0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Greenland Ilmu Pengetahuan Salju Spesial

    Kenapa Disebut Greenland Padahal Diselimuti Salju? Ini Sejarahnya - Beritasatu.com

    6 min read

     

    Kenapa Disebut Greenland Padahal Diselimuti Salju? Ini Sejarahnya

    Rabu, 7 Januari 2026 | 15:30 WIB
    MF
    MF

    Alasan Greenland disebut tanah hijau padahal tertutup salju. (AP Photo/AP)

    Jakarta, Beritasatu.com - Greenland merupakan salah satu pulau terbesar di dunia yang terletak di antara Samudra Arktik dan Samudra Atlantik Utara.

    Nama Greenland kerap memunculkan pertanyaan karena secara harfiah berarti tanah hijau, padahal sebagian besar wilayahnya justru diselimuti es dan salju. Keunikan inilah yang membuat sejarah penamaan Greenland menarik untuk ditelusuri lebih dalam.

    Greenland membentang sekitar 2.670 kilometer dari utara ke selatan dan lebih dari 1.050 kilometer dari timur ke barat. Dengan luas sekitar 2,16 juta kilometer persegi, pulau ini tercatat sebagai pulau terbesar di dunia.

    Secara geografis, Greenland berada di Samudra Atlantik Utara dan dikelilingi wilayah Arktik. Sebagian besar wilayah Greenland didominasi oleh tundra luas dan gletser raksasa.

    Lebih dari 80% daratannya tertutup lapisan es, dengan ketebalan rata-rata sekitar 1.500 meter dan pada titik tertentu dapat mencapai hingga 3.000 meter. Kondisi inilah yang membuat Greenland tampak putih jika dilihat dari peta dunia.

    BACA JUGA

    Ambisi Trump Incar Greenland Kembali Menguat, Ini Keistimewaannya

    Meski sering dianggap sebagai negara tersendiri, Greenland merupakan bagian dari Kerajaan Denmark. Namun demikian, wilayah ini memiliki pemerintahan sendiri dengan otonomi luas dalam mengatur urusan domestik.

    Karena sebagian besar daratan tertutup es, Greenland tidak memiliki jaringan jalan raya atau rel kereta api antarkota. Jalan hanya terdapat di sekitar permukiman.

    Transportasi utama dilakukan melalui pesawat, kapal, helikopter, mobil salju, dan kereta luncur, dengan kapal menjadi moda yang paling populer di kalangan penduduk.

    Mengapa Greenland Disebut Tanah Hijau?

    Melihat bentang alamnya saat ini, wajar jika muncul pertanyaan mengapa wilayah bersalju ini dinamai Greenland. Jawabannya berkaitan erat dengan sejarah bangsa Viking dan kondisi iklim pada masa lalu yang berbeda jauh dari sekarang.

    Secara harfiah, Greenland berarti tanah hijau. Meski kini hampir seluruh wilayahnya tertutup es, para ilmuwan meyakini bahwa jutaan tahun lalu, Greenland pernah memiliki daratan yang jauh lebih hijau.

    Bahkan, wilayah selatan pulau ini hingga sekarang masih memiliki area dengan vegetasi berupa padang rumput dan sisa-sisa hutan.

    Tradisi penamaan bangsa Viking umumnya didasarkan pada apa yang mereka lihat. Kisah ini bermula pada abad ke-9 ketika para pelaut Viking mulai menjelajahi wilayah Atlantik Utara.

    Dilansir dari Britannica, pada sekitar tahun 850 Masehi, seorang Viking bernama Naddador mendarat di sebuah pulau yang kini dikenal sebagai Islandia. Karena tiba saat salju turun, ia menyebut wilayah tersebut sebagai Snow Land.

    Beberapa waktu kemudian, Flóki Vilgerðarson mengunjungi pulau yang sama. Setelah mengalami perjalanan yang penuh kesedihan dan melihat teluk yang dipenuhi gunung es, ia menamai pulau itu sebagai Islandia, nama yang bertahan hingga kini.

