0
Terkini
    Home Tidak Ada Kategori

    Pakar sebut vaksin kurangi risiko gejala berat hingga kematian - Antara News

    3 min read

    Pakar sebut vaksin kurangi risiko gejala berat hingga kematian
    Sejumlah warga Pulau Pramuka dan Pulau Panggang menunggu giliran untuk mendapatkan vaksin COVID-19 di dek tank KRI Teluk Youtefa-522 yang lego jangkar saat Operasi Serbuan Vaksinasi Masyarakat Maritim di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, JumatSejumlah warga Pulau Pramuka dan Pulau Panggang menunggu giliran untuk mendapatkan vaksin COVID-19 di dek tank KRI Teluk Youtefa-522 yang lego jangkar saat Operasi Serbuan Vaksinasi Masyarakat Maritim di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat
    "Vaksin tidak membuat seseorang bebas dari paparan COVID-19. Namun dengan vaksinasi bisa menurunkan risiko berat atau bahkan kematian,"...
    Jakarta (ANTARA) - Ahli Virologi dan Molekuler Biologi Universitas Udayana Prof I Gusti Ngurah Mahardika mengatakan vaksin COVID-19 bisa menurunkan risiko berat bahkan kematian bagi para penerima manfaat.
    "Vaksin tidak membuat seseorang bebas dari paparan COVID-19. Namun dengan vaksinasi bisa menurunkan risiko berat atau bahkan kematian," kata Mahardika melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat malam.
    Mahardika mengatakan vaksin juga mampu mengurangi tekanan terhadap rumah sakit karena meringankan gejala infeksi pada pasien. "Untuk itu amat penting untuk divaksin untuk mengurangi risiko berat," ujarnya.
    Dalam keterangan tersebut Mahardika melaporkan hasil pemantauan efektivitas vaksin yang dilakukan kepada penduduk DKI Jakarta pada kurun waktu 12 Januari sampai 8 Juli 2021.
    Dari total 3,21 juta yang telah menerima dosis pertama, 15.088 di antaranya dilaporkan tetap terinfeksi COVID-19 atau sebesar 0,47 persen. 
    Baca juga: Total 17.154.145 orang sudah divaksinasi COVID-19 dosis lengkap 
    Baca juga: Panglima TNI instruksikan mempercepat vaksinasi dan distribusi obat
    Sementara pasien yang tidak bergejala, sebanyak 8.051 orang dan yang memiliki gejala 6.658 orang. Adapun pasien yang meninggal dunia sebanyak 50 orang atau 0,0016 persen.
    Mahardika juga melaporkan dari 1,94 juta penerima dosis vaksin kedua, yang tetap terinfeksi sebanyak 1.896 atau sekitar 0,1 persen.
    Dari jumlah tersebut, sebanyak 837 tidak bergejala dan sebanyak 1,055 bergejala. Sementara yang meninggal dunia sebanyak 4 orang atau 0,0002 persen.
    Menyinggung masih tingginya angka kematian harian di Indonesia, menurut Prof Mahardika, efek vaksinasi memang baru terlihat terhadap laju penyebaran COVID-19 jika yang divaksin minimal 50 persen dari total populasi.
    Mahardika mencontohkan, di negara yang capaian vaksinasi COVID-19 di atas 50 persen, seperti Amerika Serikat dan Inggris, angka kematian rendah walau lonjakan kasus positif kembali tinggi.
    Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, kata Mahardika, jumlah yang menerima vaksinasi dosis pertama sebanyak 43,1 juta. Sementara untuk dosis kedua mencapai 16,8 juta. "Jadi sudah hampir 60 juta dosis yang sudah disuntikkan," katanya. 
    Baca juga: Pemkot Jakbar kekurangan tenaga medis untuk vaksinasi warga Kalideres

    [Category Opsi Informasi, Kesehatan]
    [Tags Featured, Coronavirus, Covid-19, Vaksin Covid-19]
    Komentar
    Opsi Network
    powered by Surfing Waves
    Additional JS