Penjelasan Kenapa Dulu Ada Banyak Pabrik Gula di Solo Raya, Sempat jadi Pemasok Dunia - Tribunsolo
Penjelasan Kenapa Dulu Ada Banyak Pabrik Gula di Solo Raya, Sempat jadi Pemasok Dunia - Tribunsolo.com
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Banyaknya bekas pabrik gula di Solo Raya berawal dari pesatnya industri gula pada masa kolonial Belanda, didukung iklim, tanah subur, dan teknologi mesin uap.
- Surakarta berkembang jadi pusat industri gula karena ekonomi liberal lebih awal, dengan puluhan pabrik dan produksi tertinggi di Jawa pada akhir abad ke-19.
- Industri gula merosot akibat bencana alam, krisis ekonomi 1930-an, perang, dan tingginya biaya produksi; kini sebagian pabrik jadi wisata sejarah.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pernahkah Tribuners bertanya-tanya kenapa banyak bekas pabrik gula di Solo Raya (Eks Keresidenan Surakarta)?
Bekas Pabrik Gula tersebut saat ini ada yang dijadikan destinasi wisata sejarah.
Ternyata, ada penjelasannya lho kenapa dahulu dibangun banyak pabrik gula di Indonesia.
Awal Mula Tebu dan Gula di Nusantara
Tanaman tebu memiliki nama ilmiah Saccharum officinarum L.
Secara historis, tebu diperkirakan berasal dari kawasan Papua Nugini sekitar 8.000 tahun sebelum masehi, lalu menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Filipina, dan India.
Penyebaran tebu juga dipengaruhi oleh ekspansi besar bangsa Arab pada abad ke-7, mengingat tebu merupakan tanaman tropis yang cocok tumbuh di wilayah beriklim panas.

Meski demikian, sebelum kedatangan bangsa Eropa, masyarakat Jawa sebenarnya sudah mengenal rasa manis melalui gula merah yang dibuat dari nira kelapa atau nira tebu.
Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional dengan merebus nira hingga kental lalu dikeringkan.
Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java mencatat bahwa pada awalnya tebu di Jawa lebih banyak dikonsumsi dengan cara dikunyah sebagai minuman alami, bukan diolah menjadi gula pasir.

Peran Belanda dan Revolusi Industri
Perkembangan industri gula di Jawa melonjak pesat pada masa kolonial Belanda.
Hal ini didukung oleh beberapa faktor utama, yaitu kondisi tanah dan iklim Jawa yang sangat cocok untuk budidaya tebu, serta masuknya teknologi mesin uap pasca Revolusi Industri di Eropa Barat.
Teknologi ini memungkinkan penggilingan tebu dalam skala besar dan efisien.
Menurut Theo Stevens dalam Semarang, Central Java and World Market 1870–1900, Jawa menjadi pusat produksi gula karena kombinasi sumber daya alam dan teknologi modern.
Pada awal abad ke-20, pabrik gula menjamur di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Peta Suikerfabrieken op Java tahun 1914 mencatat ada 191 pabrik gula aktif di Jawa, dan jumlahnya meningkat menjadi sekitar 200 pabrik pada 1925.
Industri gula menjadi motor penggerak perubahan ekonomi Jawa dari sistem agraris tradisional menuju ekonomi mekanisasi.
Bahkan pada pertengahan abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Jawa sempat menjadi salah satu pemasok gula terbesar dunia, bersaing dengan Kuba.
Kejayaan ini masih terasa hingga masa awal kemerdekaan Indonesia dan bertahan sampai sekitar tahun 1970-an.
Solo Raya: Surga Industri Gula Masa Lalu
Wilayah Solo Raya atau Karesidenan Surakarta memiliki peran penting dalam sejarah industri gula di Jawa.
Berbeda dengan daerah lain, Surakarta sebagai wilayah vorstenlanden (daerah kerajaan) tidak sepenuhnya menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel).
Hal ini membuat ekonomi liberal berkembang lebih awal, terutama melalui sistem sewa tanah.
Kondisi tersebut memicu tumbuhnya industri gula dalam skala besar.
Vincent J.H. Houben mencatat bahwa pada 1851 Surakarta sudah memproduksi sekitar 24.000 pikul gula.
Pada 1863, terdapat 46 pabrik gula yang tersebar di Kartasura, Klaten, Boyolali, dan Sragen, ditambah Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu milik Mangkunegara IV.

Pesatnya industri gula membawa dampak luas. Surakarta berkembang menjadi wilayah industri yang maju, ditandai dengan berdirinya kantor cabang De Javasche Bank pada 1867 dan pembukaan jalur kereta api Surakarta–Semarang pada 1870.
Produksi gula Surakarta bahkan mencapai puncaknya pada 1889 dengan hasil 786.403 pikul, melampaui daerah lain di Jawa.
Awal Mula Kemunduran Industri Gula
Kejayaan industri gula mulai meredup akibat berbagai faktor.
Letusan Gunung Merapi dan gempa bumi pada awal abad ke-20 merusak banyak pabrik gula di wilayah Yogyakarta–Surakarta.
Kemudian, krisis ekonomi dunia atau malaise pada 1930-an memperparah keadaan. Anjloknya harga komoditas ekspor dan runtuhnya sistem keuangan global membuat banyak perusahaan perkebunan bangkrut.
Surakarta pun terdampak. Banyak pabrik gula tutup pada periode 1929–1935.
Situasi semakin memburuk saat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang, yang menyebabkan industri gula kehilangan pengelolanya.
Setelah kemerdekaan, Indonesia hanya mewarisi sekitar 50 pabrik gula yang tersisa, dan jumlahnya terus menyusut akibat biaya produksi tinggi serta persaingan global.
Sisa Kejayaan dan Warisan Budaya
Kini, hanya beberapa pabrik gula yang masih beroperasi di Solo Raya, seperti PG Mojo di Sragen, PG Tasikmadu di Karanganyar, dan PG Gondang Baru di Klaten.
Sementara itu, PG Colomadu dan PG Gembongan telah berhenti berproduksi dan direvitalisasi menjadi destinasi wisata sejarah, yakni De Tjolomadoe dan The Heritage Palace.
Pabrik gula bukan sekadar bangunan industri, melainkan penanda sejarah dan identitas kawasan.
Warisan industri gula mencakup aspek fisik seperti bangunan, mesin, lokomotif, dan lori, serta aspek nonfisik berupa sistem budidaya tebu dan teknologi pengolahan gula.
(*)