Warga Jateng Diduga Tertular Cacar Monyet, Kini Diisolasi dan Tes PCR - Jawa Pos
Warga Jateng Diduga Tertular Cacar Monyet, Kini Diisolasi dan Tes PCR

JawaPos.com – Seorang warga Jawa Tengah mengalami gejala mirip cacar monyet. Dinas Kesehatan setempat tengah melakukan pemeriksaan untuk memastikan kebenarannya. Kementerian Kesehatan sudah mendapatkan laporan atas kasus tersebut.
Identitas hingga jenis kelamin pasien tersebut belum diungkap. Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyatakan warga yang tertular penyakit cacar monyet tersebut statusnya masih sebatas suspect atau bergejala.
Gejala yang dirasakan seperti cacar pada umumnya. Ada temuan bahwa satu warga berstatus suspect cacar monyet dengan kondisi tubuh yang dipenuhi cacar mulai dari kepala sampai kakinya menurut laporan Dinkes Jateng.
Gejala lainnya, pasien mengalami demam. Untuk saat ini, pasien tersebut kini sedang menjalani isolasi di salah satu rumah sakit wilayah Pantura.
Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril membenarkan kabar itu. Menurutnya, pasien baru bersifat dugaan dan kini masih diisolasi.
“Ya, itu baru suspect dan saat ini dirawat isolasi untuk perawatan,” kata Syahril kepada JawaPos.com, Rabu (3/8).
Dan pemeriksaan lanjut, kata dia, untuk memastikan cacar monyet atau bukan, maka akan dilakukan pemeriksaan lab PCR kepada pasien. Sebab menurutnya, bisa saja penyakit itu hanya cacar biasa.
“Untuk memastikannya. Bisa saja hanya cacar biasa atau penyakit lain bukan monkeypox. Tunggu saja ya,” kata Syahril.
Beda Cacar Monyet dan Cacar Biasa
Virus monkeypox merupakan anggota genus Orthopoxvirus dalam keluarga Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar Smallpox) dan virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar Smallpox atau cacar biasa).
Dalam laman Kementerian Kesehatan disebutkan perbedaan utama kedua penyakit ini terletak pada gejalanya. Salah satunya ditandai dengan adanya pembengkakan kelenjar getah bening.
“Pada Monkeypox ada limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), sedangkan pada Smallpox atau cacar biasa tidak ada,” kata Kemenkes.
Editor : Edy Pramana
Reporter : Marieska Harya Virdhani