0
News
    Home Basarnas Berita Featured Lintas Peristiwa Pesawat ATR Spesial

    Smartwatch Kopilot ATR Aktif, Kepala Basarnas Ungkap Fakta Mencengangkan! - Viva

    5 min read

     

    Smartwatch Kopilot ATR Aktif, Kepala Basarnas Ungkap Fakta Mencengangkan!

    Jakarta, VIVA – Kepala Basarnas Mohammad Syafii meluruskan bahwa rekaman langkah kaki yang terdeteksi pada "smartwatch" milik Kopilot Pesawat ATR 42-500 Muhammad Farhan Gunawan merupakan rekaman pada beberapa bulan lalu saat mengunjungi Yogyakarta.

    3 Warga Diduga Masih Terjebak di Tambang Emas Keluarkan Asap Beracun di Bogor, Ini Identitasnya

    "Kami dibantu oleh Polda Sulawesi Selatan, bahkan Tim Siber ikut juga, ini setelah dikonfirmasi ternyata itu adalah rekaman beberapa bulan yang lalu pada saat yang bersangkutan jalan-jalan di Jogja," kata Syafii dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Komplesk Parlemen, Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.

    Pesawat ATR 42 milik Indonesia Air Transport (IAT) jatuh di Pangkep

    Photo :
    • https://indonesia-air.com/

    Kerugian Korban WO Ayu Puspita Terus Membengkak! Kini Tembus Rp18,4 Miliar

    Hal itu pun, kata dia, telah disampaikan pada pihak keluarga Farhan.

    "Dari pihak keluarga juga sudah memahami, dan kita juga memahami perasaan keluarga, makanya itu di-broadcast," kata dia.

    Kabasarnas Buka-bukaan, Korban ATR 42-500 Diperkirakan di Bawah Tebing Curam 500 Meter

    Sebelumnya, beredar di media mengenai keterangan dari kerabat Kopilot Farhan yang mendeteksi langkah pria itu melalui smartwatch. Pihak keluarga yang mengecek smartwatch milik korban menemukan rekaman pergerakan langkah kaki Farhan.

    Saat ini, Basarnas terus memaksimalkan periode waktu krusial atau golden time pencarian dengan penuh harapan seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi.

    Syafii melaporkan tim petugas gabungan selama empat hari masa operasi SAR menghadapi kondisi yang tidak mudah, seperti lokasi kejadian yang berada di medan yang sangat ekstrem berupa tebing curam berkedalaman sekitar 500 meter dari puncak yang berketinggian lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

    Kondisi tersebutlah yang membuat tim membutuhkan teknik pencarian dan evakuasi khusus, baik bagi tim SAR darat maupun udara menggunakan armada helikopter dan pesawat Caracal.

    "Tantangan terbesar adalah kondisi cuaca dan alam yang sangat ekstrem kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi faktor penghambat utama dalam operasi,” ucapnya.

    Pesawat ATR 42-500

    Syafii lalu mengajak masyarakat mendoakan keselamatan tim petugas gabungan yang tengah bertugas mencari dan mengevakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di wilayah pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep-Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), dengan medan ekstrem. (ant)


    Komentar
    Additional JS