0
News
    Home Berita Featured Gus Ipul Mensos Pendidikan Sekolah Rakyat Spesial

    Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat untuk Putus Rantai Kemiskinan - detik

    4 min read

     

    Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat untuk Putus Rantai Kemiskinan

    Mensos Gus Ipul saat memberikan arahan di Surabaya (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
    Surabaya -

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan Sekolah Rakyat bukan sekadar lembaga pendidikan alternatif, melainkan upaya untuk memutus rantai kemiskinan dari hulu. Penguatan sumber daya manusia hingga tata kelola menjadi hal penting.

    Hal itu disampaikan Gus Ipul saat memberikan arahan teknis kepada kepala sekolah dan tenaga kependidikan Sekolah Rakyat di Jawa Timur. Agenda ini turut dihadiri Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Menteri PPA Arifatul Choiri Fauzi, hingga Prof. Dr. Mohammad Nuh.

    Gus Ipul, sapaan akrabnya, menyebut forum ini sebagai momentum penting karena melibatkan langsung unsur kunci pengelola Sekolah Rakyat, mulai wali asrama, wali asuh, kepala sekolah, hingga perwakilan guru.

    "Kami ingin memberikan penguatan agar penyelenggaraan Sekolah Rakyat makin baik dari sisi tata kelola keuangan maupun tata kelola yang lain," kata Gus Ipul di Surabaya, Jumat (16/1/2026).

    Menurutnya, proses seleksi guru Sekolah Rakyat telah melalui tahapan ketat. Tantangan saat ini justru finilah ada pada peningkatan kapasitas wali asrama dan wali asuh yang berperan besar dalam pembentukan karakter siswa.

    "Memang tinggal wali asrama wali asuh ini yang masih memerlukan peningkatan kapasitas nanti lewat pelatihan baik secara online maupun secara offline," bebernya.

    Ia juga menjelaskan bahwa sistem Sekolah Rakyat menggabungkan pembelajaran akademik dan pembiasaan hidup di asrama. Guru mendampingi siswa saat jam sekolah, sementara wali asrama dan wali asuh membina siswa di luar jam belajar.

    Pendekatan ini, kata dia, dirancang untuk memperkuat karakter dan keterampilan hidup siswa melalui pembiasaan yang konsisten.

    Dari sisi capaian, Gus Ipul menyebut kondisi fisik dan kesehatan siswa Sekolah Rakyat rata-rata menunjukkan perbaikan. Proses pembelajaran juga mulai adaptif dengan teknologi meski masih memerlukan masa pembiasaan.

    "Komputer laptop atau juga baru saja diterima jadi ini perlu pembiasaan baru yang insyaallah tidak perlu waktu lama untuk mereka akan bisa menyesuaikan," tuturnya.

    Sekolah Rakyat saat ini pun didukung sarana digital yang relatif lengkap. Setiap kelas dilengkapi papan tulis digital, sementara guru dan siswa menggunakan laptop dalam proses belajar mengajar.

    "Di setiap kelas itu menggunakan papan tulis digital siswanya menggunakan laptop gurunya juga menggunakan laptop jadi sudah cukup lengkap ya sarana dan prasarananya," tambahnya.

    Namun, ia menegaskan Sekolah Rakyat bukan sekolah biasa. Peserta didik datang dari latar belakang yang sangat beragam, mulai dari siswa yang belum lancar membaca hingga anak dengan kondisi kesehatan yang belum sepenuhnya pulih.

    "Ini sekolah menjadi bagian dari pengentasan kemiskinan di dalamnya ada perlindungan dan jaminan sosial, ada rehabilitasi," tegasnya.

    Bahkan, dampak Sekolah Rakyat tidak hanya ditujukan pada anak, tetapi juga keluarganya.

    "Ini sekolah yang diharapkan, anaknya nanti sekolah orangtuanya juga naik kelas menjadi keluarga yang mandiri," imbuhnya.

    Dari sisi pengembangan, Gus Ipul menyebut kapasitas Sekolah Rakyat berpotensi meningkat signifikan seiring pembangunan gedung permanen. Satu sekolah permanen ditargetkan menampung hingga 300 siswa per tahun.

    Saat ini, Sekolah Rakyat juga telah dirintis di wilayah 3T seperti Natuna, Anambas, dan Maluku. Target nasionalnya, setiap kabupaten minimal memiliki satu Sekolah Rakyat dari tingkat SD sampai SMA.

    Untuk Jawa Timur, saat ini sudah ada 26 Sekolah Rakyat. Ini menjadi capaian terbaik secara masional.

    Gus Ipul juga menegaskan kurikulum soft skill telah disiapkan untuk memastikan lulusan Sekolah Rakyat tidak menganggur. Saat ini tercatat lebih dari 6.000 siswa SMA Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia.

    "74 persen menyatakan ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Kita bisa bimbing supaya bisa dapat beasiswa dari pemerintah maupun swasta," ujarnya.

    Sementara sisanya ingin menjadi pekerja terampil atau wirausahawan, yang akan didampingi lintas kementerian hingga sektor swasta. Lulusan pertama Sekolah Rakyat secara nasional ditargetkan siap pada 2028.

    "Kita harapkan mereka tidak menganggur, kita harapkan mereka jadi agen perubahan," pungkas Gus Ipul.






    (auh/abq)

    Komentar
    Additional JS