Cell? Boleh Saja, Asal Ketahui Dulu dari Mana Asalnya Halaman all - Kompas.com
KOMPAS.com - Stem cell atau sel punca telah banyak dilaporkan sebagai salah satu alternatif terapi yang menjanjikan untuk berbagai macam penyakit. Walau begitu, kita tetap harus waspada dari mana asal sel yang akan masuk ke tubuh itu.
Hingga saat ini, perawatan stem cell atau terapi sel punca terus dikembangkan oleh banyak praktisi medis dengan harapan dapat membantu perbaikan kerusakan sel tubuh.
Dijelaskan oleh Pendiri Yayasan Hayandra Peduli, sekaligus Doktor Biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr dr Karina SpBP-RE, ada stem cell yang memang perlu dikhawatirkan.
Jenis stem cell yang perlu dikhawatirkan adalah transfer sel dari orang ataupun hewan lainnya, meskipun telah dinyatakan baik dalam riset.
Bukan berarti Anda tidak diperbolehkan melakukan stem cell.
Hanya saja tempat atau laboratorium di mana stem cell itu dikembangkan, serta darimana asal sel yang akan Anda terima sebaiknya diketahui dengan baik.
Stem cell itu, kata dia, baik untuk perbaikan kerusakan sel tubuh yang mati, untuk penuaan, sistem imun, serta juga sebagai terapi pendukung agar terapi kanker bisa berlaku dengan efektif dan optimal di tubuh pasien.
"Tapi memang perlu agak cerewet ya, tanyain dulu ke dokternya stem cell nya sel apa dulu, hewan apa bagaimana," kata Karina dalam acara bertajuk Penemuan Terbaru Dunia Medis: Terapi Sel untuk Peremajaan Kulit dan Sistem Imun, Jakarta, Selasa (21/1/2020).
Hal itu dinyatakan oleh Karina, karena ia memiliki pasien yang melakukan stem cell di Jerman tetapi hasilnya juga tidak baik, karena stem cell itu berasal dari sel hewan.
"Ada satu pasien saya, kemarin stem cell (hewan) di Jerman untuk anti-aging, tapi hasilnya pulang-pulang mukanya banyak flek hitam, dan terus bertambah," ujar dia.
Hal itu dikarenakan, stem cell dari sel orang lain maupun hewan, kata dia, tidak akan memiliki kecocokan sel mencapai 100 persen kepada pasien yang akan melakukan terapi.
Oleh sebab itu, berbagai efek samping bisa saja terjadi, dan yang terjadi pada pasien yang disebut Karina hanyalah salah satunya saja.
"Kita saja, mengambil sel dari sumsum tulang belakang dengan saudara itu selnya cocok hanya sekitar 75 persen, dengan orang tua juga hanya mencapai 50 persen," ujarnya.
Untuk diketahui, ada sekitar 200 macam sel di dalam tubuh manusia.
Di antaranya stem cell yang merupakan induk dari semua sel, yaitu sel dendritic, sel NK, sel T, dan sel NKT.
"Sebagai sel induk dari semua sel, kerusakan sel tubuh bisa diperbaiki dengan stem cell," ujarnya.
Sementara itu, kerusakan sel dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti, diabetes, stroke, penuaan, parkinson, cerebal palsy, osteoarthritis, autoimun, kanker, autis, penyakit jantung, hingga gagal ginjal.
"Sudah banyak hasil studi yang membuktikan efektivitas stem cell," kata dia.
Meskipun, diakui Karina, memang masih ada perdebatan karena kekhawatiran terkait keamanan stem cell seperti risiko trombus dan stroke.
Namun, mengikuti perkembangan teknologi, Klinik Hayanda dan HayandraLab mengenalkan terapi regenerasi sel baru berupa terapi Stromal Vascular Fraction (SVF).
Terapi SVF ini sendiri telah banyak digunakan di sejumlah negara maju sebagai alternatif terapi pada kasus-kasus yang membutuhkan regenerasi sel tanpa khawatir risiko thombus ataupun stroke, dengan memanfaatkan sel tubuh pasien itu sendiri yang diproses dengan baik melalui teknologi.
Dalam prosesnya terapi ini memanfaatkan sel pasien yang bersangkutan, jadi kecocokan sel mencapai 100 persen, sehingga mudah diterima dan meregenerasi dalam sel tubuh yang rusak.
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
08:14
Mantan Menteri Dahlan Iskan Ajukan Diri Jadi Relawan Vaksin Nusantara - BERKAS KOMPAS (1)
02:21
Batuk Muncul Hanya Setiap Pagi, Apa Penyebabnya?
21:48
Mencegah Penyakit Kulit | AYO SEHAT
07:43
Pemkot Kupang Tetapkan Status Tanggap Darurat
10:39
Bencana NTT, BMKG: Waspada Januari-April Siklon Terjadi di Selatan
02:04
Meski Kubu Moeldoko Ditolak, AHY Ingatkan Kader Tetap Waspada, Jangan Lengah
01:06
Densus 88 Antiteror Tangkap 6 Terduga Teroris di Jawa Tengah
04:57
Pantauan Udara BNN Musnahkan 9 Hektare Ladang Ganja di Aceh
01:06
Polda Jabar Akan Olah TKP Untuk Usut Penyebab Kebakaran Kilang Pertamina Indramayu
04:24
PPKM Mikro DKI Jakarta Diperpanjang hingga 19 April 2021
01:20
Bisnis Restorasi Motor Tua Raup Pendapatan Puluhan Juta Setiap Bulan
02:24
3 Polisi Penembak Laskar FPI di KM 50 Jadi Tersangka, Polisi Janji Profesional dan Transparan
04:57
Pantauan Udara BNN Musnahkan 9 Hektare Ladang Ganja di Aceh
TAG:
[Category Opsi Informasi, Kesehatan]
[Tags Featured,Stem Cell]
KOMPAS.com - Stem cell atau sel punca telah banyak dilaporkan sebagai salah satu alternatif terapi yang menjanjikan untuk berbagai macam penyakit. Walau begitu, kita tetap harus waspada dari mana asal sel yang akan masuk ke tubuh itu.Hingga saat ini, perawatan stem cell atau terapi sel punca terus dikembangkan oleh banyak praktisi medis dengan harapan dapat membantu perbaikan kerusakan sel tubuh.
