Risiko Lelah Berkepanjangan Intai Pasien Demam Berdarah Dengue - Beritasatu
Risiko Lelah Berkepanjangan Intai Pasien Demam Berdarah Dengue
Senin, 17 Oktober 2022 | 14:03 WIB
Oleh: CLA

Jakarta, Beritasatu.com - Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangungkusumo, Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, PhD, SpPD, K-PTI mengatakan, ada risiko lelah berkepanjangan pada pasien demam berdarah dengue dengan infeksi yang berat.
"Ada gejala-gejala yang muncul akibat infeksi demam berdarah yang berat, maka ada fase pemulihan yang berjalan perlahan sehingga menimbulkan gejala rasa lelah yang berkepanjangan," ujar dr. Erni dalam sebuah diskusi media secara daring, Senin, (17/10/2022).
Studi dari peneliti di Malaysia dalam The American Society of Tropical Medicine and Hygiene menunjukkan, kelelahan yang mengakibatkan penurunan kapasitas untuk bekerja umumnya terjadi selama tahap akut demam berdarah dan dapat bertahan selama beberapa minggu setelah pemulihan.
Demam berdarah menyebabkan demam tinggi, yakni 40 derajat Celsius disertai beberapa gejala lain, seperti:
- Sakit kepala
- Nyeri otot, tulang atau sendi
- Mual
- Muntah
- Sakit di belakang mata
- Ruam di kulit
Kebanyakan pasien dapat pulih dalam waktu seminggu atau lebih. Tetapi, dalam beberapa kasus, gejala bisa memburuk dan dapat mengancam jiwa, dan ini disebut demam berdarah parah, demam berdarah dengue atau sindrom syok dengue.
Demam berdarah yang parah terjadi ketika pembuluh darah pasien menjadi rusak dan bocor dan jumlah trombosit dalam aliran darah turun. Kondisi ini dapat ditandai dengan adanya sakit perut parah, muntah terus-menerus, pendarahan dari gusi atau hidung, ada darah dalam urine, tinja, atau muntah, adanya perdarahan di bawah kulit yang mungkin terlihat seperti memar, pernapasan yang sulit atau cepat, dan kelelahan.
Erni mengatakan, pada pasien dengan kondisi komorbid seperti diabetes, darah tinggi, dan asma, dapat mengalami perjalanan penyakit yang lebih berisiko dibandingkan pasien tanpa penyakit penyerta,
"Jika ada komorbid, maka bisa membuat dokter yang merawat akan lebih deg-degan, dan harus berhati-hati dalam memantau kondisi sehari-hari, seperti pemberian cairan, perdarahan, dan gejalanya," ujar dr. Erni.
Hingga saat ini tidak ada obat untuk demam berdarah termasuk antivirus. Dokter biasanya akan memberikan pengobatan sesuai gejala semisal memberikan cairan cukup bila tekanan darah pasien turun, mengatasi perdarahan yang terjadi, dan memberikan obat-obatan simtomatik sampai pasien bisa pulih.
"Angka kesakitan tinggi menyebabkan orang harus dirawat di rumah sakit. Akan sulit bekerja dengan suhu yang tinggi, atau saat kondisinya membaik, tetapi lemas sekali karena tensinya terlalu rendah," tutur Erni.
Terkait pencegahan kondisi menjadi lebih berat, saat ini tersedia vaksin dengue yang dapat diberikan pada usia hingga dewasa tanpa harus terlebih dulu memeriksakan kadar antibodi. Vaksin ini nantinya merangsang antibodi untuk mengenali virus.
"Sehingga lebih cepat mengatasi penyakitnya. Vaksin tidak membuat kebal, tetapi membuat sakit menjadi lebih ringan. Dengan memberikan vaksinasi, kita harapkan kejadian infeksi yang menjadi berat akan turun," pungkas Erni.
Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini
Sumber: ANTARA
[Category Opsiin, Media Informasi]
[Tags Demam Berdarah Dengue, DBD, Kesehatan, Featured, Pilihan]