0
News
    Home Featured Kisah Inspirasi Kisah Inspiratif Magelang Spesial

    Usia 70 Tahun, Mbah Sabar Bertahan dengan Isi Ulang Korek di Magelang - Kompas

    8 min read

     

    Usia 70 Tahun, Mbah Sabar Bertahan dengan Isi Ulang Korek di Magelang

    MAGELANG, KOMPAS.com - Sabarudin, pria berusia sekitar 70 tahun ini sudah melakoni sejumlah pekerjaan untuk bertahan hidup di Kota Magelang.

    Dulu, ia jualan panci keliling. Menjelajah ke Temanggung hingga Wonosonbo. Kini, Mbah Sabar -sapaan akrabnya- mencari rezeki dengan membuka jasa isi ulang korek gas.

    Ia rutin mangkal di depan Mal The Aloon-aloon Magelang mulai pukul 08.30-13.30.

    Baca juga: Kisah Nana Pedagang Minuman di Bogor, Penghasilan Tak Tentu tapi Bisa Sekolahkan 3 Anak

    Usaha ini ia tekuni sejak sekitar 10 tahun lalu, setelah ia belajar dari seorang teman yang mahir mengisi ulang korek gas.

    Gara-gara Greenland, NATO Ogah Bagi Informasi Intelijen ke AS

    Awal merintis, Mbah Sabar berkeliling masuk kampung ke kampung. Tapi, jumlah pembelinya naik turun.

    Sekarang ia sudah menetap membuka jasa di depan The Aloon-aloon.

    Baca juga: Dari Guru Honorer ke Penjual Risol, Perjuangan Sabil Bertahan Hidup di Cirebon

    Bahkan, sebelum mal itu beroperasi dan masih berupa bioskop Magelang Theater, ia mangkal di sana.

    "Saya sudah sepuluh tahunan di sini," ucap Sabar kepada Kompas.com dalam bahasa Jawa, Senin (19/1/2026).

    Rp 30.000 per Hari, Ongkos Angkot Rp 10.000

    Setiap pagi, Mbah Sabar memulai aktivitasnya dengan menaiki angkot dari rumahnya di Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, menuju Canguk, Kota Magelang.

    Baca juga: Penjual Minuman Ini Sering Diremehkan Orang: Kita Syukuri Saja

    Ia selalu mengalungkan tas hitam yang di depannya ada tulisan "Isi Korek".

    Dalam tasnya ada banyak komponen korek gas berukuran mini. Dan, yang paling utama, sebuah gas kalengan untuk mengisi korek.

    Setelah sampai di Canguk, Sabar harus berjalan kaki menuju tempat kerja yang berjarak sekitar 2 kilometer.

    Baca juga: Dari Loper Koran, Ojol, hingga Terapis Bekam, Cara Dian Bertahan Hidup demi Sekolah Anak

    Rute yang sama juga ia lalui ketika pulang kerja. Ia jalan lagi menuju Canguk, baru kemudian menunggang angkot.

    "Olahraga," ucap pria kelahiran 1955 itu.

    Sabar menghabiskan Rp 10.000 untuk ongkos transportasi untuk berangkat dan pulang kerja.

    Sementara, pendapatan per harinya rata-rata Rp 25.000- Rp 30.000.

    Baca juga: Perjuangan Nana Berjualan Minuman sejak Pukul 06.00, Tak Menyerah meski Kerap Dicibir

    "Kadang kurang dari itu. Ndilalah, ada saja yang kasih (uang) lebih," imbuhnya.

    Biaya isi ulang koreknya pun teramat murah. Setiap korek, Sabar mematok Rp 1.500-Rp 2.000.

    Terkadang, ia juga membebaskan konsumen ingin bayar berapa. Terutama, ketika korek yang diisi banyak.

    Baca juga: Shin Hua Barbershop, Tempat Cukur Rambut Berusia 113 Tahun di Pecinan Surabaya

    Dwi, merupakan salah satu pelanggan setia Mbah Sabar.

    Karyawan swasta berusia 30 tahun itu datang dan ingin mengisi ulang tujuh korek gas.

    "Sudah sering (jadi korban) tindak pencurian korek. Apalagi kalau pas nongkrong," kata pria itu ketika ditanya soal alasan mengisi banyak korek.

    Baca juga: Rp 5.000 Sekali Menyeberang, 13 Tahun Didit Bertahan Hidup di Sungai Mahakam

    Dwi mengaku sudah menjadi langganan Sabar jauh sebelum mangkal di kawasan Alun-alun Magelang.

    Saat itu, kata Dwi, Sabar juga menjajakan jasanya di Jalan Tentara Pelajar yang dekat dengan rumah Dwi.

    Menjadi Tulang Punggung Keluarga

    Di rumah, Sabar tinggal dengan istri, seorang anak perempuan dan suaminya, serta dua cucu.

    Baca juga: Mencicipi Sempol di Kepanjen Malang, Jajanan Hangat yang Pas Saat Hujan

    Ia dan menantunya yang bekerja sebagai kuli bangunan menjadi tulang punggung di keluarga tersebut.

    Sabar mengakui, pendapatan dari kerja jasa isi ulang korek gas tidak mencukupi.

    Namun, untuk beralih ke pekerjaan lain juga tak mudah, terutama dari sisi permodalan.

    Baca juga: Jejak 1.000 Tahun Kampung Adat Cikondang, Bertahan Hidup Jadi Penjaga Tradisi Sunda di Bandung

    "Sekarang juga hidup dari tabungan," cetusnya seraya tertawa menghibur diri.

    Mata Sabar menggenang ketika berbicara soal pendapatan. Dalam waktu dekat, Ia ingin menggelar tradisi nyadran menjelang bulan Ramadhan. "Penginnya ingkung-ingkung sederhana," katanya.

    Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang

    Trump Jadi Ketua Seumur Hidup, Negara-negara Ragu Gabung Dewan Perdamaian AS

    Komentar
    Additional JS