0
News
    Home Berita Featured Kerang Hijau Spesial

    Budidaya Kerang Hijau & Ikhtiar Warga Bedono Bertahan di Pesisir - Tirto

    9 min read

     

    Budidaya Kerang Hijau & Ikhtiar Warga Bedono Bertahan di Pesisir

    Budidaya kerang hijau di Bedono, Demak tak hanya jadi sumber pendapatan alternatif warga tetapi juga upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.

    Terbit 5 Jan 2026 08:00 WIB,


    Donasi Bencana Sumatera
    tumpukan kerang: Gerombolan kerang menumpuk di bambu rumpon milik Saiful Rozi nelayan Bedono. FOTO/dok tangkapan layar video dokumentasi saiful

    tirto.id - Tiap kali kelander memasuki penghujung tahun, Saiful Rozi tahu aktivitasnya akan kian sibuk. Di tanggal ketika banyak orang pergi berlibur, pembudidaya kerang hijau Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Demak ini justru bekerja ekstra untuk melayani lonjakan pesanan.

    Tak ada kembang api, apalagi agenda untuk vakansi. Sebab di momen-momen itu lah, desanya memasuki musim panen raya. "Mau tahun baruan, ini saya pribadi dapat pesenan kerang hijau dua ton," ucap Saiful saat ditemui di rumahnya di Dusun Bedono pada hari Natal 2025.

    Pesanan itu datang dari tiga pengepul berbeda: satu ton diborong pengepul asal Grobogan, sisanya dipesan pengepul asal Kudus dan Demak masing-masing 0,5 ton.

    Para pengepul sudah mem-booking kerang hijau milik Saiful dua bulan sebelum tahun baru. Demi menjaga kualitas tetap segar, Saiful biasanya memanen kerang mendekati jadwal pengambilan.

    Baca juga:
    kerang saiful: Tangan Saiful Rozi mengangkat kerang hijau miliknya, Kamis (25/12/2025). tirto.id/Baihaqi Annizar

    Itu sebabnya, menjelang pagi di akhir tahun, suasana dusun ramai bak pasar. Di sepanjang jalan, tumpukan kerang hijau terlihat di depan rumah-rumah nelayan, menunggu diambil para pembeli dan pengepul.

    Selain pesanan yang meningkat, harga kerang hijau saat pergantian tahun juga biasanya melambung. Jika pada hari-hari biasa harganya berkisar Rp6.000 per kilogram, menjelang tahun baru harganya bisa menyentuh minimal Rp10.000 per kilogram.

    Baca juga:

    “Inilah yang bikin untung. Makanya kami menyebut tahun baru sebagai panen raya kerang hijau,” kata Saiful.

    Dari penjualan dua ton kerang hijau kepada para pengepul besar, Saiful mengantongi sekitar Rp20 juta. Belum termasuk pesanan kecil dari teman dan kerabat yang umumnya hanya 10-15 kilogram per orang.

    Saiful bukan satu-satunya yang merasakan berkah ini. Di Dusun Bedono, mayoritas warga kini memiliki rumpon kerang hijau dan ikut mendulang keuntungan saat musim panen raya.

    “Di RT saya saja, dari 36 kepala keluarga, 90 persennya punya rumpon,” jelas Saiful yang kini menjabat Ketua RT 3 Dusun Bedono.

    Pun demikian, panen raya kerang hijau tak hanya terjadi di Bedono. Marzuki, nelayan di Kampung Tambakrejo, Kota Semarang, juga mengalami hal yang sama. Menjelang tahun baru, permintaan meningkat, begitu pula harganya.

    “Iya, saya sendiri dapat pesanan sampai kuintalan. Kalau sudah mendekati malam tahun baru, harga bisa tembus Rp25.000 per kilogram,” tutur Marzuki saat dihubungi, Jumat (26/12/2025).

    Pendapatan Alternatif

    Jika menengok beberapa tahun ke belakang, budidaya kerang hijau di Dusun Bedono sebenarnya masih relatif baru. Dahulu, sebagian besar warga menggantungkan hidup sebagai nelayan tangkap. Mereka melaut, memancing, atau menjaring ikan.

    Baca juga:

    Akademisi Universitas Diponegoro (Undip), Stacia R. Mege dan tim, dalam penelitian yang terbit pada April 2025, mencatat perubahan tersebut.

    “Masyarakat Dusun Bedono yang tergabung dalam komunitas Branjang Jogo Segoro dalam setahun belakangan ini sudah mulai melakukan budidaya kerang hijau,” tulis penelitian itu.

    Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah, Bagas Kurniawan, juga mendapati temuan serupa. Dari informasi yang ia kumpulkan, warga Bedono baru setahun belakangan ramai-ramai membuat rumpon kerang hijau.

    Baca juga:

    “Trennya naik terutama pada 2025 kemarin. Menurut keterangan warga, saat ini mayoritas sudah memiliki rumpon,” jelasnya, Sabtu (27/12/2025).

    Bagas menilai, budidaya kerang hijau menjadi bentuk adaptasi warga Bedono menghadapi kondisi lingkungan yang makin rentan. Terlebih, hasil tangkapan ikan di laut kian tidak menentu

    "Rumpon kerang hijau seperti jadi alternatif yang dipilih warga untuk tetap hidup dari laut," ungkap Bagas membaca situasi yang ada.

    Baca juga:

    Rumpon juga memiliki fungsi taktis, selain memberi manfaat ekonomi: membantu menangkap sedimen sehingga dapat menahan laju abrasi di kawasan tersebut.

    Berbeda dengan tambak yang tak kuat menghadapi rob dan abrasi, tutur Bagas rumpon bisa membantu warga bertahan dalam kondisi dalam kondisi serupa. Lantaran itu lah, tambak-tambak di ujung pesisir Dusun Bedono kini praktis sudah hilang.

