0
News
    Home Aceh Tamiang Aceh Utara Bencana Bener Meriah Berita Featured Lintas Peristiwa Spesial Sumatera

    Krisis Air Bersih di Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Tamiang; Warga Manfaatkan Sungai Keruh untuk Bertahan Hidup - NU Online

    6 min read

     

    Krisis Air Bersih di Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Tamiang; Warga Manfaatkan Sungai Keruh untuk Bertahan Hidup

    NU Online  ·  Kamis, 1 Januari 2026 | 18:00 WIB


    Warga Bener Meriah, Aceh memanfaatkan sungai keruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (Foto: NU Online/Lukman)

    Rikhul Jannah

    Jakarta, NU Online

    Krisis air bersih masih membelit kehidupan warga di sejumlah wilayah Provinsi Aceh, seperti di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Utara, hingga Aceh Tamiang.​​​​Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor, akses terhadap air layak konsumsi belum sepenuhnya pulih. Dalam keterbatasan, sungai yang keruh dan tercemar pun menjadi sandaran terakhir untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

    Di Bener Meriah, kondisi krisis air bersih masih dirasakan sangat parah meski telah berlalu sekitar satu bulan sejak bencana. Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Bener Meriah, Nurbaeti, menegaskan bahwa situasi tersebut belum menunjukkan perbaikan signifikan.

    Baca Juga

    Prabowo Ungkap Kembali Alasan Banjir dan Longsor di Sumatra Tidak Berstatus Bencana Nasional

    "Masih sangat krisis air bersih,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (1/1/2026).


    Menurutnya, kerusakan lingkungan akibat longsor turut memperburuk kondisi sumber air. Tanah masih terus bergerak perlahan akibat hujan yang hampir turun setiap hari. Sungai pun melebar dari kondisi sebelumnya, sebagian tertutup material longsor berupa tanah dan kayu, sehingga kualitas air semakin memburuk.

    "Tanah kondisinya masih turun, pelan-pelan dengan air karena hujan hampir tiap hari, kondisi sungai melebar dari sebelumnya dan sungai sebagian tertutup tanah longsor dan kayu-kayu, dan air lebih keruh,” jelasnya.

    Baca Juga

    Pulihkan Rumah Ibadah Pascabencana, PCNU–GP Ansor Aceh Besar Turun Langsung ke Pidie Jaya


    Dalam situasi terdesak, ia mengatakan bahwa warga tidak memiliki banyak pilihan. Sungai yang keruh tetap dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas penting, mulai dari mencuci, mandi, hingga kebutuhan minum.

    Nurbaeti menjelaskan, krisis air bersih yang berkepanjangan ini terjadi karena sumber-sumber mata air tertutup tanah dan kayu akibat longsor. Kondisi hutan yang gundul semakin memperparah keadaan.


    “Karena akibat sumber mata air sudah tertutup tanah dan kayu, akibat longsor dan pohon sudah gundul,” ujarnya.

    Baca Juga

    Dapur Umum Jadi Napas Kehidupan Pascabanjir Aceh Tamiang, Warga hingga Relawan NU Peduli Turun Tangan Memasak

    Dampak kesehatan pun mulai dirasakan warga. Sejumlah warga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan akibat penggunaan air kotor, seperti penyakit kulit dan diare. “Ada yang terkena penyakit itu,” jawab Nurbaeti.


    Ironisnya, warga yang sakit belum mendapatkan penanganan medis yang memadai. Akses menuju fasilitas kesehatan sangat terbatas, sementara tenaga medis nyaris tidak tersedia di wilayah terdampak.


    “Sampai hari kondisi warga yang terkena penyakit belum bisa tertangani karena akses jauh dan mereka enggak bisa ke Puskesmas dan dokter dan tenaga medis lainya tidak ada, mereka mengamankan keluarga sendiri sendiri,” tuturnya.

