Diplomat Kelas Dunia yang Menolak Kaya: Jejak Haji Agus Salim dan Tamparannya bagi Pejabat Zaman Kini -
INFORADAR.ID - Di tengah budaya kekuasaan yang sering identik dengan kemewahan, Indonesia pernah punya Menteri Luar Negeri yang justru hidup berbanding terbalik dari citra pejabat pada umumnya.
Namanya Haji Agus Salim—seorang diplomat ulung yang disegani dunia internasional, namun memilih hidup sederhana, bahkan nyaris serba kekurangan.
Agus Salim bukan tokoh biasa. Ia menguasai lebih dari sembilan bahasma asing, berpikir tajam, dan dikenal luas oleh para pemimpin dunia pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Di forum internasional, kata-katanya ditimbang; argumennya diperhitungkan. Ia bukan diplomat basa-basi, melainkan diplomat tempur—menyerang dengan logika, membela dengan kecerdasan.
Namun ironisnya, ketika ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Agus Salim tidak tinggal di rumah dinas megah. Ia memilih tinggal di rumah kontrakan kecil di gang sempit. Atapnya bocor. Saat hujan turun, ember dan baskom menjadi “perabot tambahan” untuk menampung air. Tidak ada pengawal berlebihan. Tida ada gaya hidup elitis.
Ini bukan karena negara tidak mampu, melainkan karena pilihan hidup.
Bagi Agus Salim, jabatan bukan alat memperkaya diri. Negara bukan ladang bisnis. Kekuasaan hanyalah amanah sementara yang harus dipertanggungjawabkan—bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada nurani dan Tuhan.
Julukan “The Grand Old Man” yang disematkan kepadanya bukan sekadar penghormatan usia. Ia adalah guru moral bagi generasi pendiri bangsa. Sosok yang berani mengkritik kekuasaan, bahkan ketika kritik itu datang dari dalam pemerintahan sendiri. Ia percaya bahwa kemerdekaan tidak akan berarti apa-apa jika dijalankan oleh elite yang rakus dan jauh dari penderitaan rakyat.
Agus Salim mengajarkan satu hal penting:
kehebatan seorang pejabat tidak diukur dari seberapa mewah hidupnya, tetapi dari seberapa bersih tangannya dan sejauh mana pikirannya melampaui zamannya.
Kini, puluhan tahun setelah beliau wafat, warisan Agus Salim terasa seperti cermin yang tak nyaman. Kita hidup di era ketika sebagian pejabat berlomba memamerkan rumah, mobil, jam tangan, dan liburan mewah—sering kali dengan alasan “hasil kerja keras pribadi”. Sementara kepercayaan publik justru makin bocor, seperti atap kontrakan Agus Salim dulu.
Mengingat Agus Salim bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah peringatan keras bahwa Indonesia pernah punya standar moral yang sangat tinggi bagi pemimpinnya. Dan pertanyaannya sekarang bukan apakah kita mampu melahirkan pejabat secerdas beliau, tetapi:
masihkah ada pejabat yang rela hidup sederhana demi menjaga kehormatan negara?
Jika tidak, mungkin yang bocor hari ini bukan lagi atap rumah—melainkan nilai-nilai kepemimpinan kita sendiri.
Fikri Habib Hassar Maldya Mahasiswa Ilmu Komuikasi Universitas Mathla’ul Anwar