0
News
    Home Arab Saudi Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Israel Spesial

    Bujukan Israel hingga Arab Saudi Bikin Trump Urungkan Serangan ke Iran - Beritasatu

    3 min read

     

    Bujukan Israel hingga Arab Saudi Bikin Trump Urungkan Serangan ke Iran


    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disambut oleh Presiden Donald Trump saat tiba di West Wing Gedung Putih di Washington, 7 April 2025, di Washington. (AP/AP)

    Istanbul, Turki, Beritasatu.com –  Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran pada menit terakhir. Keputusan ini diambil setelah sejumlah pemimpin negara kunci, termasuk Israel, Arab Saudi, Qatar, Oman, dan Turki, memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi jangka panjang yang bisa memicu perang besar di Timur Tengah.

    "Kami ingin masalah-masalah ini diselesaikan melalui dialog," tegas Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam konferensi pers di Istanbul, Kamis (15/1/2026).

    Ia menambahkan bahwa mediasi adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan antara Washington dan Teheran.

    Laporan dari The Guardian menyebutkan bahwa Turki bersama kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Qatar secara intensif melobi Trump. Mereka berargumen bahwa serangan mendadak Washington terhadap Teheran hanya akan menciptakan konflik yang sulit dikendalikan dan merusak stabilitas kawasan.

    Bahkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan turut meminta Trump untuk menunda operasi militer tersebut. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, membenarkan adanya komunikasi telepon antara Trump dan Netanyahu, meski ia menolak memerinci detail pembicaraan tersebut.

    Salah satu faktor krusial yang membujuk Trump adalah sikap Arab Saudi. Riyadh memberikan sinyal kuat bahwa mereka akan menolak memberikan izin bagi militer AS untuk menggunakan wilayah udaranya guna menyerang Iran.

    Langkah ini sejalan dengan upaya Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, yang terus menjalin diskusi dengan Oman, Turki, dan Iran untuk memperbaiki hubungan di kawasan Teluk.

    Ketegangan ini bermula dari aksi protes besar-besaran di Iran sejak 28 Desember 2025, yang dipicu oleh krisis ekonomi dan devaluasi mata uang rial. Demonstrasi tersebut kemudian berubah menjadi bentrokan berdarah antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan.

    Kelompok hak asasi manusia mengeklaim setidaknya 2.677 orang telah tewas, sementara Teheran melaporkan 109 anggota pasukan keamanan gugur. Pada pagi hari tanggal 15 Januari, Iran sempat menutup wilayah udaranya, membuat lalu lintas penerbangan di atas negara tersebut sepi total berdasarkan data FlightRadar24.

    Meski sebelumnya melontarkan ancaman keras, Trump mulai melunakkan nadanya. Ia menyatakan bahwa pembunuhan terhadap para demonstran di Iran telah berakhir, tetapi tetap menekankan bahwa AS akan terus memantau situasi dengan saksama.

    "Hanya Presiden Trump yang tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya, dan hanya sebagian kecil penasihat yang mengetahui rencananya," pungkas Karoline Leavitt.


    Komentar
    Additional JS