    Baca Juga

    Pergantian Tahun di Tengah Musibah, Ketua PWNU Aceh Ajak Masyarakat Isi dengan Doa dan Zikir


    Dalam kondisi tersebut, warga bertahan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan menampung air hujan sebagai sumber air bersih utama.

    “Mereka memanfaat air hujan termasuk saya selalu menampung air hujan untuk air bersih karena air mineral juga langka dan sangat mahal. kalau engga ada air hujan terpaksa air keruh yang ada di manfaatkan untuk bertahan hidup,” ungkap Nurbaeti.


    Bagi warga yang tinggal di wilayah kota, masjid menjadi alternatif terakhir. Namun, ia mengungkapkan bagi warga di pedalaman, sungai dan parit yang telah tertimbun kayu dan tanah tetap menjadi sumber air yang terpaksa digunakan.

    Baca Juga

    Akhir Tahun 2025, Kondisi Pengungsi dan Dunia Pendidikan Sangat Memprihatinkan di Pidie Jaya

    Sementara itu, Pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Anwar Sani mengungkapkan bahwa keterbatasan air bersih telah mendorong warga, termasuk anak-anak, beraktivitas langsung di bantaran sungai.

    “Mereka kadang-kadang mandi di pinggir kali, gitu. Jadi anak-anak kecil gitu. kesadaran mereka atau karena mereka mungkin melihat orang tuanya pada beraktifitas di kali atau sungai, jadi membuat seperti itu juga kan,” ujarnya kepada NU Online, Senin (29/12/2025).


    Menurut Anwar, persoalan utama yang dihadapi warga adalah belum meratanya akses air bersih, khususnya di Aceh Utara.

    Baca Juga

    Rp3 Miliar Terhimpun LAZISNU Jatim Bantu Penyintas Bencana Sumatra

    “Karena yang terpenting memang air bersih. Karena air bersih itu kan belum merata dan belum semuanya. Air bersih di Aceh Utara masih terganggu,” katanya.


    Sebagian warga yang memiliki akses listrik berusaha bertahan dengan memperbaiki pompa air secara mandiri. Namun, upaya ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang.

    “Kalau rumahnya sudah ada akses listriknya gitu, mereka membetulkan alat pompa airnya. Itu enggak semuanya merata gitu yang bisa punya air bersih. Hanya beberapa gitu,” jelasnya.


    Akibat keterbatasan tersebut, sungai kembali menjadi pilihan utama untuk mandi dan mencuci pakaian. “Akhirnya sekarang mereka kalau mau melakukan mandi, nyuci baju ya dibantaran dekat Kali itu, mereka menggunakan Kali untuk cuci, mandi. Cuci baju kebanyakan kalau saya lihat,” tutur Anwar.


    Ia menggambarkan kondisi sungai di wilayah Tanjung Dalam Selatan yang sangat memprihatinkan. Air tampak keruh, berwarna cokelat, dan digunakan bersama oleh manusia serta hewan ternak. “Air kali disana keruh, coklat, kotor, tapi Mereka kan tidak ada pilihan takutnya kan ada kotorannya,” ungkapnya.


    Kondisi serupa juga terjadi di Aceh Tamiang. Zikria Fitri, tim posko Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, menyebutkan bahwa akses air bersih masih sangat terbatas, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari jalan utama.


    “Air bersih pun juga masih kurang, banyak warga yang belum mendapatkan akses air bersih, banyak pipa air itu putus dan rusak,” ujarnya pada Selasa (30/12/2025).


    Sulitnya mendapatkan air bersih berdampak langsung pada kesehatan warga. “Sulitnya mendapatkan air jadi warga ada yang sakit, kaya demam, diare, jadi warga pada minta minyak kayu putih dan obat-obatan,” kata Zikria.

    ============

    Para dermawan bisa donasi lewat NU Online Super App dengan mengklik banner "Darurat Bencana" yang ada di halaman Beranda atau via web filantropi di tautan berikut: filantropi.nu.or.id.

    Komentar
    Additional JS