0
News
    Home Dunia Internasional Featured Indramayu Korea Selatan Spesial

    Aksi Kemanusiaan Nelayan Indramayu di Korea Selatan Berbuah Penghargaan Presiden - Kabar Indramayu

    4 min read

     

    Aksi Kemanusiaan Nelayan Indramayu di Korea Selatan Berbuah Penghargaan Presiden - Kabar Indramayu



    KABARINDRAMAYU - Nama Sugianto mendadak menjadi perbincangan lintas negara. Pria asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan di Korea Selatan itu membuktikan bahwa keberanian dan kemanusiaan tak mengenal batas profesi maupun kewarganegaraan.

    Dari kehidupan sederhana sebagai pekerja migran, Sugianto melangkah ke panggung kehormatan negara setelah aksinya menyelamatkan nyawa warga Korea Selatan mendapat pengakuan langsung dari presiden setempat.

    Sugianto selama ini menjalani hidup jauh dari sorotan. Ia bekerja mencari ikan di perairan Korea Selatan untuk menghidupi keluarga, menjalani hari-hari dengan rutinitas yang nyaris tak berbeda dengan ribuan pekerja migran lainnya.

    Namun, sebuah peristiwa darurat mengubah jalan hidupnya sekaligus memperkenalkan namanya ke tingkat internasional.

    Peristiwa itu terjadi pada Maret 2025, ketika kebakaran hutan besar melanda wilayah Yeongdeok, Provinsi Gyeongsang Utara. Api menyebar dengan cepat, memicu kepanikan warga yang berusaha menyelamatkan diri.

    Di tengah situasi genting tersebut, Sugianto mengetahui masih ada tujuh warga lanjut usia yang terjebak di dalam rumah mereka dan belum sempat dievakuasi.

    Tanpa berpikir panjang, Sugianto mengambil keputusan berisiko. Ia mendatangi rumah para lansia itu satu per satu, membangunkan mereka di tengah asap dan kobaran api.

    Beberapa di antaranya tak mampu berjalan sendiri, sehingga Sugianto menggendong mereka keluar, sementara yang lain dituntunnya menuju lokasi aman.

    Aksi tersebut dilakukan di bawah ancaman api yang semakin mendekat, namun seluruh warga lanjut usia itu berhasil diselamatkan.

    Keberanian Sugianto mendapat perhatian luas dari otoritas setempat. Pemerintah Korea Selatan menilai tindakannya sebagai bentuk kemanusiaan yang luar biasa, karena dilakukan tanpa pamrih dan dengan risiko besar terhadap keselamatan diri. Aksi tersebut kemudian menjadi dasar pemberian penghargaan kenegaraan.

    Dalam sebuah upacara resmi, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menganugerahkan medali dan penghargaan kepada 11 individu yang dinilai berjasa di berbagai bidang, mulai dari olahraga, budaya, pelayanan publik, hingga kemanusiaan.

    Di antara deretan nama tersebut, Sugianto menjadi satu-satunya pekerja migran asing yang menerima penghargaan atas aksi penyelamatan nyawa.

    Penghargaan presiden yang diterima Sugianto merupakan bentuk pengakuan tertinggi negara terhadap kontribusi kemanusiaan. Pemerintah Korea Selatan juga menyatakan tengah mempertimbangkan pemberian visa tinggal jangka panjang kategori F-2 kepada Sugianto sebagai bentuk apresiasi lanjutan atas jasanya.

    Dalam acara yang sama, sejumlah tokoh ternama Korea Selatan turut menerima penghargaan. Legenda esports dunia Lee Sang-hyeok, yang dikenal dengan julukan “Faker”, dianugerahi Medali Cheongnyong atas prestasinya di dunia olahraga elektronik.

    Medali ini sebelumnya juga diberikan kepada tokoh-tokoh besar seperti Son Heung-min, Kim Yuna, dan Pak Se-ri.

    Sementara itu, sutradara Shin Woo-seok dari Dolphiners Films menerima Medali Mongnyeon atas kontribusinya dalam produksi video promosi Konferensi Tingkat Tinggi APEC 2025.

    Di bidang kesehatan, Dr. Lee Jong-min, Direktur Pusat Medis Universitas Wanita Ewha, mendapat penghargaan atas dedikasinya selama puluhan tahun memberikan layanan medis gratis bagi perempuan migran.

    Penghargaan juga diberikan kepada Kim Ui-jung dari Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya atas perannya dalam memajukan pembicaraan dagang Korea Selatan–Amerika Serikat.

    Selain itu, almarhum Uskup Emeritus René Dupont dari Keuskupan Katolik Roma Andong dianugerahi Medali Moran, salah satu penghargaan sipil tertinggi di Korea Selatan.

    Di tengah deretan tokoh berpengaruh tersebut, kisah Sugianto tampil mencolok. Tanpa jabatan, tanpa kekuasaan, dan tanpa latar belakang istimewa, ia bertindak semata karena dorongan nurani.

    Penghargaan yang diterimanya bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga simbol kontribusi pekerja migran Indonesia di luar negeri.

    Dari Indramayu hingga Korea Selatan, Sugianto menunjukkan bahwa kepahlawanan sejati dapat lahir dari keberanian sederhana di saat yang paling genting.***

    Komentar
    Additional JS