Iran Klaim Tak Akan Hukum Mati Demonstran, Trump: Lihat Saja Nanti - Viva
Washington, VIVA – Seorang demonstran Iran yang sebelumnya dikhawatirkan Amerika Serikat akan segera dieksekusi dipastikan tidak akan dijatuhi hukuman mati. Hal itu disampaikan otoritas kehakiman Iran pada Kamis (15 Januari), di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan akan "mengamati dan melihat" kemungkinan langkah militer.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump berulang kali menyuarakan dukungan bagi rakyat Iran menyusul penindakan terhadap gelombang protes yang, menurut kelompok hak asasi manusia, telah menewaskan sedikitnya 3.428 orang.
Aksi unjuk rasa tersebut awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi, namun dengan cepat berkembang menjadi gerakan nasional yang menuntut penggulingan Republik Islam yang telah berkuasa sejak 1979.
Ilustrasi hukuman gantung di Iran
- Daily Mail
Gelombang protes yang membuat ribuan orang turun ke jalan di berbagai wilayah Iran menentang pemerintah yang tidak toleran terhadap perbedaan pendapat itu menjadi tantangan paling serius bagi sistem teokrasi yang berkuasa.
Hingga Rabu, Amerika Serikat mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap otoritas Iran jika hukuman mati tetap dijalankan terhadap para demonstran yang ditangkap.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump mengaku telah menerima jaminan dari "sumber-sumber yang sangat penting di pihak lain" bahwa eksekusi tersebut tidak akan dilaksanakan.
Perhatian internasional tertuju pada Erfan Soltani (26), seorang demonstran yang ditahan di Karaj, pinggiran Teheran, sejak penangkapannya. Ia menghadapi tuduhan propaganda melawan sistem Islam Iran serta bertindak melawan keamanan nasional.
Pada Kamis, pengadilan Iran menyatakan Soltani "belum dijatuhi hukuman mati" dan menegaskan bahwa jika ia terbukti bersalah, "hukuman, menurut hukum, akan berupa penjara, karena hukuman mati tidak ada untuk tuduhan seperti itu"
Perkembangan ini terjadi hanya beberapa jam sebelum Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan khusus membahas Iran pada Kamis sore, yang diminta oleh Amerika Serikat.
"Mereka mengatakan pembunuhan telah berhenti dan eksekusi tidak akan terjadi - seharusnya ada banyak eksekusi hari ini dan eksekusi tidak akan terjadi - dan kita akan mengetahuinya," kata Trump.
Pernyataan tersebut mendorong harga minyak turun pada Kamis, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi. Iran menyumbang sekitar 3 persen dari produksi minyak dunia.
Saat ditanya oleh seorang reporter AFP di Ruang Oval apakah aksi militer AS kini tidak mungkin dilakukan, Trump menjawab: "Kita akan mengamati dan melihat bagaimana prosesnya."
‘Tidak Ada Hukuman Gantung Hari Ini atau Besok’
Sehari sebelumnya, Kepala Kehakiman Iran berjanji akan mempercepat proses persidangan terhadap mereka yang ditangkap. Sementara itu, jaksa menyebut sejumlah tahanan dapat menghadapi dakwaan hukuman mati atas tuduhan “melancarkan perang melawan Tuhan”.
Media pemerintah melaporkan ratusan orang telah ditangkap, termasuk seorang warga negara asing yang dituduh melakukan spionase, tanpa merinci lebih lanjut.
Dalam wawancara dengan jaringan AS Fox News, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan tidak akan ada "hukuman gantung hari ini atau besok". Ia juga menuduh sekutu AS, Israel, berada di balik kekerasan di Iran, meski tanpa menyertakan bukti.
Menurut Araghchi, protes berubah menjadi kekerasan luas antara 7 hingga 10 Januari akibat infiltrasi "elemen eksternal yang memiliki rencana untuk menciptakan banyak pembunuhan guna memprovokasi Presiden Trump untuk terlibat dalam konflik ini dan memulai perang baru melawan Iran."
Pemerintah Iran memberlakukan pemadaman internet yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 8 Januari, ketika skala dan intensitas protes meningkat tajam. Langkah itu secara signifikan menghambat komunikasi para demonstran, baik di dalam negeri maupun dengan dunia luar.
Kelompok pemantau hak asasi manusia menyatakan pemadaman tersebut dimanfaatkan otoritas untuk melancarkan tindakan represif paling keras dalam beberapa tahun terakhir.
Menteri Kehakiman Iran Amin Hossein Rahimi turut menggemakan tudingan tersebut. Kepada kantor berita negara, ia mengatakan bahwa setelah 7 Januari, "itu bukan lagi protes" dan siapa pun yang ditangkap di jalanan pada periode tersebut "pasti adalah penjahat".