0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Kremlin Rusia Spesial Ukraina Vladimir Putin

    Putin-AS Bahas Perdamaian Rusia-Ukraina, Kremlin: Isu Teritorial adalah Kuncinya - Tribunnews

    15 min read

     

    Putin-AS Bahas Perdamaian Rusia-Ukraina, Kremlin: Isu Teritorial adalah Kuncinya

    Presiden Rusia Putin dan Utusan AS membahas perdamaian Rusia-Ukraina, sementara Kremlin sebut isu teritoal adalah kunci dari kelanjutan perundingan.

    Ringkasan Berita:
    • Putin bertemu dengan Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, di Moskow pada hari Kamis.
    • Ajudan Putin mengungkap bahwa delegasi AS, Ukraina, dan Rusia akan bertemu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
    • Perang Rusia-Ukraina memasuki hari ke-1430 ketika Zelenskyy mengecam sekutu Eropa yang gagal bersikap tegas terhadap Rusia.

    TRIBUNNEWS.COM - Ajudan Presiden Rusia Vladimir PutinYury Ushakov mengatakan bahwa Putin setuju untuk mengadakan pembicaraan antara negosiator RusiaUkraina, dan Amerika Serikat (AS) di Uni Emirat Arab.

    Berbicara kepada wartawan via telepon, Yury Ushakov mengungkapkan bahwa Putin berbicara selama empat jam dengan Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner di Kremlin kemarin.

    Ia mengatakan Rusia ingin menyelesaikan perang dengan Ukraina, namun menegaskan bahwa masalah teritorial adalah kuncinya.

    “Kami tetap tertarik untuk menyelesaikan krisis Ukraina melalui cara politik dan diplomatik. Namun, jika itu tidak terjadi, Rusia akan terus mencapai tujuannya di medan perang di mana pasukan Rusia memiliki inisiatif,” kata Yury Ushakov, Kamis (22/1/2026).

    "Kami menegaskan kembali bahwa mencapai penyelesaian jangka panjang tidak dapat diharapkan tanpa menyelesaikan masalah teritorial," ujarnya, merujuk pada tuntutan Moskow agar Kyiv menarik pasukannya dari wilayah Ukraina timur.

    Rusia berulang kali menekan Ukraina agar menyerahkan wilayahnya yang diduduki pasukan Rusia sebagai salah satu syarat mengakhiri perang, syarat yang ditolak keras oleh Presiden Ukraina Zelenskyy.

    Info Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

    Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1430 pada Jumat (23/1/2026).

    Perang Rusia–Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke berbagai wilayah Ukraina. Invasi ini menandai puncak dari ketegangan panjang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun antara kedua negara.

    Konflik berakar dari runtuhnya Uni Soviet, yang menjadikan Rusia dan Ukraina berdiri sebagai negara merdeka dengan arah politik serta kepentingan keamanan yang berbeda. Dalam perkembangannya, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat, baik secara politik, ekonomi, maupun keamanan.

    Langkah Ukraina untuk menjalin hubungan lebih erat dengan NATO dan Uni Eropa dipandang Rusia sebagai ancaman serius terhadap stabilitas keamanannya. Ketegangan semakin meningkat pada 2014, menyusul Revolusi Maidan yang menggulingkan pemerintahan Ukraina yang dianggap berpihak pada Moskow.

    Baca juga: Putin akan Bertemu Utusan AS Hari Ini, Bahas Perdamaian Rusia-Ukraina

    Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia. Berbagai upaya diplomasi internasional sempat dilakukan, namun gagal menghentikan konflik secara menyeluruh.

    Situasi mencapai titik kritis pada Februari 2022 saat Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi penuh ke Ukraina. Moskow menyatakan operasi militer tersebut bertujuan melindungi warga di wilayah Donbas, menjaga kepentingan keamanan nasional, serta menentang perluasan NATO ke Eropa Timur.

    Invasi Rusia memicu reaksi keras dari Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya. Sanksi ekonomi dijatuhkan terhadap Rusia, sementara Ukraina menerima bantuan militer dan dukungan finansial dalam jumlah besar dari negara-negara Barat.

    Perang Rusia dan Ukraina masih berlanjut di tengah terhambatnya perundingan karena isu teritorial dan lainnya, yang mana Amerika Serikat mengambil peran sebagai penengah.

    Selengkapnya berikut kumpulan berita terbaru perang Rusia-Ukraina yang dirangkum dari berbagai sumber.

    • Perundingan Trilateral Pertama, Delegasi AS, Ukraina, dan Rusia Menuju Abu Dhabi

    Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat akan menggelar pembicaraan trilateral di Abu Dhabi pada Jumat, menandai pertemuan pertama ketiga pihak sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

    "Tim Amerika akan pergi ke Moskow hari ini, mereka menunggu pertemuan kami dengan Presiden Trump, dan sekarang mereka akan pergi, dan tim saya akan bertemu dengan tim Amerika," kata Presiden Ukraina Zelensky berbicara di forum ekonomi di Davos, Swis, Kamis.

