Skip to main content
728

Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Tensi di Timur Tengah Berkurang - Tirto

 Internasional

Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Tensi di Timur Tengah Berkurangn

tirto.id - Harga minyak dunia anjlok 1 persen pada hari Senin (30/6/2025) karena risiko geopolitik di Timur Tengah mereda. Pelemahan ini juga ditandai adanya kenaikan produksi OPEC+ pada Agustus mendatang yang meningkatkan prospek pasokan global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 66 sen, atau 0,97 persen, menjadi 67,11 dolar AS per barel pada pukul 00.31 GMT, menjelang berakhirnya kontrak bulan Agustus pada hari Senin. Kontrak September yang lebih aktif berada pada harga 65,97 dolar AS, turun 83 sen.

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 94 sen, atau 1,43 persen, menjadi 64,58 dolar AS per barel.

Pekan lalu, kedua acuan tersebut membukukan penurunan mingguan terbesar sejak Maret 2023. Akan tetapi keduanya pada Juni tetap membukukan kenaikan bulanan berturut-turut dengan penguatan lebih dari 5 persen.

Lonjakan harga minyak sempat terjadi usai konflik bersenjata selama 12 hari. Ini dimulai dengan Israel yang menargetkan fasilitas nuklir Iran pada 13 Juni 2025 lalu.

Kondisi di atas menyebabkan harga Brent melonjak hingga 80 dolar AS per barel setelah AS mengebom fasilitas nuklir Iran. Kemudian merosot ke 67 dolar AS setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata Iran-Israel.

"Pasar telah menghilangkan sebagian besar premi risiko geopolitik yang tertanam dalam harga setelah gencatan senjata Iran-Israel," kata analis pasar IG Tony Sycamore dalam sebuah catatan.

Tekanan tambahan datang dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang berencana meningkatkan produksi minyak sebesar 411.000 barel per hari mulai Agustus 2025. Kenaikan ini mengikuti tren serupa yang telah dilakukan pada bulan Mei, Juni, dan Juli.

Langkah ini menjadi kali kelima OPEC+ menambah produksi sejak mereka mulai mengurangi kebijakan pemangkasan produksi pada April lalu. Keputusan lanjutan akan dibahas dalam pertemuan resmi mereka pada 6 Juli mendatang.

Sementara itu, di Amerika Serikat, aktivitas pengeboran minyak justru menunjukkan penurunan. Menurut data dari Baker Hughes, jumlah rig minyak yang aktif turun sebanyak enam unit menjadi 432 rig—angka terendah sejak Oktober 2021.


tirto.id - Ekonomi

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Hendra Friana

Posting Komentar

0 Komentar

728