0
News
    Home APBN Badan Gizi Nasional Berita Featured Makan Bergizi Gratis Spesial

    BGN Klarifikasi Insentif untuk SPPG Rp6 Juta per Hari: Lebih Efisien dan Cegah Pemborosan APBN - Kompas TV

    4 min read

     

    BGN Klarifikasi Insentif untuk SPPG Rp6 Juta per Hari: Lebih Efisien dan Cegah Pemborosan APBN

    Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana dalam RDP dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada Selasa (20/1/2026). (Sumber: Tangkapan Layar Kompas TV)

    JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Badan Gizi Nasional (BGNDadan Hindayana mengeklaim kebijakan insentif Rp6 juta per hari untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan kebijakan pemborosan.

    Sebaliknya, kata Dadan, insentif tersebut justru membuat penganggaran lebih efisien dan mencegah pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN.

    Dadan menyebut skema insentif Rp6 juta per hari yang dipakai BGN menjadi strategi efisien dan minim risiko untuk negara. Ia pun menegaskan insentif ini tidak daimbil dari dana pembangunan APBN.

    "Terdapat sejumlah prinsip mendasar dalam skema kemitraan tersebut. Pertama, Rp6 juta per hari bukanlah dana pembangunan dari APBN," kata Dadan di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

    "Melainkan bagian dari mekanisme pembayaran layanan atas SPPG yang telah berjalan. Seluruh proses pembangunan fisik dilakukan dengan investasi mandiri oleh mitra."

    Baca Juga: 42 Siswa dan Seorang Guru Diduga Keracunan MBG di Cimahi, Pemkot Bekukan Sementara SPPG

    Dadan menyebut seluruh risiko investasi dalam skema ini ditanggung oleh mitra, mulai dari risiko pembangunan, pelaksanaan operasional, evaluasi, hingga bencana alam.

    Ia mencontohkan, ketika salah satu SPPG di Aceh terkena banjir, kerugian sepenuhnya menjadi tanggung jawab mitra, bukan BGN. Mitra MBG disebutnya wajib membangun kembali tanpa meminta tambahan anggaran dari negara.

    "Jadi, kita memindahkan risiko total kepada mitra, oleh karena itu saya sampaikan Rp6 juta itu sangat efisien karena BGN tidak mengeluarkan satu rupiah pun untuk pemeliharaan, perbaikan dan lain-lain," kata Dadan dikutip Antara.

    Lebih lanjut, Dadan menilai kebijakan ini efisien karena mitra tidak mungkin mengutak-atik harga atau mark up untuk dirinya sendiri. Mitra pun dinilai akan membangun fasilitas seoptimal mungkin untuk kebutuhan pelayanan.

    Selain itu, Dadan menyebut, pembangunan fisik oleh mitra lebih cepat. Sebab, jika diambil dari APBN, pembangunan harus melalui sejumlah tahapan yang memakan waktu berbulan-bulan.

    BGN tercatat telah memiliki 24.122 SPPG yang seluruhnya dibangun melalui skema kemitraan dan telah beroperasi. BGN menyebut rata-rata pembangunan mencapai 50 SPPG per hari.

    Melalui skema insentif fasilitas Rp6 juta per hari, BGN berharap layanan pemenuhan gizi berjalan cepat, efisien, serta meminimalkan risiko fiskal negara, dengan tetap menjunjung prinsip tata kelola yang baik.

    Baca Juga: BGN Minta SPPG Putus Kerja Sama dengan Mitra yang Mark Up Harga Bahan Baku MBG


    Komentar
    Additional JS