0
News
    Home Bandung Barat Bencana Berita Cisarua Featured Lintas Peristiwa Longsor Spesial

    Ahli: Longsor Cisarua Dipicu Geologi dan Alih Fungsi Lahan - GenPI

    4 min read

     

    Ahli: Longsor Cisarua Dipicu Geologi dan Alih Fungsi Lahan

    GenPI.co - Longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, bukan sekadar bencana hidrometeorologi biasa, tetapi ada kombinasi geologi purba dan kejenuhan air tanah.

    Hal ini diungkapkan Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria mengenai penyebab longsor di Cisarua.

    "Karakteristik tanah di lokasi kejadian, sebuah bom waktu geologis yang akhirnya meledak," kata Lana, Senin (26/1).

    BACA JUGA:  Dedi Mulyadi Usul Daerah Longsor di Cisarua, Dijadikan Hutan

    Lana menjelaskan adanya kombinasi fatal antara struktur geologi purba yang rapuh dan kejenuhan air tanah yang memicu kegagalan lereng di kawasan Cisarua yang padat penduduk.

    Dia membeberkan berdasarkan analisis data sekunder dan deskwork, menjelaskan lokasi bencana di koordinat LS 6,796861° dan BT 107,539694°.

    BACA JUGA:  2 Polisi Meninggal saat Menuju Lokasi Longsor Cisarua, Diberi Kenaikan Pangkat

    Lokasi ini berdiri di atas satuan batuan Formasi Endapan Gunungapi Tua Tidak Terpisahkan (QVu).

    "Satuan ini umumnya terdiri atas breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, serta material piroklastik yang telah mengalami pelapukan kuat," beber dia.

    BACA JUGA:  Alih Fungsi Hutan Diduga Picu Longsor Cisarua, Wagub Jabar Akan Tindak Tegas

    Dia mengungkapkan pelapukan batuan vulkanik ini menurunkan kuat geser tanah secara drastis.

    Kondisi ini diperparah keberadaan struktur geologi berupa sesar serta rekahan berarah barat laut-tenggara.

    Menurut dia, celah-celah mikroskopis ini menjadi jalan tol bagi air hujan untuk masuk jauh ke dalam tanah.

    Hal ini menciptakan bidang-bidang lemah yang siap menggelincirkan jutaan ton material tanah kapan saja.

    Dia menyebut faktor pemicu utama lain adalah curah hujan tinggi. Selain itu, dia menyebut aktivitas manusia ikut mempercepat proses ini.

    “Tata guna lahan yang didominasi permukiman dan pertanian, ditambah pemotongan lereng untuk jalan tanpa sistem drainase memadai, telah mengganggu kestabilan lereng alami yang kemiringannya mencapai lebih dari 40 derajat di beberapa titik,” jelas dia.(ant)


    Komentar
    Additional JS