AS-Israel Serang Iran, Sejumlah Negara Timur Tengah Tutup Wilayah Udara - Detik
Situasi di Timur Tengah memanas setelah militer AS dan Israel menyeran Iran pada Sabtu (28/2/2026). Ledakan dilaporkan terdengar di Teheran pada pagi hari waktu setempat. Tak lama setelah itu, gelombang penutupan wilayah udara langsung terjadi di sejumlah negara kawasan.
Wilayah Udara Ditutup Total
Mengutip data dari Flightradar24, Sabtu (28/2/2026), Iran menutup seluruh wilayah udaranya setidaknya hingga pukul 12.00 UTC pada 28 Februari. Pesawat-pesawat yang sudah berada di udara terlihat berbalik arah atau mempercepat pendaratan untuk keluar dari zona tersebut.
Tak hanya Iran, beberapa negara lain juga mengambil langkah serupa. Hingga laporan terakhir, wilayah udara berikut ditutup sepenuhnya:
- Iran
- Irak
- Kuwait
- Bahrain
- Qatar
Wilayah udara Yordania dan Israel juga dilaporkan nyaris kosong, dengan hanya beberapa penerbangan tersisa yang mendarat atau mengubah rute untuk keluar dari area terdampak.
Sementara itu, ruang udara Uni Emirat Arab secara teknis masih terbuka. Namun, tidak ada pesawat komersial yang terlihat lepas landas atau mendarat di sektor tersebut. Maskapai-maskapai besar memilih mengalihkan rute atau membatalkan penerbangan demi alasan keselamatan.
Di sisi lain, Suriah tidak menutup total wilayah udaranya, tetapi beberapa rute lalu lintas udara utama dari Damaskus dilaporkan ditangguhkan.
Penerbangan Dialihkan dan Dibatalkan
Data pelacakan penerbangan secara langsung menunjukkan gangguan luas di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya. Pesawat yang sebelumnya berada di atas wilayah udara Irak terlihat keluar atau menunggu di luar batas wilayah sebelum ada kepastian lebih lanjut.
Otoritas penerbangan mengingatkan bahwa dalam situasi konflik seperti ini, maskapai biasanya segera menghindari wilayah udara yang dianggap berisiko, bahkan sebelum pemberitahuan resmi (NOTAM) diterbitkan.
Selain itu, pelacakan penerbangan di kawasan ini juga menghadapi tantangan teknis. Gangguan GPS seperti jamming dan spoofing dilaporkan cukup intens, sehingga posisi pesawat terkadang tidak akurat. Operator pelacakan menggunakan kombinasi teknologi darat dan satelit untuk meminimalkan gangguan tersebut.
Penutupan wilayah udara di kawasan strategis ini berpotensi mengganggu jalur penerbangan antara Eropa dan Asia, yang kerap melintasi Timur Tengah. Maskapai internasional kemungkinan harus mengambil rute memutar yang lebih panjang, berdampak pada durasi penerbangan, konsumsi bahan bakar, hingga jadwal kedatangan.
