0
News
    Home Amerika Serikat Dunia Internasional Featured Libya Spesial Venezuela

    Harga Minyak Dunia Rontok Usai AS Tangkap Presiden Venezuela, Bisa Senasib dengan Libya? - Viva

    3 min read

     

    Harga Minyak Dunia Rontok Usai AS Tangkap Presiden Venezuela, Bisa Senasib dengan Libya?

    Senin, 5 Januari 2026 - 13:05 WIB
    Oleh :
    Sumber :
    • ANTARA/REUTERS/Richard Carson/am
    Photo Mini 1Photo Mini 2
    Share :

    Jakarta, VIVA - Harga minyak dunia terguncang imbas memanasnya ketegangan geopolitik global kembali di awal tahun 2026. Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilla Flores, pada akhir pekan lalu.

    Baca Juga :

    Otoritas AS mengatakan Maduro dan istrinya diterbangkan ke New York dan didakwa atas konspirasi terorisme narkoba dan kejahatan lainnya. Dakwaan ini juga menyatalan bahwa perdagangan narkoba telah memperkaya dan memperkuat elit politik dan militer Venezuela.

    Venezuela merupakan satu negara pendiri organisasi produsen minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia. Data Badan Informasi Energi AS melaporkan cadangan minyak Venezuela sebanyak 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total global. 

    Baca Juga :

    Dikutip dari CNBC Internasional, minyak mentah Brent anjlok lebih dari 1 persen pada Senin, 5 Januari 2026. Minyak West Texas Intermediate merosot 0,4 persen.

    Chevron merupakan satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang beroperasi di Venezuela. Perusahaan ini mengekspor sekitar 140.000 barel per hari pada akhir kuartal IV-2025.

    Kepala Riset Minyal Goldman Sachs, Daan Struyven, mengatakan dampak penggulingan Maduro terhadap harga minyak masih belum jelas dalam jangka pendek. Produksi bisa sedikit meningkat apabila pemerintahan yang didukung AS terbentuk dan pemerintahan Trump mencabut sanksi terhadap Venezuela.

    Di satu sisi, kata Struyven, penggulingan Maduro juga dapat menyebabkan gangguan pasokan dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, meningkatnya investasi AS ke Venezuela akan memberikan tekanan terhadap harga minyak global.

    Dalam konferensi pers dari kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida pada Sabtu, 3 Januari 2026, Presiden Donald Trump menegaskan akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak beaar di AS untuk berinvestasi di Venezuela. Tidak tanggung-tanggung, Trump meminta untuk perusahaan menggelontorkan miliaran dolar AS guna memperbaiki infrastruktur yang rusak parah. 

    Kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, Helima Croft, mengungkap bahwa para eksekutif perusahaan minyak yang beroperasi di Venezuela memperkirakan pemulihan infrastruktur membutuhkan biaya sekitar US$10 miliar per tahun. 

    Dengan demikian tercipta lingkungan aman dan stabil yang ideal dalam meningkatkan produksi kembali ke tingkat historis. 

    Ia menambahkan, pencabutan sanksi penuh dapat mengembalikan produksi hingga beberapa ratus ribu barel dalam jangka waktu 12 bulan. Dengan catatan, transisi kekuasaan berlangsung secara tertib.

    “Namun, semua prediksi bisa meleset dalam skenario perubahan kekuasaan yang kacau seperti yang terjadi di Libya atau Irak,” tutur Croft.

    Semetara itu, eskalasi yang melibatkan negara kaya minyak ini dengan AS juga mendorong harga emas naik relatif signifikan. Harga emas spot melonjak lebih dari 1 persen menjadi US$4.383,99 per ons.

    Komentar
    Additional JS