Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap, Rupiah Tertekan dan Harga Emas Melonjak - Liputan6
Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap, Rupiah Tertekan dan Harga Emas Melonjak
Ketegangan geopolitik global pasca penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, menilai ketegangan geopolitik global pasca penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
Aksi militer sepihak Amerika Serikat tersebut memicu ketidakpastian global yang mendorong investor menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
"Untuk dolar sendiri, indeks dolar, Sabtu pagi (3/1) ditutup di 98.378. Kalau seandainya turun, melemah, support pertama itu di 98.098. Support kedua 97.834. Nah, kemudian kalau seandainya naik, resisten pertama 98.680, kemudian resisten kedua 98.926," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, setiap eskalasi konflik geopolitik berskala internasional hampir selalu diikuti arus modal keluar dari pasar emerging market. Indonesia sebagai bagian dari pasar tersebut tak luput dari tekanan sentimen global.
Jika ketegangan ini berlanjut, rupiah berpotensi melemah seiring meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset lindung nilai. Kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi perekonomian domestik, khususnya pada harga aset berbasis dolar seperti emas.
"Artinya, begitu mudah Amerika melakukan penyerangan terhadap ibu kota Caracas, ibu kota Venezuela dan menangkap presiden dan istrinya ke Amerika. Ini dari segi geopolitik. Geopolitik memang benar-benar membuat harga emas kemungkinan besar akan kembali melakukan kenaikan yang cukup signifikan," jelasnya.
Pelemahan Rupiah Perkuat Kenaikan Harga Logam Mulia
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3545720/original/056823400_1629425275-059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah memiliki dampak langsung terhadap harga logam mulia di dalam negeri. Saat nilai tukar melemah, harga emas domestik cenderung naik meskipun pergerakan harga emas dunia relatif stabil.
Dalam skenario kenaikan harga emas dunia ke kisaran USD 4.426 hingga USD 4.505 per troy ounce, harga logam mulia di Indonesia berpotensi melonjak ke rentang Rp 2.518.000 hingga Rp 2.610.000. Kenaikan ini mencerminkan efek berantai dari gejolak global terhadap pasar domestik.
"Tetapi apabila harga emas dunia naik, di hari Senin melonjak tinggi di USD4.426, maka harga logam mulia itu diperdagangkan di Rp 2.518.000. Kemungkinan kalau harga emas dunia naik, harga logam mulia itu di Rp 2.610.000. Itu untuk emas," ujarnya.
Tekanan Mata Uang Makin Dalam
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3337099/original/045821000_1609328706-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-8.jpg)
Ketidakpastian global mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman, terutama emas. Peralihan ini tidak hanya mengerek harga emas dunia, tetapi juga mempersempit ruang penguatan bagi rupiah dalam jangka pendek.
Arus modal keluar dari pasar obligasi dan saham berpotensi terus berlanjut jika konflik geopolitik tidak segera mereda. Kondisi tersebut membuat rupiah rentan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Ibrahim Assuaibi menilai, selama sentimen geopolitik global masih mendominasi pasar, harga logam mulia akan tetap berada dalam tren naik. Sementara itu, rupiah akan sangat bergantung pada stabilitas global dan respons kebijakan ekonomi untuk meredam tekanan lanjutan.
"Nah, ini yang membuat ketegangan tersendiri. Sehingga membuat harga emas dunia melonjak kemudian rupiah pun kemungkinan besar melemah dan ini akan berdampak terhadap naiknya harga logam mulia programnya," pungkasnya.