0
News
    Home Berita Featured Kabasarnas Lintas Peristiwa Pesawat ATR Spesial

    Kabasarnas Buka-bukaan, Korban ATR 42-500 Diperkirakan di Bawah Tebing Curam 500 Meter Viva

    4 min read

     

    Kabasarnas Buka-bukaan, Korban ATR 42-500 Diperkirakan di Bawah Tebing Curam 500 Meter

    Pangkep, VIVA – Perlombaan melawan waktu dan alam terus berlangsung dalam operasi pencarian korban kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

    Korban Bertambah, Seorang Perempuan Ngaku Rugi Rp1 M Terkait Dugaan Penipuan Trading Kripto Seret Nama Timothy Ronald

    Hingga hari keempat operasi SAR, Tim SAR Gabungan telah menemukan dua jenazah korban, sementara korban lainnya diperkirakan berada di bawah tebing curam dengan kedalaman mencapai 500 meter.

    Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan, lokasi jatuhnya pesawat berada di medan yang sangat ekstrem. Tebing curam, jurang dalam, serta vegetasi rapat menjadi tantangan besar bagi Tim SAR Gabungan dalam menembus area pencarian.

    Satu Orang Tewas Imbas Banjir di Jakarta Timur

    Dalam operasi SAR yang digelar pada Minggu, 18 Januari dan Senin, 19 Januari 2026, dua jenazah korban berhasil dievakuasi. Namun, upaya pencarian korban lainnya masih harus dilakukan dengan kehati-hatian tinggi, mengingat posisi korban diduga berada jauh di bawah puncak tebing.

    Melalui keterangan resmi pada Selasa, 20 Januari 2026, Syafii menegaskan bahwa proses pencarian dan evakuasi tidak bisa dilakukan dengan cara biasa, mengingat kondisi medan yang menuntut teknik khusus dan perhitungan matang.

    Viral Mayat Mengambang Saat Banjir Bekasi, BPBD Ungkap Fakta Sebenarnya

    ”Lokasi kejadian berada di medan yang sangat ekstrem, berupa tebing curam dengan perkiraan posisi korban berada di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak, sehingga menuntut kehati-hatian dan teknik evakuasi khusus,” kata dia.

    Syafii mengungkapkan, faktor cuaca menjadi hambatan paling krusial dalam operasi SAR. Tim di lapangan harus berhadapan dengan angin kencang, kabut tebal, hujan, serta jalur terjal yang membatasi ruang gerak.

    Situasi tersebut membuat evakuasi melalui jalur udara belum dapat dilakukan. Helikopter tidak mampu menembus kabut dan keterbatasan jarak pandang di kawasan pegunungan.

    ”Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan. Oleh karena itu, kami mengoptimalkan unsur darat yang secara bertahap melakukan pencarian dan upaya evakuasi,” tuturnya.

    Menurut Syafii, proses pencarian hingga kini masih terus berlangsung. Tim rescue darat yang telah menguasai medan dikerahkan secara maksimal untuk menjangkau titik-titik yang dicurigai menjadi lokasi korban.

    ”Seluruh personel SAR gabungan bekerja dengan penuh dedikasi, kehati-hatian, dan semangat kebersamaan. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar operasi ini diberikan kelancaran dan keselamatan,” kata dia.

    Basarnas menegaskan, pencarian korban dilakukan dengan memaksimalkan golden time, yakni tiga hari sejak kecelakaan pesawat terjadi pada Sabtu, 17 Januari 2026. Meski kini telah memasuki hari keempat, upaya pencarian tetap dilanjutkan tanpa mengendurkan kewaspadaan.

    ”Kurang dari 24 jam sejak kejadian, Tim SAR Gabungan sudah berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Saat ini kami memaksimalkan golden time pencarian, dengan harapan besar seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi, khususnya dalam kondisi selamat,” ujarnya.


    Komentar
    Additional JS