Nyamuk Hutan Mulai Memburu Manusia Saat Habitat Mereka Menyusut - mongabay
Kerusakan ekosistem global kini memicu pergeseran interaksi antara manusia dan satwa liar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika bentang alam alami terfragmentasi oleh pembangunan dan deforestasi, batas antara lingkungan liar dan pemukiman menjadi kabur. Salah satu dampak paling nyata adalah perubahan perilaku serangga penghisap darah yang kini dipaksa beradaptasi dengan kehadiran manusia di sekitar habitat mereka yang tersisa.
Kerusakan hutan di Brasil membawa peringatan serius bagi kesehatan global. Sebuah studi terbaru mengungkapkan fenomena mengkhawatirkan di sisa-sisa Hutan Atlantik (Atlantic Forest). Nyamuk-nyamuk yang seharusnya menghuni kedalaman hutan kini beralih memburu darah manusia sebagai sumber makanan utama. Fenomena ini dipicu oleh fragmentasi hutan yang membuat inang alami mereka menghilang dengan cepat.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Institut Oswaldo Cruz dan Universitas Federal Rio de Janeiro. Mereka mengamati perilaku nyamuk di dua cagar alam yang terkepung oleh ekspansi manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa manusia kini menjadi target buruan utama bagi serangga tersebut. Pergeseran perilaku ini bukan sekadar gangguan kecil. Hal ini menjadi jembatan bagi virus berbahaya untuk melompat dari satwa liar ke pemukiman penduduk.
Hilangnya Inang Alami di Hutan yang Terfragmentasi
Hutan Atlantik di Brasil merupakan salah satu wilayah dengan biodiversitas tertinggi di dunia. Namun. dekade ekspansi manusia telah mengubah bentang alam ini menjadi potongan-potongan kecil yang terisolasi. Saat ini hanya sekitar sepertiga dari luas asli hutan yang masih utuh.
Fragmentasi ini merusak seluruh rantai makanan. Mamalia. burung. dan amfibi yang biasanya menjadi sumber darah bagi nyamuk mulai kehilangan habitat. Hewan-hewan tersebut terpaksa pindah atau punah secara lokal. Ketika inang alami sulit ditemukan. nyamuk mulai memburu pilihan termudah yang tersedia di sekitar mereka. yaitu manusia.

“Nyamuk di sisa-sisa Hutan Atlantik menunjukkan preferensi yang jelas untuk memakan manusia,” kata Jeronimo Alencar. ahli biologi dari Institut Oswaldo Cruz. Hal ini sangat krusial. Dalam lingkungan dengan keragaman inang yang tinggi. kecenderungan nyamuk yang beralih memburu manusia akan meningkatkan risiko transmisi patogen secara signifikan.
Bukti DNA: Manusia Menjadi Target Utama
Untuk memahami apa yang sebenarnya diburu oleh nyamuk. para peneliti memasang perangkap cahaya di dua cagar alam di negara bagian Rio de Janeiro. Mereka mengumpulkan sebanyak 1.714 individu nyamuk dari 52 spesies berbeda. Fokus utama penelitian ini diarahkan pada nyamuk betina yang perutnya membesar karena darah. yang kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis lebih lanjut.

Tim peneliti menggunakan teknik barcode DNA untuk mengidentifikasi spesies inang dari sampel darah tersebut. Hasilnya sangat mengejutkan karena dari 24 sampel darah yang berhasil diidentifikasi secara akurat. sebanyak 18 di antaranya berasal dari manusia. Sementara itu. sisanya hanya mencakup campuran kecil dari inang lain seperti amfibi. burung. anjing. dan tikus. Temuan ini mempertegas bahwa di tengah keragaman hayati hutan. darah manusia telah mendominasi konsumsi nyamuk di wilayah tersebut.
Beberapa nyamuk bahkan menunjukkan perilaku makan campuran. Seekor nyamuk ditemukan membawa darah amfibi dan manusia sekaligus. Hal ini membuktikan bahwa nyamuk sangat fleksibel dan akan memburu target apa pun yang paling mudah dijangkau saat habitat asli mereka tidak lagi menyediakan cukup pilihan bagi kelangsungan hidup mereka.
Risiko Penyakit dan Masa Depan Kesehatan Masyarakat
Perubahan target buruan nyamuk ini memiliki implikasi besar terhadap kesehatan masyarakat. Di wilayah tersebut. nyamuk dikenal sebagai pembawa virus penyebab Demam Kuning. Dengue. Zika. Mayaro. hingga Chikungunya.
Ketika nyamuk yang biasanya menggigit satwa liar mulai rutin memburu manusia. risiko spillover atau tumpahan penyakit meningkat drastis. Manusia yang tinggal di pinggiran hutan menjadi garda terdepan yang paling rentan terpapar virus-virus baru yang selama ini tersembunyi di dalam hutan.
Para peneliti menekankan bahwa pemantauan perilaku nyamuk dalam memburu inang sangat penting untuk memprediksi wabah di masa depan. Dengan mengetahui bahwa nyamuk di area tertentu memiliki preferensi kuat terhadap manusia. otoritas kesehatan dapat melakukan tindakan pencegahan yang lebih terarah. Strategi pengendalian jangka panjang harus mulai mempertimbangkan keseimbangan ekosistem agar nyamuk tidak lagi berpaling ke pemukiman untuk bertahan hidup.
Penelitian ini diterbitkan di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution.