Kemenkes Bantah Hepatitis Akut Akibat Vaksin Covid-19 - Beritasatu
Kemenkes Bantah Hepatitis Akut Akibat Vaksin Covid-19
Kamis, 5 Mei 2022 | 16:42 WIB
Oleh: Hendro D Situmorang / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membantah bahwa kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak akibat pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Hingga saat ini memang belum diketahui penyebab yang membuat tiga pasien anak yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr Cipto Mangunkusumo meninggal dunia.
Hal tersebut disampaikan oleh ilmuwan utama untuk kasus ini sekaligus Guru Besar Kesehatan bidang Gastrohepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Hanifah Oswari Prof dr Hanifah Oswari pada acara konferensi pers daring di Jakarta (5/5/2022)
“Kejadian ini dihubungkan dengan vaksin Covid-19 itu tidak benar, karena kejadian saat ini tidak ada bukti bahwa itu (hepatitis akut) berhubungan dengan vaksinasi Covid-19,” ungkapnya.
Lebih lanjut Prof Hanifah menyampaikan bahwa sampai saat ini juga belum ada bukti yang menunjukkan adanya kaitan penyakit hepatitis akut, yang belum diketahui penyebabnya, dengan virus Covid-19, melainkan adanya kejadian yang koinsiden (bersamaan).
Menurutnya ada jenis virus yang diduga berada di balik penyakit yang telah ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai kejadian luar biasa ini, yaitu Adenovirus tipe 41, Cytomegalovirus (CMV), dan Epstein Barr Virus (EBV), termasuk SARS-CoV-2 atau Covid-19.
"Memang ada berhubungan dengan virus, tapi itupun belum diberikan informasi bahwa itu berhubungan secara langsung. Jadi virus-virus yang tadi kita sebutkan itu diduga karena masih mungkin itu kejadian yang bersamaan, tapi bukan sebagai penyebab langsungnya. Karena itu menghubungkan virus Covid-19 sendiri dengan penyakitnya sudah belum bisa ditentukan, apalagi dengan vaksin Covid-19. Berita seperti itu saya kira perlu diluruskan," papar pakar kesehatan anak ini.
Sebagai upaya peningkatan kewaspadaan, pencegahan, dan pengendalian infeksi hepatitis akut pada anak, pemerintah telah menerapkan beberapa hal, di antaranya dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/2515/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology).
Selain itu, Kemenkes telah menunjuk antara lain Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso dan Laboratorium Fakultas Kedokteran UI sebagai laboratorium rujukan untuk pemeriksaan spesimen.
Pemerintah juga meminta seluruh tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi, khususnya untuk infeksi virus. Selain itu juga diharapkan adanya rumah sakit rujukan di setiap kabupaten.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy juga meminta agar berita hoax dengan vaksinasi Covid-19 untuk anak harus diantisipasi.
"Perlu tindakan preventif dan kuratif menangani gejala hepatitis akut yang menjadi persoalan global di negara lain terutama negara maju," kata Muhadjir.
Juru Bicara Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan bahwa pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan investigasi kontak untuk mengetahui faktor risiko terhadap tiga kasus hepatitis akut pada anak.
“Berdasarkan hasil investigasi kontak terhadap kasus yang meninggal dunia, ketiganya datang ke fasilitas kesehatan pada kondisi stadium lanjut, sehingga hanya memberikan sedikit waktu bagi tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan pertolongan” ungkap dr Nadia.
Pada ketiga kasus ini, anak berusia 2 tahun belum mendapatkan vaksinasi hepatitis, usia 8 tahun baru mendapatkan vaksinasi satu kali, dan usia 11 tahun sudah mendapatkan vaksinasi. Ketiganya negatif Covid-19. Berdasarkan hasil investigasi juga didapati bahwa satu kasus memiliki penyakit penyerta.
“Sampai saat ini ketiga kasus ini belum bisa kita golongkan sebagai penyakit hepatitis akut dengan gejala berat tadi, tetapi masuk pada kriteria pending klasifikasi karena masih ada pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan terutama pemeriksaan adenovirus dan pemeriksaan Hepatitis E yang membutuhkan waktu antara 10 sampai 14 hari ke depan,” urainya.
Selain itu, tambah Nadia tidak ditemukan riwayat hepatitis dari anggota keluarga lain dari ketiga anak. Dan tidak ditemukan anggota keluarga lain yang memiliki gejala sama. Keluhan utama yang disampaikan dari saluran cerna, mengalami keluhan mual, muntah, dan diare hebat.
Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini
Sumber: BeritaSatu.com