    Peluang Menguntungkan

    Saiful mengaku fokus membudidaya kerang hijau sejak tiga tahun lalu. Ia sudah mulai merasakan manfaatnya, termasuk dari segi ekonomi. Hasil panen kerang meningkatkan pendapatan keluarganya.

    Menurut pria berusia 40 tahun itu, budidaya kerang hijau relatif mudah. Warga hanya perlu membuat rumpon dari bambu yang dibalut paranet, lalu ditancapkan di laut. Seiring waktu, kerang hijau akan menempel dengan sendirinya

    "Di sini pertumbuhannya bagus. Pokoknya dihitung dari setelah penancapan bambu, tunggu lima bulan bisa mulai panen," ujarnya.

    Saiful kini memiliki sembilan petak rumpon. Dua di antaranya baru selesai dibangun pada pertengahan Desember 2025. Tujuh lainnya sudah siap panen, dengan total sekitar 6.000 batang bambu berukuran delapan meter.

    Saiful mengeklaim, secara hitungan kasar, tiap bambu bisa menghasilkan 20 kilogram kerang hijau. Namun, di obrolan lain, dia menyebut satu petak rumpon rata-rata menghasilkan enam ton.

    Jika setiap rumpon menghasilkan enam ton, dikalikan tujuh rumpon, lalu dihitung dengan harga terendah Rp6.000 per kilogram, potensi pendapatan mencapai sekitar Rp252 juta. Namun itu baru hitungan kotor. Masih harus dipotong modal, biaya operasional, dan risiko gagal panen.

    "Pernah rumpon saya kena ombak besar, bambunya roboh, kerangnya pada mati. Kalau dihitung yang mati hampir satu ton," keluhnya.

    Selama ini Saiful memanen sendiri kerang hijau dari rumpon miliknya. Hasil panen ia jual ke pengepul di Bedono, kecuali saat panen raya ketika para pengepul datang langsung.

    Sebagian nelayan lain memilih menjual dengan sistem tebas—kerang langsung diborong di laut. Mereka tak perlu repot memanen, tetapi harga menjadi jauh lebih murah, hanya sekitar Rp3.000 per kilogram.

    Budidaya Kerang Hijau
    saiful: Nelayan Dusun Bedono, Saiful Rozi, menunjukkan kerang hijau yang ia ambil dari laut dan ditaruh kanal depan rumah, Kamis (25/12/2025). tirto.id/Baihaqi Annizar

    Saat Tirto mengunjungi Dusun Bedono pada Kamis (25/12/2025), tampak sekelompok orang baru selesai menebas kerang hijau untuk persiapan tahun baru. Mereka membawa hasil panen dengan sepeda motor.

    "Tadi (hasil tebasannya mendapat) satu ton empat kuintal (kerang hijau)," kata orang di sekitar lokasi.

    Upaya Bertahan

    Dusun Bedono di Kecamatan Sayung, Demak, menghadapi ancaman ekologis yang serius. Abrasi dan rob perlahan menggerus daratan, memaksa warga mencari cara bertahan sekaligus tetap menggantungkan hidup pada laut.

    Guru Besar Soegijapranata Catholic University (SCU), Theresia Dwi Hastuti, menilai budidaya kerang hijau di Bedono memiliki karakter berbeda dibanding wilayah lain yang lingkungannya lebih stabil.

    "Di Bedono, sebenarnya memelihara kerang hijau itu lebih untuk bertahan hidup," kata Theresia saat dimintai pendapat, Selasa (30/12/2025).

    Ahli audit lingkungan tersebut menyebut Bedono sebagai contoh bagaimana tekanan melahirkan adaptasi. Ketika daratan menyusut dan laut sulit diprediksi, warga memilih cara paling fleksibel untuk menyambung hidup.

    Theresia menambahkan, secara kualitas kerang hijau dari Bedono berpotensi lebih baik. Letak perairan yang jauh dari kawasan industri membuat risiko pencemaran lebih kecil.

    Namun, ia menyoroti persoalan akses pasar. Letak Bedono yang berada di ujung pesisir membuat jaraknya jauh dari pasar utama. Akibatnya, banyak nelayan tidak bisa menjual langsung ke konsumen.

    "Ketika ke pasar aksesnya terbatas kemudian dijual ke pengepul, dampaknya harganya pasti akan lebih rendah," jelasnya.

    Baca juga:

    Karena itu, menurut Theresia, tantangan utama bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan nelayan bisa menjangkau pasar yang lebih dekat agar nilai jual meningkat.

    Ia menekankan pentingnya perhitungan biaya dan manfaat dalam pengembangan budidaya kerang hijau. Investasi pembuatan rumpon, misalnya, harus dibandingkan dengan besarnya risiko kerusakan akibat abrasi dan rob.

    "Perlu dilihat cost-benefit-nya. Biaya yang dikeluarkan untuk investasi itu sebanding atau tidak dengan potensi hilangnya karena abrasi,” katanya.

    Sementara itu, Bagas dari WALHI menilai rumpon kerang hijau merupakan upaya yang patut didukung. Rumpon dapat memecah gelombang sekaligus menangkap sedimen—fungsi yang sangat penting bagi pesisir yang terus terkikis.

    Di Bedono, rumpon bukan sekadar alat produksi. Ia menjadi strategi bertahan. Mengutip keyakinan Saiful, selama laut dirawat, laut tak akan berhenti memberi.

    Baca juga artikel terkait SEMARANG atau tulisan lainnya dari Baihaqi Annizar
    tirto.id - News Plus
    Kontributor: Baihaqi Annizar
    Penulis: Baihaqi Annizar
    Editor: Hendra Friana
    Komentar
    Additional JS