WNI Terpilih Jadi Relawan Revitalisasi Kota Waki Jepang, Angeline Siap Promosikan Daya Tarik Lokal Tribunnews.com
Angeline Christiani Chiba, WNI asal Bengkulu, terpilih menjadi relawan revitalisasi Kota Waki Jepang selama tiga tahun sejak Januari 2026
Ringkasan Berita:
- Angeline Christiani Chiba terpilih sebagai Anggota Relawan Kerja Sama Revitalisasi Masyarakat Kota Waki, Prefektur Yamaguchi, Jepang, untuk masa tugas tiga tahun sejak Januari 2026.
- Didukung Wali Kota Waki, Angeline diharapkan memanfaatkan keahlian digital marketing dan bahasa asing untuk mempromosikan kota kecil tersebut ke dunia internasional.
- Ia menilai Waki menawarkan kehidupan yang hangat, manusiawi, serta komunitas kuat yang bisa menjadi inspirasi bagi kota-kota kecil di Indonesia.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, JEPANG – Angeline Christiani Chiba seorang WNI terpilih sebagai Anggota Relawan Kerjasama Revitalisasi Masyarakat Waki di prefektur Yamaguchi, sejak Januari 2026 untuk waktu 3 tahun.
“Saya yakin bisa tinggal di sini lama sekali karena kota Waki ini sangat hangat hubungan manusianya satu sama lain. Terasa nyaman sekali,” ujar Angeline.
Terpilihnya perempuan yang tanggal 23 Agustus mendatang genap berusia 36 tahun ini juga mendapat dukungan kuat dari Walikota Waki, Keizō Sakamoto.
“Ke depannya, kami berharap Angeline bisa aktif berbaur dengan warga dan menjalani kegiatan dengan suasana yang ceria dan menyenangkan. Dengan pengalaman luas di bidang digital marketing serta kemampuan berbahasa asing yang dimilikinya, Angeline diharapkan dapat memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan daya tarik, nilai, dan berbagai informasi tentang Waki Town, baik kepada masyarakat dalam negeri maupun mancanegara,”ungkap Sakamoto kepada Tribunnews.com Jumat (23/1/2026).
Setelah menjalani masa trial relawan kerjasama revitalisasi masyarakat di perfektur lain bahkan sempat tinggal 6 bulan di Enoshima Kanagawa dan 6 bulan di Aichi, hatinya justru terpaut pada sebuah kota kecil di Prefektur Yamaguchi kota Waki (和木町) .
“Di sini ada ‘kehangatan yang sesungguhnya’, sesuatu yang sulit dirasakan di kota besar. Bukan keramahan yang bersifat formal atau sekadar basa-basi, tetapi perhatian yang benar-benar tulus.
Baca juga: Berkas Perkara Ratna Sari Dewi Soekarno Dilimpahkan ke Kejaksaan Jepang, Bantah Lakukan Kekerasan
Kota ini memang berada di pinggiran Jepang dan sering disebut sebagai ‘kota yang bisa ditemukan di mana saja’, tetapi bagi saya, ini adalah tempat yang sangat bermakna.”
Waki adalah kota kecil dengan luas hanya 1.058 hektar. Meski mungil, kota ini dikenal di prefektur yamaguchi sebagai salah satu kota dengan tingkat kebahagiaan yang tinggi.
Bangunan-bangunan baru bermunculan, sementara program kesehjateraan dan sosial untuk lansia dan anak-anak dikelola secara sistematis oleh pemerintah kota. Pendidikan dasar tersedia lengkap—SD dan SMP ada di dalam kota, sementara SMA berada di kota tetangga, Iwakuni.
Bagi Angeline, yang lahir di Bengkulu dan sejak usia 7 tahun hidup di Jakarta—menempuh pendidikan di SMP 216, SMA 68, hingga lulus dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (2008–2013)—Waki menawarkan kontras yang menenangkan dirinya saat ini.
“Saat saya di Jakarta, saya sering susah tidur. Di sini, hidup terasa pelan, nyaman dan manusiawi, serta nyenyak sekali tidur saya,” ujarnya.
Komunitas di Waki tergolong kuat, warga aktif melaksanakan berbagai kegiatan seperti yoga, zumba dan kerajinan tangan dijalankan mandiri oleh warganya, sementara acara tradisional dan budaya rutin diselenggarakan oleh pemerintah kota.
Tidak banyak cafe dan restaurant disini, namun memasuki restaurant atau cafe disini rasanya seperti pulang kerumah, karena fungsinya tidak hanya sebagai tempat makan, namun berfungsi layaknya ruang keluarga – tempat orang berkumpul dan berbincang.
Waki juga menawarkan destinasi wisata yang ramah keluarga:
- Hachigamine Grand Park, taman luas dengan roller slide, wahana permainan, mini kereta, area piknik, dan taman mawar. Luasnya 25 hektar.
- Waki Art Museum (Art Wing), galeri seni dan ruang pamer komunitas.
- Setahachimangu shrine, kuil lokal bernuansa tradisional.
- Hotaru no Sato, lokasi melihat kunang-kunang pada awal musim panas.
- Yosenji Temple dan situs sejarah lokal lainnya.
Secara geografis, Kota Waki juga memiliki akses yang sangat baik ke berbagai destinasi wisata utama Jepang, seperti Hiroshima Peace Memorial, Atomic Bomb Dome, Kuil Itsukushima di Miyajima, dan Jembatan Kintaikyo di Iwakuni.
Menuju Hiroshima hanya sekitar 40 menit menggunakan kereta api atau pun mobil.
“Indonesia, terutama kota-kota kecil, mungkin bisa mencontoh kota ini,” kata Angeline lagi.
“Waki mengajarkan handle care—bagaimana kota memperlakukan warganya dengan perhatian nyata. Di sini, komunitas hidup, anak-anak dan lansia dirawat, dan setiap orang diperlakukan sebagai manusia seutuhnya.”
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Kota Waki hadir sebagai tempat yang dengan tenang mengajak kita bertanya ; apa arti kekayaan sesungguhnya?
“Jadi saya setiap hari berkantor di kantor pemda Waki dari pagi sampai sore hari jam kerja biasa, di samping berkunjung ke berbagai tempat di Waki untuk berinteraksi dengan warga, dan mempelajari kehidupan serta nilai menghargai cara hidup yang dijunjung warga disini.” ungkapnya lagi kepada Tribunnews.com lagi.
Diskusi kebudayaan Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com