DPR: Indonesia Negara Demokrasi tapi Masyarakat Diteror - Tirto
DPR: Indonesia Negara Demokrasi tapi Masyarakat Diteror
Andreas menilai teror tersebut bertujuan untuk membungkam para influencer.
tirto.id - Wakil Ketua Komisi XIII DPR Fraksi PDIP, Andreas Hugo Pareira, menilai aksi teror yang dilayangkan terhadap pemengaruh atau influencer, seperti DJ Donny, Sherly Annavita, Virgiawan Aurelio, dan aktivis lingkungan Iqbal Damanik, adalah bukti kemunduran dalam peradaban politik Indonesia.
Di sisi lain, katanya, Indonesia selama ini mengakui bahwa negaranya merupakan negara demokrasi. Namun, fakta di lapangan membuktikan masih adanya ancaman teror yang diberikan kepada masyarakat usai mereka mengemukakan kritik dan pendapatnya atas kebijakan negara.
“Ini membuktikan terjadi kemunduran dalam peradaban politik kita. Di satu pihak, kita membanggakan diri menjadi negara demokrasi dimana hak rakyat untuk mengekspresikan pendapat dijamin oleh negara,” kata Andreas saat dihubungi, Senin (5/1/2026).
“Rakyat diberikan haknya untuk menentukan siapa pemimpinnya, sementara dilain pihak adanya teror terhadap para influencer yang mengekspresikan suara rakyat,” tambah Andreas.
Andreas menilai teror tersebut bertujuan untuk membungkam para influencer. Maka dari itu, Andreas mendesak pemerintah melalui aparat keamanan untuk hadir dalam melindungi rakyatnya, serta mengusut dan menemukan dalang teror tersebut.
“Dengan segala kelengkapan peralatan teknologi dan kemampuan personil aparat, seharusnya tidak sulit untuk mengusut dan membekuk para pelaku teror,” ucap dia.

Lanjutnya, apabila negara tak bisa menguak dalang pelaku teror, maka masyarakat akan berasumsi bahwa pelaku teror adalah aparat keamanan itu sendiri.
“Ini penting dilakukan, karena kalau, tidak diusut dan ditemukan bisa terjadi "adu domba", masyarakat justru akan menuduh justru aparat yang berada di belakang teror-terie tersebut,” pungkas dia.
Sebagai informasi, sejumlah aktivis dan influencer, seperti DJ Donny, Sherly Annavita, hingga Iqbal Damanik mengalami teror dari orang tidak dikenal.
Berdasarkan kronologinya, teror yang dialami aktivis dan influencer tersebut terjadi dalam kurun waktu berdekatan, yakni sepanjang Desember 2025. Teror yang dilakukan kepada para korban tersebut juga beragam. Beberapa di antaranya adalah serangan digital, baik via media sosial ataupun ranah digital lainnya.
Selain serangan digital, para korban juga mengalami teror yang mengancam keselamatan, seperti pelemparan bom molotov, pengrusakan mobil, pengiriman pesan ancaman pembunuhan, hingga pelemparan benda-benda tertentu ke rumah korban. Tak hanya itu, beberapa korban juga mengalami teror berupa kiriman bangkai hewan.
Dalam keterangan yang dirilis oleh para korban, mereka menduga bahwa teror-teror tersebut berkaitan dengan kritik yang mereka layangkan terkait dengan isu bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra pada akhir November 2025.
Dugaan tersebut didasarkan pada pesan-pesan teror yang mereka terima. Pesan-pesan yang dikirimkan para peneror bernada serupa, yakni ancaman agar tidak lagi bersuara terkait bencana dan membuat konten terkait hal tersebut.