Dijelaskan oleh Pendiri Yayasan Hayandra Peduli, sekaligus Doktor Biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr dr Karina SpBP-RE, ada stem cell yang memang perlu dikhawatirkan.
Jenis stem cell yang perlu dikhawatirkan adalah transfer sel dari orang ataupun hewan lainnya, meskipun telah dinyatakan baik dalam riset.
Bukan berarti Anda tidak diperbolehkan melakukan stem cell.
Hanya saja tempat atau laboratorium di mana stem cell itu dikembangkan, serta darimana asal sel yang akan Anda terima sebaiknya diketahui dengan baik.
Stem cell itu, kata dia, baik untuk perbaikan kerusakan sel tubuh yang mati, untuk penuaan, sistem imun, serta juga sebagai terapi pendukung agar terapi kanker bisa berlaku dengan efektif dan optimal di tubuh pasien.
"Tapi memang perlu agak cerewet ya, tanyain dulu ke dokternya stem cell nya sel apa dulu, hewan apa bagaimana," kata Karina dalam acara bertajuk Penemuan Terbaru Dunia Medis: Terapi Sel untuk Peremajaan Kulit dan Sistem Imun, Jakarta, Selasa (21/1/2020).
Hal itu dinyatakan oleh Karina, karena ia memiliki pasien yang melakukan stem cell di Jerman tetapi hasilnya juga tidak baik, karena stem cell itu berasal dari sel hewan.
"Ada satu pasien saya, kemarin stem cell (hewan) di Jerman untuk anti-aging, tapi hasilnya pulang-pulang mukanya banyak flek hitam, dan terus bertambah," ujar dia.
Hal itu dikarenakan, stem cell dari sel orang lain maupun hewan, kata dia, tidak akan memiliki kecocokan sel mencapai 100 persen kepada pasien yang akan melakukan terapi.
Oleh sebab itu, berbagai efek samping bisa saja terjadi, dan yang terjadi pada pasien yang disebut Karina hanyalah salah satunya saja.
"Kita saja, mengambil sel dari sumsum tulang belakang dengan saudara itu selnya cocok hanya sekitar 75 persen, dengan orang tua juga hanya mencapai 50 persen," ujarnya.
Untuk diketahui, ada sekitar 200 macam sel di dalam tubuh manusia.
Di antaranya stem cell yang merupakan induk dari semua sel, yaitu sel dendritic, sel NK, sel T, dan sel NKT.
"Sebagai sel induk dari semua sel, kerusakan sel tubuh bisa diperbaiki dengan stem cell," ujarnya.
Sementara itu, kerusakan sel dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti, diabetes, stroke, penuaan, parkinson, cerebal palsy, osteoarthritis, autoimun, kanker, autis, penyakit jantung, hingga gagal ginjal.
"Sudah banyak hasil studi yang membuktikan efektivitas stem cell," kata dia.
Meskipun, diakui Karina, memang masih ada perdebatan karena kekhawatiran terkait keamanan stem cell seperti risiko trombus dan stroke.
Namun, mengikuti perkembangan teknologi, Klinik Hayanda dan HayandraLab mengenalkan terapi regenerasi sel baru berupa terapi Stromal Vascular Fraction (SVF).
Terapi SVF ini sendiri telah banyak digunakan di sejumlah negara maju sebagai alternatif terapi pada kasus-kasus yang membutuhkan regenerasi sel tanpa khawatir risiko thombus ataupun stroke, dengan memanfaatkan sel tubuh pasien itu sendiri yang diproses dengan baik melalui teknologi.
Dalam prosesnya terapi ini memanfaatkan sel pasien yang bersangkutan, jadi kecocokan sel mencapai 100 persen, sehingga mudah diterima dan meregenerasi dalam sel tubuh yang rusak.
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
slide 1 to 3 of 13
Mantan Menteri Dahlan Iskan Ajukan Diri Jadi Relawan Vaksin Nusantara - BERKAS KOMPAS (1)
Batuk Muncul Hanya Setiap Pagi, Apa Penyebabnya?
Mencegah Penyakit Kulit | AYO SEHAT
Pemkot Kupang Tetapkan Status Tanggap Darurat
Bencana NTT, BMKG: Waspada Januari-April Siklon Terjadi di Selatan
Meski Kubu Moeldoko Ditolak, AHY Ingatkan Kader Tetap Waspada, Jangan Lengah
Densus 88 Antiteror Tangkap 6 Terduga Teroris di Jawa Tengah
Pantauan Udara BNN Musnahkan 9 Hektare Ladang Ganja di Aceh
Polda Jabar Akan Olah TKP Untuk Usut Penyebab Kebakaran Kilang Pertamina Indramayu
PPKM Mikro DKI Jakarta Diperpanjang hingga 19 April 2021
Bisnis Restorasi Motor Tua Raup Pendapatan Puluhan Juta Setiap Bulan
3 Polisi Penembak Laskar FPI di KM 50 Jadi Tersangka, Polisi Janji Profesional dan Transparan
Pantauan Udara BNN Musnahkan 9 Hektare Ladang Ganja di Aceh
TAG:
[Category Opsi Informasi, Kesehatan]
[Tags Featured,Stem Cell]