    "Saya pikir ini akan menjadi pertemuan trilateral pertama di Uni Emirat Arab. Saya pikir itu akan terjadi besok, dan lusa. Ini akan menjadi pertemuan yang akan berlangsung selama dua hari di Uni Emirat Arab," ungkapnya.

    Kabar pertemuan trilateral ini dikonfirmasi oleh ajudan Putin, Yury Ushakov setelah Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner di Kremlin. 

    "Kelompok kerja trilateral tentang keamanan akan bertemu untuk pertama kalinya di Abu Dhabi pada Jumat sore," lapor Russia Today, mengutip pernyataan Yury Ushakov.

    Kremlin menyebut pembicaraan tersebut menghasilkan kesepakatan pembentukan kelompok kerja trilateral untuk membahas isu keamanan.

    Yury Ushakov mengatakan Utusan AS Steve Witkoff dan utusan investasi Rusia Kirill Dmitriev akan bertemu secara terpisah di Abu Dhabi untuk membahas perdagangan Rusia-AS.

    Agenda pertemuan tersebut belum diungkap, namun Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pembicaraan akan berlangsung selama dua hari, meski belum jelas apakah delegasi Rusia dan Ukraina akan bertemu langsung.

    Sementara itu, isu wilayah tetap menjadi hambatan utama dalam perundingan tersebut.

    Rusia menuntut Ukraina menyerahkan sebagian wilayah timur Donetsk serta membatalkan ambisi bergabung dengan NATO, tuntutan yang ditolak Kyiv.

    • Zelenskyy Kritik Lambatnya Eropa Atasi Perang Rusia-Ukraina

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengkritik para pemimpin negara Eropa karena dinilai lambat dalam membantu menyelesaikan perang Rusia dan Ukraina.

    Berbicara di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swis, Zelenskyy menuduh Eropa gagal mengambil tindakan tegas terhadap Rusia.

    “Tahun lalu, di Davos ini, saya mengakhiri pidato saya dengan kata-kata 'Eropa perlu tahu bagaimana membela diri'," kata Zelensky, yang mengenakan jaket hitam dan kemeja hitam. 

    "Setahun telah berlalu, dan tidak ada yang berubah," lanjutnya.

    “Eropa bisa dan harus menjadi kekuatan global, tetapi tetap menjadi kaleidoskop yang terfragmentasi dari kekuatan-kekuatan kecil dan menengah,” katanya.

    Presiden Ukraina menggambarkan perjuangan Ukraina kini sangat sulit karena perundingan yang alot.

    "Ini seperti mil terakhir yang sulit," kata Zelenskyy tentang upaya AS dan Ukraina untuk merumuskan kerangka perdamaian, seraya menambahkan, "Rusia harus siap untuk berkompromi."

    Ia mengungkapkan, kesepakatan tentang jaminan keamanan Ukraina telah tercapai dengan AS, tapi belum ditandatangani, lapor The Moscow Times.

    • Trump dan Zelenskyy Bertemu di Davos

    Zelenskyy bertemu dengan Trump secara tertutup selama sekitar satu jam di Forum Ekonomi Dunia di Davos, dan menggambarkan pertemuan itu sebagai "produktif dan bermakna."

    Berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One saat terbang kembali ke Washington dari Davos, Trump mengatakan pertemuannya dengan Zelenskyy berjalan dengan baik.

    Trump mengatakan, baik Putin maupun Zelenskyy, ingin mencapai kesepakatan dan semua orang membuat konsesi untuk mencoba mengakhiri perang.

    Presiden AS itu mengungkapkan bahwa isu teritorial tetap menjadi isu kunci dalam menyelesaikan kesepakatan yang diharapkan dapat mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

    "Hambatan utama adalah hal-hal yang sama yang telah menghambatnya selama setahun terakhir," katanya, Kamis.

    Tentara Rusia yang lebih besar telah berhasil merebut sekitar 20 persen wilayah Ukraina sejak permusuhan dimulai pada tahun 2014 dan invasi skala penuhnya pada tahun 2022. 

    Namun, keberhasilan di medan perang di sepanjang garis depan yang panjangnya sekitar 1.000 kilometer telah menelan biaya besar bagi Moskow, dan ekonomi Rusia merasakan konsekuensi dari perang dan sanksi internasional.

    Ukraina kekurangan uang dan, meskipun telah meningkatkan produksi senjatanya sendiri secara signifikan, masih membutuhkan persenjataan Barat. 

    Negara ini juga kekurangan personel di garis depan. 

    Menteri pertahanannya pekan lalu melaporkan sekitar 200.000 pembelotan pasukan, dan sekitar 2 juta warga Ukraina menghindari wajib militer.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)


    Komentar
    Additional JS