0
News
    Home Amerika Serikat Berita Featured Spesial

    Harga Pangan yang Diimpor RI dari AS Lebih Mahal dari Harga di Pasar Global - Viva

    4 min read

     

    Harga Pangan yang Diimpor RI dari AS Lebih Mahal dari Harga di Pasar Global


    Jakarta, VIVA – Peneliti CORE Indonesia, Eliza Mardian berpendapat, komitmen pembelian sejumlah komoditas pertanian dari Amerika Serikat (AS) berpotensi menekan Indonesia.

    Hal itu karena Indonesia harus membayar dengan harga relatif lebih mahal, dibandingkan sumber impor lain yang menawarkan harga yang lebih kompetitif.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    “Beberapa komoditas pangan dari AS itu relatif mahal dibandingkan yang biasa kita beli,” kata Peneliti CORE Indonesia, Eliza Mardian di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.

    Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

    Photo :
    • White House

    “Jadi karena kesepakatan itu, kita beli terpaksa dengan harga relatif mahal, bukan lagi mempertimbangkan kompetitif barang,” ujarnya.

    Dalam kesepakatan dagang Indonesia dan AS yang disepakati pada 19 Februari 2026, Indonesia berkomitmen membeli produk pertanian AS senilai lebih dari US$4,5 miliar. Pembelian ini mencakup kedelai, jagung, gandum, kapas, dan daging sapi.

    Indonesia akan mengimpor sedikitnya 3,5 juta metrik ton kedelai dari AS per tahun selama lima tahun. Selain itu, Indonesia juga berkomitmen membeli 3,8 juta metrik ton bungkil kedelai per tahun selama lima tahun, gandum sedikitnya 2 juta metrik ton per tahun selama lima tahun, dan kapas 163.000 metrik ton per tahun selama lima tahun.

    Menurut Eliza, harga komoditas dari AS relatif lebih tinggi dibandingkan pemasok lainnya, sehingga Indonesia harus membayar relatif lebih mahal untuk produk-produk yang sebenarnya tersedia dengan harga lebih kompetitif di pasar global.

    Dia mencontohkan, jagung dari Argentina tersedia dengan harga US$193 per metrik ton (MT), sementara dari AS US$194 per MT. Kemudian gandum dari Rusia hanya US$228 per MT, sedangkan dari AS US$233 per MT. Lalu kedelai dari Argentina US$405 per MT sementara dari AS US$418 per MT.

    Menghadapi realitas ini, Eliza menyebut pemerintah perlu menyusun strategi agar industri domestik tetap terlindungi. Salah satu opsinya adalah memberikan subsidi kepada pelaku industri, untuk menggunakan bahan baku dalam negeri.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Misalnya subsidi jagung untuk pakan ternak bagi peternak skala kecil, yang sekaligus memberi manfaat ganda bagi petani jagung dan peternak. Proteksi terhadap petani dan peternak juga disebutnya tetap krusial.

    Menurut Eliza, ketika petani enggan menanam akibat kalah bersaing dengan impor, produksi bisa menurun sementara kebutuhan terus meningkat. Kondisi ini berisiko meningkatkan ketergantungan pada impor dan membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik. (Ant).


    Komentar
    Additional JS