0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Tidak Ada Kategori

    Ahli: Obat Sirop Bukan Tersangka Tunggal Gagal Ginjal Akut - Idntimes

    4 min read

    Ahli: Obat Sirop Bukan Tersangka Tunggal Gagal Ginjal Akut

    Ahli: Obat Sirop Bukan Tersangka Tunggal Gagal Ginjal Akut

    "Problem utamanya adalah sebagian besar bahan baku yang digunakan adalah impor ... Cara pembuatan obat yang baik (CPOB) harus dikontrol. Namun, apakah ada regulasi yang memungkinkan lolos atau dibolehkan tak melakukan kontrol? Saya tidak tahu dan harus ditelusuri," tuturnya.

    Ahli: Obat Sirop Bukan Tersangka Tunggal Gagal Ginjal Akut
    ilustrasi permen (pexels.com/Foodie Factor)

    Sementara dalam produk farmasi kadar cemaran etilen glikol, dietilen glikol, dan EGBE dibatasi minim, Prof. Gelgel Wirasuta mengatakan bahwa dalam makanan, kadar cemaran lebih tinggi. Sebagai perbandingan, kalau obat diizinkan 0,1 persen, makanan adalah 1 persen atau 10 kali lipat dari batas obat.

    "Makanan kan dikonsumsi lebih banyak ... Sediaan farmasi bukan tersangka tunggal dalam masalah ini."

    Ia menjelaskan bahwa untuk acceptable daily intake (ADI), gliserol dan sorbitol dibatasi hingga 25ml/kg berat badan. Cemaran etilen glikol dibatasi 1 persen dari kadar tersebut. Ia menekankan, dalam makanan, BPOM RI memperbolehkan 4,5 persen.

    5. Lalu, kenapa banyak kasus pada anak?

    Mayoritas kasus GgGAPA menimpa balita usia 1 sampai 5 tahun. Prof. Gelgel Wirasuta mempermasalahkan mengapa balita banyak terkena. Menurutnya, ada tiga kemungkinan, yaitu:

    • Organ balita belum lengkap untuk melindungi tubuh.
    • Sistem metabolisme anak belum sempurna.
    • Perubahan pasca-COVID-19.

    Ia mencatat bahwa selama pandemik, memang 3 persen anak positif COVID-19. Akan tetapi, sebanyak 30 persen anak memiliki antibodi SARS-CoV-2 lebih tinggi, sehingga anak tersebut sudah terpapar virus tetapi asimtomatik. Hal ini menyebabkan perubahan dalam tubuh pasien.

    "Terjadi perubahan di tubuh pasien, meningkatkan kepekaan pasien terhadap racun. Sedikit saja di luar ambang batas jadi masalah," katanya.

    Menurut studi lampau pada 1992, tercatat gangguan sistem metabolisme etilen glikol di kalangan bayi. Apakah ini memang yang terjadi di Indonesia? Prof. Gelgel Wirasuta menekankan perlunya mencari tahu apakah COVID-19 atau kelainan metabolisme yang meningkatkan risiko keracunan ketiga senyawa toksik tersebut.

    Ahli: Obat Sirop Bukan Tersangka Tunggal Gagal Ginjal Akut
    ilustrasi urine (freepik/drobotdean)

    Lewat pengujian toksisitas akut terhadap hewan, Prof. Gelgel Wirasuta mengatakan bahwa metabolit EGBE atau (2-butoxyacetic acid atau BAA) mengakibatkan keracunan dan hemolisis intravaskuler. Sementara itu, dalam beberapa kasus, etilen glikol menyebabkan pengkristalan kalsium oksalat di urine.

    Kemudian, tanda lainnya adalah tersumbatnya ginjal dan limpa. BAA menyebabkan pembengkakan sel darah merah dan hemolisis. Inilah yang menyebabkan anemia hemolitik dan hemoglobinuria yang ditandai dari urine kemerahan atau kecokelatan.

    "Itu [anemia hemolitik] bisa balik cepat. Namun, kalau ginjalnya sudah rusak, ini yang agak sulit," ia menerangkan.

    6. Orang tua dianjurkan untuk waspada dan rasional

    Sementara mencari penyebab GgGAPA adalah hal penting, Prof. Gelgel Wirasuta  mencatat bahwa hal yang tak kalah penting adalah edukasi masyarakat. Bagi orang tua yang memiliki balita, penting untuk menyadari bahwa sistem tubuh dan metabolisme anak belum sempurna.

    "Hati-hatilah memberi asupan pangan anak ... Hati-hati membeli jajanan yang tersedia di pasar ... Buatlah pangan anak yang dimasak sendiri. Tidak apa-apa repot, yang penting sehat. Kita tahu sumbernya jelas," sarannya.

    Jika anak sakit, jangan langsung beli obat, melainkan konsultasi dulu ke dokter dan ahli lainnya. Kala anak menunjukkan gejala (seperti diare, demam, dan produksi urine berkurang atau berubah warna kemerahan atau kecokelatan), segera bawa anak ke dokter.

    Ahli: Obat Sirop Bukan Tersangka Tunggal Gagal Ginjal Akut
    ilustrasi memeriksakan anak ke dokter (pexels.com/Los Muertos Crew)

    Ada tiga fase keracunan ginjal:

    • Pra-renal.
    • Renal.
    • Pasca-renal.

    Jika gejala sudah masuk ke fase renal dan pasca-renal, Prof. Gelgel Wirasuta mencatat bahwa kondisi sudah sulit dikembalikan dan risiko kematian lebih besar.

    Pada fase pra-renal dan urine berwarna kemerahan atau kecokelatan tanpa sebab, ini berarti sel darah merah mengalami hemolisis sehingga terjadi hemoglobinuria.

    "Segera bawa ke RS agar bisa ditangani dengan tindakan pertolongan pertama hemodialisis," katanya.

    7. Mari tidak saling menyalahkan

    Kepada para produsen konsumsi dan obat, Prof. Gelgel Wirasuta mengacu ke UU no. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Jadi, informasi label tentang penggunaan bahan tambahan harus transparan. Jika ada polietilen glikol, profilen glikol, gliserin, dan sorbitol, maka harus dicantumkan sehingga masyarakat waspada.

    Meski begitu, ia menyarankan masyarakat untuk tidak saling tuduh. Karena COVID-19 dan perang Rusia-Ukraina, industri terpaksa melakukan perubahan bahan baku. Ia memuji langkah BPOM RI, Kemenkes RI, dan IDAI yang telah mengeluarkan edaran dan rekomendasi.

    "Dari imbauan saja sudah amat bermakna karena terjadi penurunan kasus secara signifikan," katanya.


    [Category Opsiin, Media Informasi]
    [Tags Gagal Ginjal, Gagal Ginjal Akut, Featured, Pilihan, Kesehatan]

    Komentar
    Additional JS