    Bertahun-tahun setelah Islandia dihuni oleh bangsa Viking, muncul sosok Erik the Red. Ia merupakan seorang penjelajah yang diasingkan dari Islandia akibat perseteruan berdarah dan kasus pembunuhan. Karena tidak dapat kembali ke Norwegia, Erik berlayar lebih jauh ke barat.

    Sekitar tahun 983-985 Masehi, Erik tiba di wilayah barat daya Greenland, salah satu dari sedikit bagian pulau yang tidak tertutup es.

    Daerah tersebut relatif subur, dengan rerumputan dan potensi pertanian yang baik. Melihat kondisi alam yang hijau itu, Erik menamai wilayah barunya sebagai Greenland.

    Penamaan Greenland tidak lepas dari strategi Erik the Red. Ia percaya bahwa nama yang terdengar menarik akan mendorong lebih banyak orang untuk pindah dan menetap di sana.

    Setelah membangun beberapa permukiman di wilayah yang lebih subur, Erik kembali ke Islandia untuk meyakinkan orang-orang agar ikut berlayar ke Greenland.

    Strategi ini terbukti berhasil. Erik berangkat kembali dengan sekitar 35 kapal yang membawa penduduk Islandia beserta hewan ternak.

    Meski demikian, hanya 14 kapal yang akhirnya benar-benar tiba di Greenland. Dari sinilah komunitas Viking kecil mulai berkembang di pulau tersebut.

    Bangsa Viking yang menetap di Greenland ternyata hidup pada masa yang dikenal sebagai Periode Hangat Abad Pertengahan.

    Data dari inti es dan cangkang moluska menunjukkan bahwa antara tahun 800 hingga 1300 Masehi, wilayah Greenland selatan memiliki suhu yang lebih hangat dibandingkan kondisi saat ini.

    Pada masa itu, pertanian dan peternakan seperti domba serta tanaman pangan masih dapat berkembang. Dalam konteks iklim tersebut, nama Greenland menjadi masuk akal karena wilayah tertentu memang tampak hijau dan layak dihuni.

    Perubahan Iklim dan Zaman Es Kecil

    Kondisi mulai berubah drastis setelah abad ke-13. Sekitar tahun 1257 Masehi, letusan gunung api besar di Indonesia memicu pendinginan global yang dikenal sebagai Zaman Es Kecil. Dampaknya terasa kuat di Greenland dan Islandia.

    Suhu di Greenland terus menurun dari tahun ke tahun. Musim panas menjadi lebih pendek, panen berkurang, dan es laut semakin meluas. Kondisi ini membuat pelayaran semakin berisiko dan sumber makanan menjadi langka.

    Bangsa Viking di Greenland berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan iklim, tetapi  upaya tersebut tidak cukup.

    Lingkungan yang semakin dingin dan tertutup es akhirnya memaksa mereka meninggalkan pulau tersebut. Pada akhirnya, tidak ada lagi komunitas Viking yang bertahan di Greenland.

    Seiring waktu, sebagian besar daratan Greenland kembali tertutup lapisan es tebal. Pulau yang dahulu memiliki wilayah hijau kini dikenal sebagai salah satu kawasan es terbesar di dunia, terbesar kedua setelah Antartika.

    Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa sekitar 2,5 juta tahun lalu, Greenland kemungkinan memiliki daratan yang jauh lebih hijau. Studi terbaru menemukan tanah purba yang membeku secara kriogenik selama jutaan tahun di bawah lapisan es setebal hampir dua mil.

    Saat ini, para ahli mengamati bahwa lapisan es Greenland mulai mencair akibat perubahan iklim. Fenomena ini bahkan berpotensi memengaruhi suhu di Islandia. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin suatu hari Greenland kembali menampilkan lebih banyak warna hijau, sementara Islandia justru semakin dingin.

    BACA JUGA

    Panas! Denmark Panggil Dubes AS Terkait Isu Caplok Greenland

    Nama Greenland bukanlah sebuah kesalahan, melainkan cerminan sejarah panjang yang dipengaruhi kondisi iklim, tradisi bangsa Viking, dan strategi seorang penjelajah bernama Erik the Red. Meski kini identik dengan es dan salju, Greenland pernah memiliki wilayah hijau yang membuat namanya terasa relevan pada masanya.

    Komentar
    Additional JS