Duga Perdagangan Orang, BP2MI Investigasi Kapal Tenggelam di Malaysia By JAWAPOS
Duga Perdagangan Orang, BP2MI Investigasi Kapal Tenggelam di Malaysia
:extract_focal()/https%3A%2F%2Fcdn-asset.jawapos.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F07%2FPencarian-kapal-tenggelam.jpg)
JawaPos.com – Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencium ada praktik perdagangan orang dalam insiden kapal tenggelam di Johor Bahru. Seperti diketahui dalam kejadian ini, data sementara ada 21 orang WNI meninggal. Mereka diduga kuat para pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal.
Direktur Penempatan Kawasan Amerika dan Pasifik BP2MI Yana Anusasana Dharma Erlangga mengatakan mereka melakukan upaya perlindungan menyeluruh. Termasuk menangani kasus tenggelamnya kapal pengangkut PMI di Johor Bahru itu.
“Kasus ini merupakan tindak pidana perdagangan orang,” tuturnya dalam Upacara Penyerahan Ijazah (UPI) mahasiswa Universitas Terbuka Korea Selatan secara virtual Minggu (19/12).
Yana menuturkan jumlah korban kecelakaan yang terjadi pada 15 Desember itu terus bertambah. Laporan terkini jumlah korban meninggal mencapai 21 orang. Kapal tersebut berangkat dari Tanjung Balau yang berada 90 km dari pelaburan resmi Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Dia mengatakan BP2MI melakukan investigasi atas kejadian tersebut.
Dari kejadian itu, Yana mengatakan para calon PMI maupun yang sudah bekerja di luar negeri, perlu mendapatkan bekal pendidikan. Supaya tidak menjadi korban perdagangan orang.
Dengan bekal ilmu, para PMI maupun calon PMI bisa mengetahui ketentuan-ketentuan hukum bekerja di luar negeri. Untuk itu Yana mengapresiasi para PMI yang bekerja sambil kuliah.
“Pendidikan ini penting. Bisa membuka kesempatan bekerja yang lebih luas dan beragam,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu total ada 77 orang yang diwisuda. Keseluruhannya adalah PMI yang bekerja di Korea Selatan. Yana mengakui menyisihkan waktu di tengah-tengah kesibukan bekerja untuk kuliah, butuh komitmen yang kuat.
Dalam kesempatan itu Yana juga menyampaikan pengiriman PMI ke luar negeri tetap berjalan di tengah Pandemi Covid-19. “Selasa 14 Desember lalu, kami melepas 50 pekerja migran menuju Korsel. Mereka bekerja di sektor manufaktur,” jelasnya.
Menurut dia, pemberangkatan ini merupakan sebuah terobosan penting di tengah Pandemi Covid-19 yang belum usai. Kepala Pusat Pengembangan Hubungan Internasional dan Kemitraan Universitas Terbuka Sri Sedyaningsih menyampaikan wisuda atau UPI kali ini berada pada momen peringatan Hari Migran Internasional.
Tahun ini tema Hari Migran Internasional yang diangkat adalah Migran Berdaya, Keluarga Sejahtera, Indonesia Jaya. Menurut dia PMI adalah perwakilan bangsa, sehingga tetap berhak mendapatkan hak-haknya. Termasuk di sektor pendidikan tinggi.