Beratnya Proyek Kereta Whoosh Warisan Jokowi, Pemerintah Nyicil Utang Rp1,2 Triliun Pakai APBN - Inilah
Dua bulan operasi, Kereta Whoosh angkut sejuta lebih penumpang. (Foto: Antara).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi memastikan, pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang sekarang bernama Kereta Whoosh, menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Tahun ini, pemerintah berkomitmen membayar utang itu dengan mencicil sebesar Rp1,2 triliun. "Iya (bayar utang pakai APBN)," ujar Mensesneg Prasetyo kepada wartawan di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Lebih lanjut, Mensesneg Prasetyo menyebut, skema pembayaran utang Kereta Whoosh masih dalam tahap finalisasi. Proses negosiasi dengan pihak China, dipimpin CEO Danantara, Rosan P Roeslani.
"Belum, kemarin laporan terakhir rapat di Danantara. Jadi masih ada finalisasi. Sekarang proses negosiasi atau pembicaraan teknisnya itu langsung dipimpin oleh Pak Rosan sebagai CEO Danantara," kata dia.
Sebagai informasi, Terkait utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang sekarang bernama Kereta Whoosh ke Bank Pembangunan China atau China Development Bank (CDB), Danantara akan berbagi beban dengan pemerintah.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menyampaikan, Danantara bersama pemerintah berbagi peran dalam menangani utang Kereta Whoosh secara terukur.
Ha itu sesuai dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa Kereta Whoosh telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan perekonomian, sehingga langkah penanganan utang tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan layanan transportasi modern tersebut.
"Masalah mengenai restrukturisasinya sudah disampaikan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) tentu melibatkan pemerintah (dan) Danantara," kata Donny usai penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) Percepatan Pembangunan Gudang Perum Bulog di Kantor Kemenko Pangan Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Dikatakan Donny, Danantara akan fokus pada aspek operasional Kereta Whoosh, agar layanannya semakin optimal, efisien dan mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat di wilayah Jakarta-Bandung dan sekitarnya.
"Nah ini juga solusi terbaik tentunya mana yang porsinya Danantara tentu akan dilakukan oleh Danantara terutama sekali berkaitan operasional Whoosh," jelas Donny.
Sementara itu, pemerintah akan berperan dalam pengelolaan dan penguatan infrastruktur yang mendukung jalannya layanan kereta cepat tersebut. "Dan juga ada porsinya pemerintah yang berkaitan dengan infrastruktur," bebernya.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), total biaya pembangunan proyek Kereta Whoosh yang digagas Jokowi saat menjabat presiden, mencapai Rp116 triliun.
Sebesar 75 persen dari pembiayaan itu, diutangi Bank Pembangunan China atau China Development Bank (CDB). Dengan bunga di kisaran 3,4-4 persen per tahun, setara Rp2 triliun.