Balas Rudal Hipersonik Moskow, Drone Ukraina Bakar Depot Minyak Rusia - Kompas
Balas Rudal Hipersonik Moskow, Drone Ukraina Bakar Depot Minyak Rusia
Sebuah bangunan tempat tinggal rusak akibat serangan udara Rusia saat badai salju lebat di Kyiv, Ukraina, Jumat pagi, 9 Januari 2026. (Sumber: AP Photo/Efrem Lukatsky)
KYIV, KOMPAS.TV - Serangan drone Ukraina memicu kebakaran di sebuah depot minyak Rusia di wilayah Volgograd pada Sabtu (10/1/2026), sehari setelah Moskow meluncurkan rudal hipersonik baru disertai gelombang drone dan senjata lain yang mengganggu pasokan listrik serta pemanas di Ukraina.
Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam perang yang hampir memasuki tahun keempat.
Gubernur Volgograd Andrei Bocharov mengatakan belum ada laporan korban jiwa.
Otoritas setempat mempertimbangkan evakuasi warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran, meski tingkat kerusakan belum dirinci.
Dilansir Associated Press, Staf Umum Ukraina menyatakan telah menyerang depot minyak Zhutovskaya pada malam hari.
Dalam pernyataan di Telegram, militer Ukraina mengatakan fasilitas itu memasok bahan bakar bagi pasukan Rusia dan penilaian dampak masih berlangsung.
Kyiv menegaskan serangan jarak jauh terhadap infrastruktur energi Rusia ditujukan untuk menggerus pendapatan ekspor minyak Moskow yang menopang invasi skala penuh.
Serangan tersebut terjadi setelah Rusia pada Jumat (9/1/2026) malam hingga Sabtu melancarkan rentetan serangan besar ke Ukraina—ratusan drone dan puluhan rudal—yang menewaskan sedikitnya empat orang di Kyiv dan memutus listrik serta pemanas di sejumlah wilayah.
Untuk kedua kalinya sepanjang perang, Rusia menggunakan rudal hipersonik Oreshnik yang berkemampuan nuklir. Rudal itu menghantam bagian barat Ukraina.
Langkah itu dipandang sebagai peringatan keras kepada sekutu NATO Kyiv.
Eskalasi militer ini datang di tengah laporan adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan antara Ukraina dan para mitranya mengenai skema pertahanan pascaperang, jika kesepakatan damai yang dipimpin Amerika Serikat tercapai.
Namun, intensitas serangan terbaru menggarisbawahi jarak yang masih lebar menuju de-eskalasi.

Sementara PBB menyoroti dampak kemanusiaan. Juru bicara Sekjen PBB, Stéphane Dujarric mengatakan serangan Rusia telah menimbulkan korban sipil dan mengganggu layanan esensial, listrik, pemanas, dan air.
Kyiv juga menuduh Moskow berupaya “menjadikan musim dingin sebagai senjata.”
Perdana Menteri Ukraina Yulia Svyrydenko menyatakan pasokan panas di Kyiv akan pulih sepenuhnya pada Sabtu.
Pemadaman darurat di wilayah tepi kanan Sungai Dnipro juga disebut akan berangsur kembali ke jadwal normal.
Namun, pemulihan di tepi kiri, yang menjadi fokus serangan, lebih rumit akibat kerusakan besar pada jaringan listrik.
Adapun Kementerian Pertahanan Rusia menyebut pasukannya menggunakan penerbangan, drone, rudal, dan artileri untuk menghantam fasilitas energi dan penyimpanan bahan bakar Ukraina.
Ukraina melaporkan Rusia menembakkan 121 drone dan satu rudal balistik Iskander-M, dengan 94 drone berhasil ditembak jatuh.
Rusia, sebaliknya, mengeklaim telah menetralkan 59 drone Ukraina di wilayah Rusia dan Krimea yang didudukinya.
Militer Ukraina juga menyatakan telah menyerang fasilitas penyimpanan drone milik unit Divisi Senapan Bermotor ke-19 Rusia di Zaporizhzhia, serta pusat komando dan kendali drone dekat Pokrovsk.