Inggris Kirim Jet ke Qatar Saat AS Bersiap Serang Iran, IRGC: Mereka Akan Menyesal Salah Perhitungan - Tribunnews
Inggris mengirim satu skuadron Eurofighter Typhoon untuk melindungi Qatar, sekutu dan lokasi tentara AS, dari serangan balasan Iran.
Inggris Kerahkan Jet Tempur ke Qatar Saat AS Bersiap Serang Iran, IRGC: AS-Israel Akan Menyesal Salah Perhitungan
TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan mengirimkan satu skuadron jet tempur ke pangkalan di Qatar di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Pengerahan Angkatan Udara Kerajaan ini mencakup Skuadron ke-12, unit gabungan Inggris-Qatar yang mengoperasikan jet tempur Eurofighter Typhoon.
Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan kalau skuadron itu "dikerahkan ke wilayah Teluk untuk tujuan pertahanan, mengingat ketegangan regional yang terjadi.
Baca juga: Israel Naikkan Status Waspada ke Level Tertinggi Saat AS Dipastikan Bakal Serang Iran
Ketegangan regional itu meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan serangkaian ancaman menyusul apa yang ia sebut sebagai "penindakan keras" Iran terhadap protes anti-rezim.
Trump menyatakan dukungannya kepada para demonstran Iran, menyerukan pergantian rezim Iran, dan menggaungkan kemungkinan tindakan militer AS terhadap kepemimpinan Iran.
Adapun Inggris, menyatakan, pengerahan jet tempur mereka merupakan bagian dari Perjanjian Jaminan Pertahanan Inggris-Qatar.
Qatar adalah sekutu utama AS di kawasan ini dan menjadi tuan rumah kehadiran militer AS yang besar di Pangkalan Udara Al Udeid.
Pada Oktober lalu, Inggris dan Qatar menandatangani Perjanjian Jaminan Pertahanan baru yang memperkuat kerja sama mereka di bidang pertahanan.
Pekan lalu, Departemen Pertahanan AS mengumumkan pembentukan Satuan Operasi Pertahanan Udara Gabungan Timur Tengah (MEAD-CDOC) di Pangkalan Udara Al Udeid untuk meningkatkan integrasi upaya pertahanan.
Sementara itu, Trump mengatakan awal pekan ini kalau "seluruh negara akan hancur" jika Iran mengambil tindakan militer apa pun terhadap entitas AS di berbagai belahan dunia, termasuk di Timur Tengah.

IRGC: AS-Israel akan Menyesal Salah Perhitungan
Sebaiknya, Teheran memperingatkan kalau setiap serangan AS akan menyebabkan "respons pembalasan yang menghancurkan".
Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, komandan utama Korps Revolusi Islam (IRGC), Kamis (22/1/2026) mengatakan angkatan bersenjata Iran "memiliki kendali penuh" dan sepenuhnya siap bertindak atas perintah Pemimpin Revolusi dan Republik Iran, Sayyed Ali Khamenei, jika musuh-musuh Iran melakukan bentuk serangan apa pun.
"Musuh-musuh Iran harus menghindari kesalahan perhitungan," kata Pakpour seraya menekankan bahwa pasukan negara itu dalam keadaan siaga penuh sementara pertahanan telah diperkuat dalam menghadapi ancaman yang meningkat .
“Kami memperingatkan musuh-musuh kriminal, jahat, dan anti-kemanusiaan, khususnya Amerika Serikat dan rezim Zionis palsu dan rasis, untuk belajar dari pengalaman sejarah dan apa yang mereka alami dalam perang paksa selama 12 hari pada bulan Juni,” kata Pakpour.
Ia memperingatkan kalau agresi baru apa pun akan mengakibatkan respons yang “lebih menyakitkan dan menimbulkan penyesalan”.
Klaim IRGC Kini Lebih Kokoh
Pakpour menambahkan bahwa pasukan IRGC telah memperkuat kemampuan pertahanan Iran "lebih kokoh dari sebelumnya," dengan alasan permusuhan yang terus berlanjut dari AS dan Israel.

Iran Tuding AS-Israel Organisir Kerusuhan Massal yang Bikin Ribuan Orang Tewas
Peringatan ini menyusul kerusuhan di Iran pada akhir Desember, ketika protes ekonomi damai yang sporadis meningkat menjadi kekerasan.
Para pejabat Iran mengatakan protes tersebut dibajak oleh para perusuh yang didorong oleh para pemimpin AS dan Israel serta didukung oleh jaringan intelijen asing yang beroperasi di dalam negeri.
Pejabat Iran mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyerukan kelompok-kelompok bersenjata untuk merebut lembaga-lembaga negara, sekaligus mengancam akan melakukan tindakan militer jika pasukan keamanan ikut campur.
Dalam pernyataan terpisah pada Rabu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan 2.427 orang, termasuk warga sipil dan personel keamanan, tewas dalam "kekejaman skala penuh" yang diatur oleh AS dan rezim Israel.
Dewan tersebut menambahkan kalau 690 orang lainnya tewas selama kerusuhan , sehingga total korban tewas yang dilaporkan menjadi 3.117 orang.
Untuk menggambarkan skala kekerasan tersebut, para pejabat menyamakannya dengan 600 petugas penegak hukum AS yang tewas dalam tiga hari.
Pemerintah Iran menyatakan kalau semua korban yang tidak bersenjata telah secara resmi diakui sebagai martir, sehingga keluarga mereka berhak atas dukungan penuh dari negara.
Menurut keterangan pemerintah, para penyerang bertopeng menggunakan senjata api untuk menyerang polisi dan warga sipil.
“Kelompok teroris bertopeng berpakaian hitam menggunakan senapan dan pistol untuk menyusup ke demonstrasi dan menembaki demonstran yang tidak bersalah,” kata seorang pejabat.
Beberapa media asing secara keliru melaporkan bahwa kota-kota besar telah "jatuh," yang berkontribusi pada disinformasi yang menurut pemerintah bertujuan untuk memicu kekacauan lebih lanjut .
(oln/khbrn/almydn/*)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ng-China-seberat-120000-ton-yang-dika-kut-88-pesawat.jpg)