Beda Klaim BI dan DPR soal Thomas Djiwandono "Effect" Ke Rupiah - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) dan Komisi XI DPR RI punya pandangan yang berbeda soal dampak pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI terhadap pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Sebagai informasi, Thomas Djiwandono telah terpilih menjadi Deputi Gubernur BI periode 2026-2030 menggantikan Juda Agung, pada 26 Januari 2026.
Sebelum adanya pergantian pimpinan BI ini, nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan sejak awal tahun 2026 mendekati level Rp 17.000 per dollar AS.
Dirunut dari data Bloomberg, Rupiah dibuka di level Rp 16.687 per dollar Amerika Serikat (AS) pada 1 Januari 2026.
Selanjutnya pada Selasa (20/1/2026), mata uang Garuda ini menyentuh level Rp 16.945 per dollar AS atau melemah 1,53 persen secara point to point dibandingkan akhir Desember 2025.
Baca juga: Komisi XI DPR Sebut Rupiah Menguat Dipicu Pemilihan Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI
Awal mula rumor pencalonan Thomas Djiwandono

Thomas jadi salah satu kandidat Deputi Gubernur BI, dari tiga kandidat, sebagai pengganti Juda Agung, yang mengundurkan diri.
Saat rumor beredar, kondisi rupiah masih terus melemah. Pasar pun mengaitkan pelemahan mata uang Garuda ini dengan pencalonan Thomas.
Bahkan, Gubernur BI Perry Warjiyo turut menilai, pelemahan rupiah salah satuya disebabkan oleh sentimen negatif pasar terkait pencalonan Thomas yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto sebagai satu dari tiga kandidat Deputi Gubernur BI baru.
"Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan Deputi Gubernur," ujar Perry saat konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (21/1/2026).
Meski demikian, Perry juga mengatakan, berbagai faktor eksternal dan internal lainnya juga ikut mempengaruhi pelemahan rupiah pada awal tahun ini.
Baca juga: Calon Deputi Gubernur BI Sebut Rupiah Masih Kompetitif
BI: pelemahan rupiah akibat faktor eksternal

Selain itu, nilai tukar dollar AS juga tengah menguat seiring dengan berkurangnya ekspektasi pasar global terhadap penurunan suku bunga acuan AS atau Fed Funds Rate.
"Di samping juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dollar AS menguat, dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk AS. Pada 2026 ini terjadi net outflow 1,6 miliar dollar AS, data hingga 19 Januari 2026," tambahnya.
Sementara dari sisi domestik, kebutuhan valuta asing yang besar dari sejumlah korporasi nasional, termasuk PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara turut menjadi katalis penguatan nilai tukar rupiah.
Baca juga: Purbaya: Pelemahan Rupiah Terjadi Sebelum Isu Calon Deputi Gubernur BI

Terutama di saat detik-detik pengumuman pemilihan Deputi Gubernur BI baru pada Senin (26/1/2026) malam.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhammad Misbakhun mengklaim, penguatan rupiah pada perdagangan Senin kemarin dipengaruhi oleh optimisme pasar atas terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI.
Untuk diketahui, rupiah ditutup menguat 0,38 poin atau 0,23 persen ke level Rp 16.782 per dollar AS pada perdagangan Senin (26/1/2026) kemarin.
Penutupan perdagangan hari itu bertepatan dengan dimulainya pelaksanaan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) Thomas Djiwandono untuk menjadi Deputi Gubernur BI. Thomas menjadi kandidat terakhir dalam rangkaian fit and proper test ini.
Baca juga: Bos BI Akui Gaduh Pencalonan Deputi Gubernur Pengaruhi Pelemahan Rupiah
Setelah tiga kandidat calon Deputi Gubernur BI menjalani fit and proper test, Komisi XI menggelar rapat internal sekitar 30 menit lamanya untuk memutuskan hasil seleksi calon Deputi Gubernur BI.
"Alhamdulillah hari ini rupiah menguat ke Rp 16.700 pada saat kita memutuskan Pak Thomas terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia," ucap Misbakhun saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin.
Meski begitu, Misbakhun mengakui, pemilihan Thomas sebagai Deputi Gubernur BI tidak menjadi satu-satunya faktor yang membuat rupiah terapresiasi.
Pasalnya, penguatan rupiah pada perdagangan Senin kemarin berbarengan dengan pelemahan nilai tukar Dollar AS akibat rilis data ekonomi AS yang di bawah ekspektasi pasar.
"Tapi kan what matters gitu, itu yang terjadi. Tapi faktanya kan itu (rupiah menguat saat Thomas terpilih jadi Deputi Gubernur BI) yang terjadi," jawab Misbakhun ketika disinggung wartawan bahwa dollar AS melemah pada perdagangan hari ini.
Baca juga: Thomas Djiwandono Kandidat Deputi Gubernur BI, Benarkah Ganggu Independensi dan Bikin Rupiah ATL?
Rupiah perlahan menguat...
Sebagai informasi, pada perdagangan Senin kemarin, Indeks Dollar AS (DXY) melemah 0,56 poin atau 0,57 persen dari perdagangan hari sebelumnya, ke level 97,04.
Atas pelemahan dollar AS itu, rupiah tidak menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat. Bahkan mayoritas mata uang Asia lain terapresiasi lebih tinggi seperti Won Korea Selatan menguat 1,96 persen, yen Jepang menguat 1,42 persen, ringgit Malaysia menguat 0,87 persen, dollar Singapura menguat 0,31 persen, dan dollar Taiwan menguat 0,24 persen.
Sementara mata uang Asia yang menguat tapi penguatannya di bawah rupiah, yaitu peso Filipina menguat 0,22 persen, Yuan China menguat 0,10 persen, dan baht Thailand menguat tipis 0,003 persen.
Kemudian jika dilihat sepekan ke belakang, dari data Bloomberg, nilai tukar rupiah memang perlahan pulih setelah melemah mencapai level puncak pada 20 Januari lalu.
Kini rupiah perlahan turun menjauhi level Rp 17.000 per dollar AS. Secara year to date, nilai tukar rupiah melemah sekitar 0,61 persen pada Senin (26/1/2026) dari posisi awal tahun ini sebesar Rp 16.687 per dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang