0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Nuklir Spesial

    AS-Iran Dijadwalkan Gelar Putaran Ketiga Negosiasi Nuklir di Jenewa Pekan Ini - metrotv

    4 min read

      

    AS-Iran Dijadwalkan Gelar Putaran Ketiga Negosiasi Nuklir di Jenewa Pekan Ini


    Teheran: Iran dan Amerika Serikat (AS) dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan mengenai program nuklir di Jenewa, Swiss pada Kamis, 26 Februari 2026.

    Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengatakan bahwa pembicaraan tersebut dijadwalkan di tengah meningkatnya kekhawatiran akan risiko konflik militer antara dua rival lama itu.

    Amerika Serikat sebelumnya memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump pada Kamis lalu memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk akan terjadi” bila tidak tercapai kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa lama terkait program nuklir Teheran.

    “Dengan senang hati saya mengonfirmasi bahwa negosiasi AS–Iran kini dijadwalkan berlangsung di Jenewa Kamis ini, dengan dorongan positif untuk melangkah lebih jauh menuju finalisasi kesepakatan,” kata Albusaidi, yang berperan sebagai mediator dalam pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran

    Laporan media menyebut Iran menawarkan konsesi baru terkait program nuklirnya guna mencapai kesepakatan, dengan syarat mencakup pencabutan sanksi ekonomi serta pengakuan atas hak Teheran melakukan pengayaan nuklir untuk tujuan damai.

    Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan optimisme hati-hati melalui unggahan di media sosial bahwa negosiasi terbaru telah “memberikan sinyal yang menggembirakan,” sambil menegaskan kesiapan negaranya menghadapi “segala kemungkinan.”

    Tekanan Nuklir Memanas Lagi

    Utusan khusus Trump yang memimpin negosiasi dari pihak AS, Steve Witkoff, mengatakan Presiden AS ingin mengetahui mengapa Iran belum juga menyerah dan menyetujui pembatasan program nuklirnya.

    “Saya tidak ingin menggunakan kata ‘frustrasi,' karena ia memahami memiliki banyak alternatif, tetapi ia ingin tahu mengapa mereka belum. Saya tidak ingin memakai kata ‘menyerah’, tetapi mengapa mereka belum menyerah,” kata Witkoff dalam wawancara televisi, seperti dikutip AsiaOne, Senin, 23 Februari 2026.

    Ia menambahkan bahwa di bawah tekanan militer dan kekuatan laut AS di kawasan, Washington mempertanyakan mengapa Teheran belum menyatakan kesediaannya mengambil langkah konkret untuk memastikan tidak mengembangkan senjata.

    Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menanggapi melalui media sosial dengan menulis, “Ingin tahu mengapa kami tidak menyerah? Karena kami orang Iran.”

    Dalam wawancara terpisah, Araghchi juga mengatakan solusi diplomatik dengan Amerika Serikat masih memungkinkan.

    Pembicaraan tidak langsung tahun lalu gagal menghasilkan kesepakatan, terutama karena perselisihan terkait tuntutan AS agar Iran menghentikan pengayaan uranium di wilayahnya sendiri, sesuatu yang dipandang Washington sebagai jalur menuju bom nuklir. Iran berulang kali membantah berupaya mengembangkan senjata tersebut.

    Amerika Serikat sebelumnya bergabung dengan Israel dalam menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni, yang menurut Trump membuat lokasi nuklir utama Iran “hancur total”. Meski demikian, Iran diyakini masih memiliki persediaan uranium yang telah diperkaya sebelumnya, yang ingin dihapus oleh Washington.

    Witkoff mengatakan tingkat pengayaan Iran telah melampaui kebutuhan program sipil. 

    “Mereka telah melakukan pengayaan jauh di atas angka yang diperlukan untuk nuklir sipil. Sudah mencapai 60 persen kemurnian,” ujarnya, seraya memperingatkan bahan tersebut bisa segera mencapai tingkat yang memungkinkan pembuatan bom.

    Salah satu konsesi baru yang dipertimbangkan Iran disebut mencakup pengiriman setengah stok uranium yang sangat diperkaya ke luar negeri serta pengenceran sisanya.

    Agenda Nuklir Kian Meluas

    Washington juga berupaya memperluas agenda perundingan agar mencakup program rudal Iran serta dukungannya terhadap kelompok bersenjata regional. Iran secara terbuka menolak perluasan itu, meski sumber menyebut dukungan terhadap kelompok bersenjata mungkin masih dapat dibahas.

    Isu lain yang masih menjadi ganjalan adalah cakupan serta mekanisme pencabutan sanksi terhadap Iran. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kedua negara masih memiliki pandangan berbeda mengenai hal tersebut.

    Atas arahan Trump, Witkoff juga mengungkap ia bertemu dengan tokoh oposisi Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, putra shah yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

    Pahlavi, yang tinggal di luar negeri, sebelumnya menjadi figur simbolis bagi sebagian oposisi selama demonstrasi anti-pemerintah bulan lalu. Awal Februari, ia menyatakan intervensi militer AS di Iran dapat menyelamatkan nyawa serta mendesak Washington tidak terlalu lama bernegosiasi dengan pemerintahan ulama di Teheran.

    Baca juga:  AS Siap Lanjutkan Perundingan Jika Iran Serahkan Proposal Nuklir dalam 48 Jam
    Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun
    Google News Metrotvnews.com

    Komentar
    Additional JS