Amerika minta kapal-kapal komersial menjauh dari perairan Iran- IDN Finansial
Amerika minta kapal-kapal komersial menjauh dari perairan Iran

L
JAKARTA - Amerika Serikat mengeluarkan imbauan keamanan terbaru bagi kapal-kapal komersial berbendera AS yang melintas di Selat Hormuz, seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Pedoman tersebut dikeluarkan oleh Administrasi Maritim AS menyusul dinamika politik dan keamanan kawasan Teluk Persia yang kembali memanas.
Dalam imbauannya, Washington meminta kapal berbendera AS untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran.
“Disarankan agar kapal-kapal komersial berbendera AS yang melintasi perairan ini tetap berada sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran tanpa membahayakan keselamatan navigasi,” demikian bunyi pedoman tersebut.
Kapal kapal yang berlayar ke arah timur, disarankan melintas dekat perairan teritorial Oman.
AS juga memberikan arahan khusus apabila terjadi inspeksi atau upaya naik kapal oleh pasukan Iran.
“Jika pasukan Iran menaiki kapal komersial berbendera AS, awak kapal tidak boleh melakukan perlawanan secara paksa terhadap pasukan yang menaiki kapal tersebut,” tulis Administrasi Maritim AS.
Selain itu, disarankan untuk tidak adanya perlawanan paksa. “Tidak menyiratkan persetujuan atau kesepakatan untuk naik ke pesawat tersebut.”
Peringatan ini muncul tidak lama setelah Washington dan Teheran menggelar putaran pertama pembicaraan tidak langsung di Oman. Dialog tersebut berlangsung di tengah eskalasi retorika dan ancaman yang sebelumnya membawa kedua negara ke situasi konfrontatif.
Selat Hormuz memiliki nilai strategis tinggi bagi perdagangan global, khususnya energi. Pemerintah AS menyebut kawasan ini sebagai “titik hambatan minyak terpenting di dunia”,mengingat perannya sebagai jalur utama ekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar internasional.
Riwayat ketegangan di jalur pelayaran Teluk menjadi latar belakang kebijakan tersebut. Mulai dari Perang Tanker Iran–Irak pada 1980-an, serangan sabotase terhadap kapal di Teluk Oman pada 2019, hingga latihan militer Angkatan Laut Iran oleh IRGC di Selat Hormuz pada Januari lalu, yang sempat memicu peringatan keras dari militer AS terkait perilaku “unsafe and unprofessional”.
Dalam konteks yang lebih luas, AS juga terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan, sementara Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran, termasuk terkait program nuklir dan misilnya.
Di sisi lain, Teheran menegaskan bahwa perundingan yang sedang berjalan bersifat “eksklusif nuklir” dan tetap mempertahankan pengayaan uranium sebagai hak kedaulatan.
Ketegangan geopolitik yang beririsan dengan jalur pelayaran vital ini menempatkan Selat Hormuz kembali sebagai salah satu titik rawan utama bagi stabilitas keamanan dan perdagangan global.(DH)
Baca Juga: Iran kerahkan kapal selam di Selat Hormuz?