0
News
    Home Berita DBD Demam Berdarah Dengue Featured Kesehatan Spesial Tips & Tricks

    Anak-anak Paling Rentan Terpapar, Kenali Gejala Awal hingga Fase Kritis DBD - Viva

    5 min read

      

    Anak-anak Paling Rentan Terpapar, Kenali Gejala Awal hingga Fase Kritis DBD



    Jakarta, VIVA – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan serius di Indonesia. Setiap tahun, kasus DBD terus bermunculan dan kerap meningkat hingga memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai daerah. 

    Begini Bukti Keseriusan dan Persiapan Klinik Rutan Muntok Jadi Mitra BPJS

    Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menjadi beban sistem pelayanan kesehatan jika tidak ditangani secara tepat dan cepat. Scroll lebih lanjut yuk!

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kementerian Kesehatan RI, pada 2025 tercatat sekitar 131 ribu kasus DBD di Indonesia. Provinsi Jawa Barat, bersama Jawa Timur, Bali, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. 

    Anggota DPR: Hak Kesehatan Tak Boleh Kalah oleh Prosedur Administratif

    Anak usia di bawah 1 tahun atau 5–10 tahun menjadi kelompok paling rentan karena berisiko mengalami komplikasi yang lebih berat. Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan dan penanganan DBD.

    Rentannya anak-anak terhadap serangan DBD merupakan isu kesehatan yang memerlukan perhatian serius kita semua. 

    Risiko Dengue Meningkat Saat Hujan, Upaya Pencegahan Harus Diperkuat

    Menurut dr. Miza Dito Afrizal, Sp.A, sistem imunitas yang masih berkembang serta tingginya aktivitas di luar rumah meningkatkan frekuensi gigitan nyamuk pada anak. 

    Hal ini membuat mereka lebih berisiko terpapar virus dengue. Ia juga mengingatkan bahwa gejala demam akibat flu dan DBD sering kali mirip, sehingga orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan.

    “Demam biasa karena flu sering disertai gejala pernapasan seperti batuk dan pilek, suhu biasanya tidak setinggi DBD, dan umumnya akan membaik dalam beberapa hari, sementara DBD ditandai demam tinggi mendadak (bisa 40°C), nyeri hebat (kepala, belakang mata, otot/sendi), tanpa gejala flu, bisa muncul bintik merah dan mimisan/gusi berdarah,” ujar dr, Miza.

    Dr. Miza menegaskan pentingnya kejujuran orang tua dalam menyampaikan riwayat demam anak. Ia menekankan agar orang tua tidak mengira-ngira waktu awal demam, karena durasinya sangat menentukan diagnosis. 

    “Pada demam berdarah, tanda penghancuran sel darah umumnya baru muncul setelah 72 jam. Oleh karena itu, sebelum periode tersebut, kadar trombosit bisa saja masih normal sehingga diagnosis belum dapat dipastikan,” ujarnya.

    Dalam penanganan awal, orang tua dianjurkan memberikan banyak cairan seperti air putih atau oralit, melakukan kompres hangat atau dingin untuk menurunkan demam, serta hanya memberikan parasetamol. 

    Penggunaan ibuprofen atau aspirin perlu dihindari karena berisiko memperparah perdarahan. Selain itu, kebutuhan nutrisi dan istirahat anak harus dipenuhi sambil terus memantau tanda bahaya seperti perdarahan, lemas, atau kondisi anak yang semakin rewel.

    “Fase kritis DBD itu hari ke-3 hingga ke-5 yang ditandai risiko syok/perdarahan meningkat. Di fase inilah orang tua perlu waspada. Karena banyak yang terkecoh mengira anak sudah sembuh padahal memasuki fase kritis. Segera ke dokter jika curiga DBD, terutama saat demam turun setelah tiga hari. Lakukan tes darah trombosit dan hematokrit untuk diagnosis pasti,” ujar dr. Miza.

    Keterlambatan penanganan saat memasuki fase kritis dapat memicu komplikasi serius, seperti kebocoran plasma darah yang menyebabkan syok. Faktor daya tahan tubuh yang lemah, usia, infeksi ulang virus, serta kondisi lingkungan turut berperan dalam meningkatkan risiko keparahan penyakit.

    Sebagai langkah pencegahan dan untuk masa depan yang lebih sehat, Baygon dan Autan menggelar serangkaian kegiatan edukatif yang didukung oleh Kementerian Kesehatan RI dan aksi nyata di berbagai wilayah, seperti Soreang, Sumedang, Tasikmalaya, Antapani, Ujung Berung, hingga puncaknya di Kota Bandung, pada Sabtu, 31 Januari 2026.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Kementerian Kesehatan RI menekankan rebranding Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus sebagai tiga langkah wajib yang harus dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga. 

    PSN 3M Plus mencakup menguras dan menyikat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta langkah tambahan seperti mengeringkan genangan, memelihara ikan pemakan jentik, memasang kelambu, menggunakan lotion anti-nyamuk hingga menerapkan prinsip 3R pada barang bekas yang berpotensi menampung air. Upaya ini diharapkan mampu memutus rantai penularan DBD sejak dari sumbernya.


    Komentar
    Additional JS