0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Presiden Iran Sebut AS Bermuka Dua: Mau Dialog Tapi Siapkan Opsi Militer - Viva

    5 min read

      

    Presiden Iran Sebut AS Bermuka Dua: Mau Dialog Tapi Siapkan Opsi Militer

    Teheran, VIVA – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi atas dukungan negara-negara Islam yang tegas menolak kemungkinan wilayahnya dijadikan basis serangan Amerika Serikat (AS) ke Teheran.

    Trump Klaim Kejahatan di AS Menurun di Bawah Pemerintahannya: Penjahat Kelas Kakap hingga Kambuhan Ditangkap

    Namun di saat yang sama, ia menyoroti sikap Washington yang dinilai membingungkan dan penuh kontradiksi dalam hubungannya dengan Iran, menurut pernyataan kepresidenan Iran.

    "Kebijakan berprinsip pemerintah Republik Islam Iran didasarkan pada pelestarian persatuan dan kohesi etnis dan sekte serta penguatan solidaritas nasional," kata Pezeshkian seperti dikutip laman kepresidenan Iran, Rabu, 28 Januari 2026.

    Iran Bantah Negosiasi ke AS di Tengah Kekhawatiran Perang: Setop Mengancam

    Ia menekankan pentingnya persatuan di antara negara-negara Muslim dalam menghadapi tekanan eksternal.

    "Saya sepenuh hati percaya bahwa umat Islam dan negara-negara Islam adalah saudara, dan saya sangat yakin bahwa bersama-sama dan melalui kerja sama, kita dapat membangun kawasan yang aman, maju, dan berkembang bagi rakyat," ujarnya.

    Korban Tewas Akibat Badai Salju AS Bertambah Jadi 62 Orang

    Dalam pernyataannya, Pezeshkian mengkritik keras sikap Amerika Serikat dan Israel yang menurutnya terus menunjukkan permusuhan terhadap Iran, mulai dari tekanan ekonomi hingga upaya memicu konflik internal.

    "Mereka mengira dengan tindakan ini, mereka dapat mengubah Iran menjadi Suriah atau Libya, tanpa menyadari bahwa mereka tidak memahami realitas, sifat, dan kebesaran rakyat Iran," katanya, seraya menegaskan bahwa "kehadiran luas dan sadar bangsa Iran" telah menggagalkan rencana tersebut.

    Pezeshkian secara khusus menyoroti inkonsistensi kebijakan Amerika Serikat, yang di satu sisi membuka jalur dialog, tetapi di sisi lain justru melakukan tindakan militer dan melanggar kesepakatan.

    "Kami sedang berdialog dengan Amerika ketika, di hadapan seluruh dunia, mereka melancarkan serangan militer terhadap kami… Dalam interaksi dengan negara-negara Eropa, kami mencapai kesepakatan dan konsensus, tetapi Amerika-lah yang melanggarnya dan tidak mendukungnya," ungkapnya

    Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap membuka pintu bagi perdamaian dan stabilitas kawasan, meski dibayangi sikap AS yang dinilai tidak konsisten.

    "Kami tetap siap untuk menyambut setiap proses yang mengarah pada perdamaian, ketenangan, dan penghindaran konflik dan perang, dalam kerangka hukum internasional dan sambil sepenuhnya menjaga dan menghormati hak-hak bangsa dan negara," katanya.

    Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran telah berulang kali menghubungi Washington untuk membuka jalur negosiasi, di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Axios pada Senin. 

    Trump menyebut situasi dengan Iran "berubah-ubah" seiring pengerahan kekuatan militer AS ke wilayah tersebut. Meski demikian, ia meyakini Teheran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan. 

    "Kita memiliki armada besar di sebelah Iran. Lebih besar dari Venezuela," kata Trump, merujuk pada pengerahan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah memasuki wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM). 

    Pada saat yang sama, Trump menegaskan bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Ia mengklaim Iran secara aktif berupaya melakukan kontak dengan Washington. 
    "Mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tahu itu. Mereka telah menelepon berkali-kali. Mereka ingin berbicara," ujar Trump.

    Seorang pejabat senior AS menguatkan pernyataan tersebut dalam pengarahan kepada wartawan beberapa jam kemudian. Menurut pejabat itu, Gedung Putih tetap membuka peluang negosiasi dengan Iran. 

    "Jika mereka ingin menghubungi kami dan mereka tahu apa persyaratannya, maka kami akan melakukan percakapan," kata pejabat tersebut. Ia menambahkan bahwa syarat-syarat AS untuk kesepakatan telah berulang kali disampaikan kepada Iran sepanjang tahun terakhir. 


    Komentar
    Additional JS