Tanah Longsor di Bandung Barat: 8 Orang Tewas, Status Siaga Darurat Bencana Sejak Awal Oktober 2025 - Tribunnews
Di tengah peristiwa tanah longsor ini, Kabupaten Bandung Barat sudah berada dalam Status Siaga Darurat Bencana sejak awal Oktober 2025.
Ringkasan Berita:
- Tanah longsor terjadi di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat pada Sabtu (24/1/2026) dini hari tadi.
- Menurut update data BNPB per Sabtu (24/1/2026) pukul 10.30 WIB, tercatat ada 8 orang meninggal dunia, sedangkan 82 orang masih dalam pencarian.
- Di tengah peristiwa tanah longsor ini, Kabupaten Bandung Barat ternyata sudah berada dalam Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem dan Tanah Longsor sejak awal Oktober 2025 lalu.
TRIBUNNEWS.COM - Wilayah Kabupaten Bandung Barat sudah berada dalam status siaga darurat bencana sejak Oktober 2025 lalu, ketika tanah longsor terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari tadi dan menyebabkan delapan orang meninggal dunia.
Dikutip dari siaran pers resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Status Siaga Darurat Bencana di tengah tanah longsor di Kabupaten Bandung Barat dikeluarkan oleh instansi pemerintah kabupaten (pemkab) dan pemerintah provinsi (pemprov).
- Kabupaten Bandung Barat saat ini berada dalam Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem dan Tanah Longsor.
Status ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Bupati Bandung Barat Nomor 100.3.3.2/Kep.359-BPBD/2025.
Masa berlaku: 1 Oktober 2025 hingga 30 April 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi.
Status ini ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025,
Masa berlaku: 15 September 2025 hingga 30 April 2026.
Status Siaga Darurat adalah keadaan ketika potensi ancaman bencana sudah mengarah pada terjadinya bencana yang ditandai dengan adanya informasi peningkatan ancaman berdasarkan sistem peringatan dini yang diberlakukan dan pertimbangan dampak yang akan terjadi di masyarakat.
Definisi tersebut tertuang dalam BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 03 Tahun 2016 tentang Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana.
Menurut data BNPB hingga Sabtu (24/1/2026) pukul 10.30 WIB, setidaknya 82 orang masih dalam proses pencarian, sementara 23 orang dilaporkan selamat dalam peristiwa longsor tersebut.
Tercatat, 34 kepala keluarga atau 113 jiwa terdampak oleh bencana ini.
Petugas lapangan masih melakukan pengkajian dan pendataan mengenai jumlah rumah yang terdampak.
BNPB menjelaskan, peristiwa tanah longsor dipicu hujan dengan intensitas tinggi dan terjadi pada Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 02.30 WIB di Kecamatan Cisarua, tepatnya di Desa Pasir Langu, Kampung Babakan Cibudah.
Material longsoran menimbun permukiman warga, saat sebagian besar dari mereka sedang terlelap.
Kesaksian Warga Korban Selamat Tanah Longsor di Kabupaten Bandung Barat
Baca juga: Jeritan Warga Pecah saat Longsor di Cisarua Bandung Barat, Walhi: Negara Gagal Lindungi Warga
Peristiwa tanah longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari terjadi tanpa adanya tanda-tanda, hanya suara gemuruh yang begitu kencang hingga membuat sebagian warga terbangun dari tidur mereka.
Trauma pun menyelimuti warga Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat setelah peristiwa tersebut.
Salah satu warga setempat, Eneng Rohaeni (38), mengungkap, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 03.00 WIB.
Saat itu, suasana masih sunyi ketika tiba-tiba suara gemuruh datang.
Eneng mengaku mendengar dua suara gemuruh.
"Jadi ada dua kejadian longsor dulu. Ada suara gemuruh di kejadian pertama seperti pesawat. 30 menit setelahnya ada suara kayak jatuh, gebruk, itu kejadian kedua," ujarnya kepada Tribun Jabar, Sabtu (24/1/2026).
Setelah suara itu terjadi, kata Eneng, jeritan hingga teriakanan minta tolong terdengar.
Banyak warga yang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Suara gemuruh terdengar hingga beberapa menit.
"Kejadian pertama itu ada puing-puing, tertahan dulu. Jadi, pada masih bisa menyelamatkan diri. Baru yang kedua, itu semua tidak ada yang bisa menyelamatkan diri," katanya.
Setelah kejadian tersebut, Eneng mengaku dirinya masih sangat takut untuk berdiam di dalam rumah. Meski rumahnya tidak terdampak langsung, Eneng bersama warga lainnya memutuskan untuk mengungsi.
"Kata pihak desa harus mengungsi dulu, siaga 1. Katanya takut ada longsor susulan. Soalnya ini dua Kampung Pasir Kuda sama Pasir Kuning. Saya ngungsi ke rumah saudara," ucapnya.
Di tengah duka yang mendalam ini, Eneng hanya berharap kepada pemerintah untuk dapat hadir membantu para korban. Menurutnya, para korban dan juga keluarga harus menjadi prioritas.
"Kalau harapannya mudah-mudahan ada santunan buat korban yang meninggal. Juga kasian apalagi saudara jauh, rumah habis, kasian. Mudah-mudahan ada bantuan untuk keluarga korban," ujarnya.

Evakuasi Berlangsung Dramatis
Satu jenazah korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) berhasil ditemukan pada Sabtu (24/1/2026).
Jenazah berjenis kelamin laki-laki itu ditemukan oleh salah satu petugas TNI di sebuah aliran sungai yang berada di lokasi terdampak longsor.
Jenazah itu ditemukan sekitar pukul 11.45 WIB.
Proses evakuasi berlangsung lambat, lantaran akses menuju titik penemuan masih sulit dijangkau. Kondisi tanah yang masih gembur, berlumpur, serta material bangunan masih berserakan.
Warga pun bahu-membahu membuat untuk jalur darurat agar jenazah dapat dievakuasi dengan aman. Mereka melemparkan dan menaruh bambu-bambu untuk sementara digunakan untuk pijakan.
Evakuasi berjalan hampir 30 menit. Petugas langsung memasukan jenazah ke kantong jenazah untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit terdekat. Jeritan hingga tangisan pun terdengar saat jenazah itu evaluasi.
Salah satu warga Eneng Rohaeni (38) menceritakan bahwa dirinya mengenal betul jenazah laki-laki yang berhasil ditemukan. Laki-laki itu bernama Dadang dengan usia kisaran 55 tahun.
Saat diangkat dan dimasukkan ke mobil ambulans, dirinya tidak menyangka tetangganya itu saat ini sudah berpulang ke rahmatullah. Padahal pada siang harinya sebelum kejadian dirinya bertemu.
"Iya saya tahu, itu pak Dadang. Satu kampung sama saya. Kalau engga salah dia ada di rumah sama keluarganya. Dia buruh serabutan, kenal dekat saya," ujarnya kepada Tribun Jabar, Sabtu (24/1/2026).
(Tribunnews.com/Rizki A.) (TribunJabar.id/Adi Ramadhan Pratama)
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Kesaksian Warga Cisarua: Suara Gemuruh Longsor Terdengar Seperti Pesawat Lewat dan Evakuasi Dramatis di Cisarua Bandung: Warga Buat Jalan dari Bambu Demi Angkut Jenazah Dadang