0
News
    Home Berita BPBD Featured Jakarta Lintas Peristiwa Spesial

    Benarkah Operasi Modifikasi Cuaca Mampu Menghentikan Hujan di Jakarta? Begini Penjelasan BPBD - Liputan6

    10 min read

     

    Benarkah Operasi Modifikasi Cuaca Mampu Menghentikan Hujan di Jakarta? Begini Penjelasan BPBD



    Seluruh proses Modifikasi cuaca dengan mengendalikan pergerakan awan telah diperhitungkan secara matang bersama BMKG dan BNPB.

    Diterbitkan 17 Januari 2026, 11:05 WIB

    • Apa tujuan utama Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jakarta?
    • Bagaimana proses pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan?
    • Apakah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan?

     Baca artikel ini 5x lebih cepat

    Liputan6.com, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta menjelaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak bertujuan menghentikan hujan di Jakarta. Hal itu dilakukan untuk mengalihkan potensi hujan agar turun di wilayah perairan.

    “Kita tidak bisa menghentikan hujan. Kita hanya mengalihkan,” kata Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

    Yohan menjelaskan, dalam pelaksanaan OMC, pesawat akan menyasar awan hujan yang masih berada di atas laut sebelum bergerak ke daratan. Proses penaburan garam dilakukan setelah posisi awan dipastikan berada di wilayah perairan.

    Menurut dia, seluruh proses tersebut telah diperhitungkan secara matang bersama BMKG dan BNPB.

    “Seperti kemarin yang kita sasar itu di Selat Sunda. Awan-awan yang berpotensi masuk ke wilayah Jawa Barat dan Jakarta, kita gugurkan di atas laut,” ujar Yohan.

    Dengan demikian, tujuan penaburan garam pada awan adalah agar hujan turun di atas laut dan tidak mencapai wilayah daratan.

    Yohan memastikan pelaksanaan OMC tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan karena seluruh tahapan dilakukan sesuai kajian ilmiah dan aturan yang berlaku.

    “OMC ini kan ilmu yang diturunkan sama Allah juga ya. Jadi, bukan melawan kehendak. Ada yang namanya hukum kekekalan energi, yang namanya hujan itu kan salah satu bentuk energi,” katanya.

    Energi tersebut, lanjut Yohan, hanya dapat dialihkan, bukan dihilangkan.

    "Kalau dibilang dampak apa, ya nggak ada dampak apa-apa,” ujarnya.

    Modifikasi Cuaca Selama Lima Hari

    Sebelumnya, pada Jumat, 16 Januari 2026, BPBD DKI Jakarta melaksanakan OMC untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi dengan menyemai 1,6 ton garam atau natrium klorida (NaCl).

    Pelaksanaan OMC dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 16 hingga 20 Januari 2026, dan dilaksanakan secara terpadu bersama BMKG serta TNI Angkatan Udara. Operasi tersebut dipusatkan di Bandara Halim Perdanakusuma dengan menggunakan pesawat CASA 212 A-2105 milik TNI AU.

    Pada hari pertama, dilaksanakan dua sorti penerbangan dengan total bahan semai 1.600 kilogram NaCl yang disebarkan di wilayah perairan Selat Sunda untuk meluruhkan awan hujan yang bergerak menuju daratan.

    Fokus Pengendalian Awan Hujan ke Arah Jakarta

    Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, menyampaikan sorti pertama dilakukan pada pukul 13.28–14.48 WIB dengan penyemaian 800 kilogram NaCl di ketinggian 8.000–12.000 kaki.

    Sementara itu, sorti kedua dilaksanakan pada pukul 15.40–17.30 WIB dengan ketinggian terbang sekitar 9.000 kaki dan jumlah bahan semai yang sama, yakni 800 kilogram NaCl.

    Pelaksanaan OMC hari pertama tersebut difokuskan di wilayah perairan sebagai bagian dari strategi mitigasi dini untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan sebelum bergerak menuju wilayah daratan Jakarta.

    Komentar
    Additional JS