0
News
    Home BEM UGM Berita Featured Kasus NTT Spesial UNICEF

    BEM UGM Surati UNICEF Pasca Tragedi Anak di NTT - Kompas

    7 min read

     

    BEM UGM Surati UNICEF Pasca Tragedi Anak di NTT



    Alinda Hardiantoro,
    Albertus Adit

    Tim Redaksi

    KOMPAS.com - Tragedi memilukan seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan duka di seluruh negeri.

    YBS, bocah berusia 10 tahun itu mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri lantaran tidak mampu membeli buku dan pena pada Kamis (29/1/2026).

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Kasus ini menyita empati dan perhatian publik, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) yang memutuskan untuk berkirim surat ke United Nations Children’s Fund (UNICEF) pasca insiden tersebut.

    Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengatakan, peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin hak-hak dasar setiap anak untuk belajar, bermain, dan merangkai masa depan.

    Kondisi Terkini Lubang Raksasa di Aceh Tengah

    "Ini bukan takdir, juga bukan insiden terisolasi, melainkan dapat dicegah dan merupakan hasil dari kegagalan sistemik," kata Tiyo, dikutip dari keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

    Dia juga menilai, tragedi kemanusiaan itu jauh dari komitmen Indonesia di dalam konstitusi negara yang menyatakan bahwa setiap anak dijamin akses ke pendidikan. Hal itu sejalan dengan Pasal 28 Konvensi Hak Anak.

    Menurut Tiyo, komitmen tersebut justru tidak bercermin dalam kebijakan Pemerintah Indonesia saat ini. Padahal negara sejatinya memiliki tanggung jawab untuk memastikan akses terhadap pendidikan yang berkualitas, setara, dan adil bagi seluruh anak di Indonesia.

    "Dalam hal ini, tanggung jawab utama terletak pada negara, yang telah gagal melindungi salah satu warganya yang paling rentan," ungkapnya.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Baca juga: Tragedi Bocah 10 Tahun Diduga Bunuh Diri di NTT, Sosiolog Soroti Faktor Sosial dan Ekonomi

    Desak UNICEF untuk nyatakan sikap

    Melalui surat ini, Tiyo ingin menyampaikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat paling rentan di Indonesia atas kebijakan yang diterapkan pemerintah.

    "Bencana kegagalan negara ini tidak boleh membuat keluarga dari pedesaan miskin menginternalisasi ketidakadilan struktural sebagai kesalahan diri sendiri," kata dia.

    Oleh sebab itu, BEM UGM mendesak agar UNICEF memperkuat perannya di Indonesia dengan mengadvokasi kebijakan perlindungan anak yang lebih kuat.

    Mereka juga meminta agar UNICEF turut melindungi anggaran pendidikan dan memastikan masa depan setiap anak.

    Menurut Tiyo, keterlibatan peran UNICEF dapat mencegah insiden serupa terulang kembali.

    Baca juga: Anak SD di NTT dan Pertanyaan Besar tentang Keadilan Pendidikan Kita

    Soroti Board of Peace

    Dalam suratnya, BEM UGM juga menyinggung soal sumbangan dana Board of Peace (Dewan Perdamaian) yang diberikan Indonesia di tengah tragedi kemanusiaan yang terjadi.

    Sikap ini dinilai tidak berpihak terhadap kebutuhan mendasar anak-anak miskin di Indonesia yang masih tidak terpenuhi.

    "Menjadi ironi yang kejam ketika pemerintah mampu menyumbang dana sebesar Rp 16,7 triliun untuk Board of Peace yang kontroversial, sementara seorang anak bunuh diri karena tidak memiliki Rp 10.000 untuk membeli pulpen dan buku demi bersekolah," ungkap Tiyo.

    Di sisi lain, anggaran pendidikan justru disunat untuk keperluan kebijakan lainnya.

    Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyampaikan, Indonesia perlu bergabung dengan Board of Peace karena dua alasan, yaitu komitmen Indonesia dalam menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah dan tercapainya solusi dua negara dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina.

    Namun, untuk bergabung ke dewan tersebut, Indonesia perlu menyetorkan sejumlah dana.

    Sugiono berkata, dana tersebut dapat dibayarkan secara mengangsur selama satu tahun.

    "Dalam satu tahun berarti ya, tapi apa namanya, tranches atau angsurannya itu bisa diangsur bayarnya," tandasnya, dikutip dari KompasTV, Kamis.

    Baca juga: Anak SD di NTT dan Pertanyaan Besar tentang Keadilan Pendidikan Kita

    Layanan konseling ‎

    Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.

    ‎Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri. ‎

    Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. ‎

    Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia berikut ini:

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS