0
News
    Home AHY Bencana Berita Featured Lintas Peristiwa Spesial Sumatera

    AHY: Pemulihan Bencana Sumatera Dimulai dari Rumah, KemenPU Bangun Hunian Sementara - Merdeka

    6 min read

     

    AHY: Pemulihan Bencana Sumatera Dimulai dari Rumah, KemenPU Bangun Hunian Sementara



    Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY menegaskan bahwa Pemulihan Bencana Sumatera harus berpusat pada penyediaan rumah bagi korban, mendorong pembangunan hunian sementara yang layak dan inovatif.

    Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY menegaskan bahwa Pemulihan Korban Bencana Sumatera harus berpusat pada penyediaan rumah, seperti hunian sementara (Huntara) di Aceh Tamiang.
    Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY menegaskan bahwa Pemulihan Korban Bencana Sumatera harus berpusat pada penyediaan rumah, seperti hunian sementara (Huntara) di Aceh Tamiang. (AntaraNews)

    Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menekankan pentingnya memulai Pemulihan Bencana Sumatera dari penyediaan rumah bagi para korban. Pernyataan ini disampaikan AHY saat meninjau lokasi bencana di Aceh Tamiang, Kamis (22/1/2026), menegaskan bahwa rumah merupakan aspek fundamental bagi kehidupan masyarakat.

    Kunjungan AHY di Aceh Tamiang bertepatan dengan peresmian hunian sementara (Huntara) yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) di lahan Kompleks Perkantoran Pemerintahan Kabupaten Aceh Tamiang. Huntara ini merupakan bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh dan Sumatera.

    Atas arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan bersama KemenPU serta kementerian/lembaga terkait lainnya bergerak cepat dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Fokus utama adalah memastikan masyarakat terdampak memiliki tempat tinggal yang layak, meskipun bersifat sementara, demi mengembalikan aktivitas normal mereka.

    Pentingnya Hunian dalam Rehabilitasi Pasca Bencana

    AHY menegaskan bahwa rumah adalah segalanya bagi masyarakat, dan banyak hunian warga yang rusak, hancur, bahkan hilang akibat bencana. Oleh karena itu, proses Pemulihan Bencana Sumatera harus diprioritaskan pada penyediaan tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi para korban.

    Arahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan KemenPU di garis depan dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Hal ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk tidak hanya memperbaiki infrastruktur dasar, tetapi juga memastikan kebutuhan primer masyarakat terdampak terpenuhi secara menyeluruh.

    Selain perbaikan jalan dan jembatan agar tidak ada lagi daerah terisolir, sarana prasarana pendidikan, kesehatan, dan rumah ibadah juga menjadi perhatian penting. Namun, AHY kembali menekankan bahwa hunian tetap menjadi fondasi utama agar masyarakat dapat beraktivitas seperti sedia kala, bahkan jika sifatnya sementara, diharapkan jauh lebih baik dari kondisi pengungsian.

    Spesifikasi dan Fasilitas Hunian Sementara yang Inovatif

    Hunian sementara (Huntara) yang diresmikan di Aceh Tamiang menunjukkan inovasi dalam konstruksi dan fasilitas. AHY mengapresiasi bahan konstruksi Huntara yang dirancang untuk bertahan hingga 10 tahun, serta dapat dibongkar dan digunakan kembali di lokasi lain jika tidak lagi diperlukan.

    Standar hunian ini juga telah disesuaikan dengan iklim tropis, dilengkapi sirkulasi ventilasi udara yang baik. Di bawah atap dilapisi aluminium foil untuk memantulkan panas matahari, serta dipasang turbin manual di atas atap untuk mengalirkan hawa panas dari plafon, menciptakan kenyamanan bagi penghuni.

    Setiap kamar Huntara berukuran 3x6 meter, dilengkapi dengan dua tempat tidur, satu lemari, dan kipas angin. Kompleks Huntara di belakang Gedung DPRK Aceh Tamiang ini memiliki luas lahan 5.427 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 12.418 meter persegi, terdiri dari tujuh blok yang mampu menampung 336 orang atau 84 kepala keluarga.

    Proyek pembangunan Huntara ini juga menyerap sekitar 600 tenaga kerja, dengan 250 pekerja lokal dan 250 pekerja dari luar daerah. Pembangunannya diselesaikan dalam waktu relatif singkat, yakni dua minggu atau 18 hari termasuk waktu pembersihan lahan. Selain itu, Huntara ini bukan hanya menyediakan tempat tidur layak, tetapi juga fasilitas pendukung utama seperti kamar mandi/toilet, dapur bersama, serta taman ceria untuk anak-anak dan keluarga, mendukung proses pemulihan fisik dan mental.

    Kolaborasi dan Dampak Positif bagi Masyarakat

    AHY menyampaikan apresiasi tinggi kepada KemenPU yang telah berkolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga lain dalam membangun soliditas kemanusiaan. Kolaborasi ini menunjukkan solidaritas pemerintah bersama masyarakat yang terdampak bencana, memastikan penanganan yang komprehensif.

    Bupati Aceh Tamiang, Armia Fahmi, menyatakan bahwa 84 kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal sepenuhnya akibat banjir bandang akan segera menempati Huntara modular ini. Total 336 jiwa akan tertampung, memberikan mereka harapan baru setelah kehilangan rumah.

    Penyediaan Huntara ini diharapkan tidak hanya memulihkan kondisi fisik korban bencana, tetapi juga memulai proses penyembuhan psikologis. Lingkungan hunian yang nyaman dan fasilitas pendukung yang memadai menjadi kunci penting dalam membantu masyarakat bangkit dari trauma bencana.

    Sumber: AntaraNews


    Komentar
    Additional JS