0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Nicolas Maduro Pentagon

    Pentagon Klaim AS Kendalikan Venezuela Pasca Penangkapan Maduro, Picu Ketegangan Global - Liputan6

    5 min read

      

    Pentagon Klaim AS Kendalikan Venezuela Pasca Penangkapan Maduro, Picu Ketegangan Global



    Setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro, Pentagon mengklaim AS kini kendalikan Venezuela, memicu ketegangan internasional dan pertanyaan kedaulatan yang mendalam.

    Amerika Serikat, melalui Kepala Pentagon Pete Hegseth, menyatakan kini AS Kendalikan Venezuela dan akan menetapkan arah pemerintahannya menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro, memicu ketegangan global.
    Amerika Serikat, melalui Kepala Pentagon Pete Hegseth, menyatakan kini AS Kendalikan Venezuela dan akan menetapkan arah pemerintahannya menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro, memicu ketegangan global. (AntaraNews)

    Amerika Serikat (AS) secara mengejutkan mengklaim telah menguasai masa depan Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Washington akan "menetapkan syarat" atas arah pemerintahan negara Amerika Latin tersebut. Pernyataan ini disampaikan Hegseth kepada CBS, menegaskan dominasi AS setelah operasi yang belum dirinci secara hukum.

    Hegseth menjelaskan, Presiden Donald Trump akan menentukan langkah lanjutan, termasuk upaya menghentikan aliran narkoba dan menguasai kembali sumber daya minyak Venezuela. Selain itu, AS juga berencana mencegah kehadiran negara asing di kawasan yang disebutnya sebagai "belahan bumi AS". Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam hubungan AS-Venezuela yang telah tegang selama bertahun-tahun.

    Operasi penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh AS memicu reaksi keras dari pemerintah Venezuela yang menuntut bukti keberadaan presiden mereka. Sementara itu, Rusia menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan pembebasan Maduro, memperingatkan potensi destabilisasi kawasan. Klaim bahwa AS kini kendalikan Venezuela ini telah memicu perdebatan sengit di panggung internasional.

    Klaim Washington atas Kedaulatan Venezuela

    Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth secara tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat kini memegang kendali penuh atas masa depan Venezuela. Pernyataan ini muncul setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi yang diklaim AS telah berhasil. Hegseth menekankan bahwa Washington akan menjadi penentu utama arah pemerintahan Venezuela selanjutnya, sebuah klaim yang mengusik prinsip kedaulatan negara.

    Presiden Donald Trump, menurut Hegseth, akan memimpin dalam menentukan langkah-langkah strategis ke depan. Prioritas utama AS meliputi penghentian aliran narkoba yang disebut berasal dari Venezuela dan penguasaan kembali sumber daya minyak yang melimpah di negara tersebut. Langkah ini dipandang sebagai upaya AS untuk menegaskan kepentingannya di kawasan, terutama dalam konteks keamanan dan ekonomi regional.

    Lebih lanjut, AS juga berambisi untuk mencegah kehadiran dan pengaruh negara asing di Amerika Latin, yang secara retoris disebut Hegseth sebagai "belahan bumi AS". Ambisi ini mengindikasikan keinginan Washington untuk membatasi intervensi pihak ketiga, terutama dari negara-negara yang dianggap rival, dalam urusan internal negara-negara di benua Amerika.

    Operasi Penangkapan dan Reaksi Internal

    Presiden Donald Trump pada Sabtu mengumumkan bahwa AS telah melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela, yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro dan istrinya. Keduanya kemudian dibawa keluar dari negara tersebut, meskipun dasar hukum operasi ini tidak dirinci ke publik. Laporan media menyebutkan adanya ledakan di Caracas dan mengklaim operasi tersebut dilakukan oleh pasukan elite Delta Force, namun otoritas AS belum memberikan konfirmasi resmi mengenai rincian ini.

    Di tengah ketidakpastian informasi, pemerintah Venezuela menyatakan tidak mengetahui keberadaan Maduro dan menuntut bukti bahwa presiden mereka masih hidup. Venezuela juga menuding Washington melakukan agresi terhadap kedaulatan negara mereka, memperkeruh hubungan diplomatik yang sudah memburuk. Klaim AS kendalikan Venezuela ini semakin memanaskan situasi politik di kawasan.

    Secara internal di AS, operasi ini juga menuai kritik. Beberapa anggota Kongres mengecam tindakan tersebut sebagai ilegal, mempertanyakan legitimasi intervensi militer tanpa persetujuan kongres. Namun, pemerintahan Trump menyatakan bahwa Maduro akan diadili atas berbagai tuduhan yang tidak dirinci ke publik, mengisyaratkan adanya proses hukum di masa depan.

    Respon Internasional dan Kekhawatiran Global

    Kementerian Luar Negeri Venezuela segera mengumumkan niatnya untuk membawa aksi Washington ini ke organisasi internasional, serta meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Langkah ini menunjukkan upaya Venezuela untuk mencari dukungan global dan mengecam apa yang mereka anggap sebagai pelanggaran hukum internasional oleh Amerika Serikat. Situasi ini menyoroti bagaimana AS kendalikan Venezuela secara unilateral dapat memicu krisis diplomatik.

    Rusia, sekutu lama Venezuela, menyatakan solidaritasnya kepada rakyat Venezuela dan menyebut laporan penangkapan serta pemindahan paksa Maduro sebagai tindakan yang sangat mengkhawatirkan. Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa Moskow waspada terhadap eskalasi dan menilai langkah AS berpotensi memperburuk stabilitas kawasan Amerika Latin. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran akan dampak geopolitik yang lebih luas.

    Moskow menyerukan pembebasan Nicolas Maduro dan istrinya, serta mendesak semua pihak untuk menahan diri guna mencegah memburuknya situasi politik dan keamanan di Venezuela. Seruan ini menggarisbawahi posisi Rusia yang menentang intervensi asing dan mendukung kedaulatan negara. Ketegangan yang muncul akibat klaim AS kendalikan Venezuela ini berpotensi memicu konflik yang lebih luas di panggung global.

    Sumber: AntaraNews

    Komentar
    Additional JS