Heboh! 5 Fakta Protes Celana Dalam di Kudus, Publik Soroti Penari Erotis di Acara KONI? - suara
- Akun @lambe\_turah memviralkan aksi warga Kudus berunjuk rasa membawa rentengan celana dalam di Pendopo.
- Protes warga tersebut dipicu oleh adanya dugaan penampilan tarian erotis dalam rangkaian acara KONI Award 2025.
- Viralitas isu ini memperuncing perdebatan publik mengenai etika, kesopanan, dan norma lokal dalam acara formal.
SuaraJawaTengah.id - Jagad maya kembali dihebohkan oleh postingan akun gosip fenomenal, @lambe_turah. Kali ini, sorotan tajam diarahkan pada aksi unjuk rasa di Kudus yang melibatkan rentengan celana dalam sebagai simbol protes.
Akun dengan jutaan pengikut ini mengunggah tangkapan layar berita berjudul "Warga Kudus Geruduk Pendopo Bawa CD, Protes Tarian Erotis di Acara KONI" lengkap dengan foto-foto aksi yang kontroversial.
Postingan ini sontak memicu beragam reaksi dari netizen, memperuncing perdebatan mengenai etika dan kesopanan dalam acara publik.
1. Jembreng... Jembreng.....: Narasi Khas Lambe Turah
![Protes Celana Dalam di Kudus. [Instagram/lambe_turah]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/05/34732-kudus.jpg)
Dengan gaya khasnya yang provokatif namun informatif, @lambe_turah membuka postingan dengan narasi singkat "Jembreng... Jembreng.....".
Kata "jembreng" yang berarti membentangkan atau memamerkan, secara langsung merujuk pada aksi massa yang membentangkan rentengan celana dalam. Narasi ini berhasil menarik perhatian netizen dan memancing rasa penasaran untuk mengetahui lebih lanjut mengenai konteks di balik aksi unik tersebut.
2. Sorotan pada "Tarian Erotis" di Acara KONI
![Protes Celana Dalam di Kudus. [Instagram/lambe_turah]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/05/64124-kudus.jpg)
Judul berita yang diunggah oleh @lambe_turah, "Warga Kudus Geruduk Pendopo Bawa CD, Protes Tarian Erotis di Acara KONI", secara gamblang menyoroti inti permasalahan.
Frasa "tarian erotis" menjadi pusat kontroversi, mengindikasikan bahwa penampilan dancersport dalam ajang KONI Award 2025 dinilai melampaui batas kepatutan dan norma yang berlaku di masyarakat Kudus.
Baca Juga:
Ini sejalan dengan poin-poin protes yang disampaikan oleh Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kudus Bermartabat.
3. Reaksi Netizen: Antara Pembelaan dan Kecaman
![Protes Celana Dalam di Kudus. [Instagram/lambe_turah]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/05/90428-kudus.jpg)
Kolom komentar postingan @lambe_turah langsung dibanjiri reaksi netizen. Salah satu komentar dari akun @louisa_enjel mencoba memberikan klarifikasi: "Woylah.. ini dance sport gak sih,, dan untuk kostum juga sudah ditutup pakai kemeja, kalau lagi tanding gak gitu nya."
Komentar ini menunjukkan adanya upaya untuk membela *dancersport* sebagai cabang olahraga yang memiliki aturan kostum tersendiri, namun juga mengakui bahwa penampilan di acara tersebut mungkin tidak sesuai standar "tanding" yang biasa.
Di sisi lain, komentar dari @lokapamartaa justru bernada sarkasme: "Pede banget lagi mbaknya salah tempat."
Komentar ini mencerminkan sentimen negatif terhadap penampilan dancersport yang dianggap tidak pantas di Pendapa Kabupaten Kudus, sebuah ruang yang dianggap sakral dan simbol marwah daerah.
- 1
- >

- Akun @lambe\_turah memviralkan aksi warga Kudus berunjuk rasa membawa rentengan celana dalam di Pendopo.
- Protes warga tersebut dipicu oleh adanya dugaan penampilan tarian erotis dalam rangkaian acara KONI Award 2025.
- Viralitas isu ini memperuncing perdebatan publik mengenai etika, kesopanan, dan norma lokal dalam acara formal.
4. Viralitas dan Dampak Media Sosial
![Protes Celana Dalam di Kudus. [Instagram/lambe_turah]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/05/34330-kudus.jpg)
Postingan @lambe_turah yang telah disukai oleh 10.5 ribu pengguna dan mendapat 859 komentar (per tangkapan layar) menunjukkan betapa cepatnya informasi menyebar dan menjadi viral di media sosial.
Akun ini memiliki peran signifikan dalam mengangkat isu-isu lokal ke kancah nasional, memicu diskusi publik, dan memberikan tekanan kepada pihak-pihak terkait untuk memberikan penjelasan atau mengambil tindakan.
5. Memperuncing Debat Etika dan Norma Lokal
Kasus ini, yang kini menjadi konsumsi publik melalui @lambe_turah, tidak hanya menjadi sorotan lokal tetapi juga memicu perdebatan yang lebih luas mengenai batasan etika, norma lokal, dan kebebasan berekspresi dalam konteks acara publik.
Pertanyaan tentang apakah sebuah cabang olahraga harus menyesuaikan diri dengan kearifan lokal atau apakah masyarakat harus lebih terbuka terhadap bentuk-bentuk seni baru menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan.
- <
- 2