0
News
    Home Featured Ilmu Pengetahuan Kasus King Kobra Panji Petualang Spesial

    Panji Petualang Ingatkan: King Kobra Tak Akan Menyerang Jika Tak Diusik - Kompas

    4 min read

     

    Panji Petualang Ingatkan: King Kobra Tak Akan Menyerang Jika Tak Diusik

    Kompas.com, 8 Oktober 2025, 18:30 WIB
    Lihat Foto

    KOMPAS.com – Kasus tewasnya Abah Ocang (73), warga Sukabumi yang dipatuk ular king kobra sepanjang empat meter, menjadi perhatian banyak pihak.

    Pawang ular sekaligus YouTuber, Panji Petualang, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan berhadapan dengan ular liar, terutama jenis berbisa seperti king kobra.

    Menurut Panji, ular secara naluri bukan hewan yang agresif. Mereka akan menyerang hanya jika merasa terancam atau terusik.

    “Kalau enggak diganggu, ular king kobra itu enggak akan merasa terancam dan enggak akan menyerang. Tapi, berbeda jika mereka diusik, maka ular king kobra akan melawan untuk pertahanan dan tak segan menggigit korbannya,” ujar Panji kepada Tribun Jabar, Selasa (7/10/2025).

    Pandji Pragiwaksono Dilaporkan atas Dugaan Penistaan Agama dan Penghasutan

    Ia menegaskan, pertemuan antara manusia dan ular sering kali berujung konflik karena rasa panik atau keinginan untuk membunuh ular tersebut. Padahal, kata dia, langkah paling aman adalah menjauh dan tidak mengusik reptil itu.

    Durasi Kematian Akibat Gigitan King Kobra Tergantung Imunitas

    Panji menjelaskan bahwa bisa ular king kobra sangat berbahaya dan bisa mematikan dalam waktu singkat. Kecepatan efek racunnya tergantung pada daya tahan tubuh korban.

    Jika imunitas lemah, kematian dapat terjadi hanya dalam 1–3 jam tanpa penanganan medis.

    Jika imunitas kuat, korban bisa bertahan hingga dua hari, meski tetap dalam kondisi kritis.

    Karena itu, Panji menekankan pentingnya pertolongan pertama yang tepat begitu seseorang tergigit ular berbisa.

    Teknik Immobilisasi: Langkah Pertama yang Harus Diketahui

    Menurut Panji, kesalahan umum saat menangani korban gigitan ular adalah melakukan tindakan yang justru mempercepat penyebaran racun, seperti menyedot luka atau mengikat terlalu kuat.

    Ia menyarankan agar korban segera menerapkan teknik immobilisasi, yaitu menstabilkan bagian tubuh yang digigit agar tidak banyak bergerak. Cara ini dapat dilakukan dengan menggunakan kain atau bidai untuk menahan pergerakan.

    “Tujuan immobilisasi adalah memperlambat penyebaran bisa secara sistemik ke seluruh tubuh,” jelas Panji.

    Panji juga menyoroti pentingnya membawa korban ke rumah sakit sesegera mungkin untuk mendapatkan Serum Anti Bisa King Kobra (Antivenom King Cobra). Namun, ketersediaan serum ini di Indonesia masih terbatas.

    Harga satu vial antivenom yang diproduksi Bio Farma mencapai sekitar Rp2,3 juta, dan pada kasus gigitan berat bisa dibutuhkan lebih dari satu vial.

    “Waktu adalah hal paling krusial. Jangan menunda-nunda penanganan karena bisa menyebar cepat dan menyebabkan kegagalan organ vital,” ujarnya.

    Pesan Panji: Jangan Anggap Ular Musuh, Tapi Waspadai Habitatnya

    Panji mengajak masyarakat untuk lebih memahami perilaku ular dan menghormati habitatnya. Ia menilai banyak insiden terjadi karena manusia terlalu mudah panik atau berusaha membunuh ular yang sebenarnya tidak bermaksud menyerang.

    “Ular itu makhluk defensif, bukan agresif. Mereka hanya bertahan hidup seperti kita. Kalau tak diganggu, mereka akan pergi sendiri,” tutur Panji.

    Ia berharap kasus yang menimpa Abah Ocang bisa menjadi pelajaran agar masyarakat lebih bijak menghadapi hewan liar. “Jangan hadapi, jangan tantang. Hindari dan laporkan ke pihak berpengalaman jika melihat ular besar,” tambahnya.

    Tragedi di Sukabumi ini menjadi pengingat bahwa keberanian tanpa pengetahuan justru bisa berujung fatal. Seperti pesan Panji Petualang, kewaspadaan dan ketenangan jauh lebih penting daripada keberanian saat berhadapan dengan ular berbisa.

    Komentar
    Additional JS