0
News
    Home Berita Featured Kasus Keuangan Spesial Timothy Ronald

    Kasus Timothy Ronald Jadi Sorotan, CEO Triv Ingatkan Bahaya Mentalitas Cepat Kaya - Kompas

    8 min read

     

    Kasus Timothy Ronald Jadi Sorotan, CEO Triv Ingatkan Bahaya Mentalitas Cepat Kaya



    JAKARTA, KOMPAS.com - Ledakan jumlah investor kripto di Indonesia tidak serta-merta berbanding lurus dengan kedewasaan berinvestasi. Di tengah euforia aset digital, masih banyak investor yang masuk ke pasar tanpa perhitungan risiko yang matang dan ekspektasi yang realistis.

    Hingga saat ini, populasi investor kripto di Indonesia telah menembus sekitar 20 juta orang. Angka ini dinilai signifikan karena hampir setara, bahkan dalam beberapa periode melampaui, jumlah investor saham di pasar modal. Kendati demikian, pertumbuhan jumlah investor kripto kerap diiringi perdebatan mengenai tingkat literasi investasinya.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Pendiri sekaligus CEO Triv, Gabriel Rey, menilai dengan basis investor sebesar itu, sulit mengatakan bahwa masyarakat sama sekali tidak memahami kripto. Menurutnya, persoalan utama dalam ekosistem kripto Tanah Air bukan terletak pada kurangnya pengetahuan dasar, melainkan pada lemahnya manajemen risiko serta pola pikir investor yang masih ingin meraih keuntungan secara instan.

    “Dan kalau kita lihat dengan jumlah investor kripto di Indonesia yang sudah menyentuh 20 juta, tentu literasi sebenarnya sudah sangat aware. Tinggal yang kurang itu adalah risk management-nya,” ujar Gabriel saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2025).

    Potret Anak-anak Latihan Akrobatik di Gang Sempit Jakarta, Berbuah Medali Kejurnas

    Baca juga: Timothy Ronald dan Industrialisasi Harapan dalam Investasi Digital

    Banyak investor masuk kripto dengan ekspektasi untung besar

    Gabriel menjelaskan, salah satu kesalahan yang paling sering ditemui adalah investor enggan atau abai dalam mengatur rasio risiko dan imbal hasil (risk to reward ratio). Padahal, dalam dunia investasi, aspek tersebut merupakan fondasi utama untuk menjaga keberlanjutan portofolio.

    Ia mengaku banyak investor masuk ke kripto dengan ekspektasi keuntungan besar, tetapi tanpa perhitungan risiko yang memadai. Akibatnya, keputusan investasi kerap diambil secara emosional dan spekulatif, terutama ketika pasar sedang bergejolak.

    “Kadang orang itu tidak mau mengatur risk to reward ratio-nya. Padahal ini sangat penting di dalam dunia investasi,” paparnya.

    Adapun, pembelajaran yang harus diperkuat ke depan adalah disiplin dalam manajemen risiko, khususnya bagi investor muda. Gabriel mengakui mayoritas investor kripto di Indonesia berasal dari kalangan generasi Z (Gen Z) yang sangat adaptif terhadap teknologi, tetapi juga rentan tergoda oleh narasi keuntungan cepat.

    “Mungkin yang harus berikutnya dipelajari oleh para investor muda kita adalah belajar mengatur risk reward ratio dan juga risk management-nya. Cuma yang harus dirubah adalah mindset pengen cepat kaya dan juga risk management-nya. Itu aja, karena kebanyakan investor kripto adalah Gen Z. Nah, mungkin inilah yang harus diperbaiki,” beber Gabriel.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Baca juga: Bagaimana Sistem Investasi Kripto yang Bikin Timothy Ronald Dilaporkan Dugaan Penipuan?

    Edukasi, agar investor tak FOMO

    Lebih jauh, ia menilai industri kripto, termasuk bursa dan pelaku usaha di dalamnya, telah lama berupaya mendorong edukasi kepada publik. Ia mencontohkan Triv yang tidak hanya berperan sebagai platform jual beli aset kripto, tetapi juga aktif mengembangkan kanal edukasi bagi masyarakat luas.

    Salah satu inisiatif tersebut adalah menghadirkan media edukasi kripto bernama Crypto Wave Media. Seluruh konten yang disajikan dibagikan secara gratis dan dapat diakses oleh siapa saja.

    Menanggapi pandangan sebagian analis keuangan yang menilai investasi kripto di Indonesia lebih banyak didorong oleh fenomena fear of missing out (FOMO) ketimbang literasi, Gabriel menyatakan kurang sependapat. Ia memandang FOMO memang ada, tetapi tidak bisa serta-merta disimpulkan bahwa literasi masyarakat rendah.

    “Kalau dibilang literasi kurang, saya kurang setuju. Kita termasuk salah satu negara dengan pengguna kripto terbesar di Asia Tenggara. Artinya, awareness itu sudah tinggi,” katanya.

    Meski demikian, ia mengakui tingginya awareness belum selalu diiringi dengan kedewasaan dalam mengambil keputusan investasi. Menurutnya, banyak investor masih melihat kripto sebagai jalan pintas untuk cepat kaya, bukan sebagai instrumen investasi berisiko tinggi yang membutuhkan strategi dan kesabaran.

    Gabriel mencontohkan bagaimana gaya hidup mewah yang kerap muncul di media sosial sering disalahartikan sebagai hasil instan dari investasi kripto. Padahal, di balik kesuksesan tersebut, terdapat proses panjang dan pengalaman bertahun-tahun di pasar.

    “Saya sering bilang, ini semua proses. Saya sudah 12 tahun di market. Tidak ada cerita beli Bitcoin hari ini, bulan depan langsung beli mobil sport. Itu mindset yang salah,” tukasnya.

    Baca juga: Pasar Kripto Hijau, Harga Bitcoin Melonjak ke Level 95.391 Dollar AS

    Berkaca kasus Timothy Ronald, kripto bukan solusi instan raih kekayaan

    Ia menekankan bahwa kripto bukanlah solusi instan untuk meraih kekayaan. Tanpa manajemen risiko yang baik dan ekspektasi yang realistis, investor justru berpotensi menghadapi kerugian besar.

    Ihwal pengaruh influencer, Gabriel menilai keputusan investasi pada akhirnya tetap harus bersumber dari kesadaran pribadi. Ia enggan mengomentari figur tertentu, tetapi menegaskan bahwa tanggung jawab utama berada di tangan masing-masing investor.

    Untuk diketahui, laporan dugaan penipuan investasi kripto melibatkan nama Timothy Ronald, turut menjadi perhatian publik dan memicu diskusi mengenai kepercayaan masyarakat terhadap figur publik di bidang edukasi keuangan digital.

    Perkara ini tidak hanya berkaitan dengan proses hukum yang tengah berjalan, tetapi juga membuka ruang pembahasan yang lebih luas mengenai pentingnya pemahaman berinvestasi kripto secara tepat agar masyarakat terhindar dari potensi kerugian besar.

    Timothy Ronald dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penipuan investasi trading aset kripto. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Bhudi Hermanto membenarkan adanya laporan tersebut dan menyatakan kepolisian telah memulai tahapan penyelidikan.

    Polisi juga memanggil pihak pelapor untuk mendalami bukti-bukti yang disampaikan guna memperoleh gambaran perkara secara menyeluruh.

    “Saat ini terlapor masih dalam proses penyelidikan,” ujar Bhudi saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (11/1/2026).

    Kasus ini mencuat ke publik setelah akun Instagram @skyholic888 mengunggah informasi bahwa sejumlah anggota Akademi Crypto telah melaporkan Timothy Ronald dan rekannya, Kalimasada. Akademi Crypto diketahui merupakan komunitas yang didirikan oleh keduanya.

    Dalam unggahan tersebut, pelapor menyampaikan dugaan adanya ajakan investasi pada sejumlah aset kripto yang disebut berujung pada keuntungan sepihak.

    Akun tersebut juga mengklaim jumlah pihak yang merasa dirugikan mencapai sekitar 3.500 orang, dengan estimasi kerugian lebih dari Rp 200 miliar. Hingga kini, klaim tersebut masih menjadi bagian dari proses pendalaman aparat penegak hukum.

    Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

    Komentar
    Additional JS