Hidup Sederhana Meriyati Istri Hoegeng: Tak Punya Barang Mewah dan Jualan Bantu Ekonomi Keluarga - Liputan6
Hidup Sederhana Meriyati Istri Hoegeng: Tak Punya Barang Mewah dan Jualan Bantu Ekonomi Keluarga
Meriyati Roeslani telah berpulang. Di usia seabad, dia mengembuskan napas terakhirnya.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4664831/original/006931500_1701078790-WhatsApp_Image_2023-11-27_at_14.59.34.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta - Meriyati Roeslani telah berpulang. Di usia seabad, istri Kapolri ke-5 Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso itu mengembuskan napas terakhirnya. Kepergiannya seolah menutup lembar terakhir perjalanan hidup bersama sang suami tercinta, yang lebih dulu wafat pada 14 Juli 2004. Kini, keduanya kembali bersatu dalam keabadian.
Sepanjang hidupnya, Meriyati dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja. Sikap itu tumbuh dari keteladanannya terhadap Hoegeng, sosok jenderal yang terkenal jujur dan bersih.
Kekaguman Meriyati kepada suaminya bukan hanya karena pangkat dan jabatan, melainkan karena keteguhan prinsip yang selalu dia pegang. Bagi Meriyati, hidup sederhana adalah pilihan, bukan keterpaksaan.
Dia pun menjadi saksi setia atas kejujuran Hoegeng, yang kini semakin langka di kalangan pejabat. Salah satu peristiwa yang tak pernah dia lupakan terjadi saat Hoegeng menangani kasus penyelundupan.
Seorang perempuan pelaku kasus tersebut sempat mengirimkan berbagai barang mewah agar perkaranya tidak dilanjutkan. Namun tanpa ragu, Hoegeng dan Meriyati memilih mengembalikan semua pemberian itu.
Hoegeng bahkan pernah mengenang peristiwa tersebut. Saat pulang ke rumah, dia mendapati sebuah peti kayu besar berisi berbagai hadiah, mulai dari mesin cuci listrik, peralatan elektronik, hingga bahan pakaian mahal. Meski nilainya besar, semua barang itu sama sekali tidak menggoyahkan prinsipnya. Baginya, kehormatan jauh lebih berharga daripada harta.
Kesederhanaan juga tercermin dari kehidupan mereka sehari-hari. Rumah Hoegeng jauh dari kesan mewah. Tak ada perabot mahal atau barang-barang berlebihan. Dengan mengandalkan gaji sebagai perwira polisi, mereka hidup apa adanya. Namun Meriyati tak pernah menuntut lebih. Dia menerima kehidupan itu dengan ikhlas dan penuh rasa syukur.
Sebagai istri, Meriyati justru menjadi penopang utama bagi Hoegeng untuk terus berjalan di jalur kejujuran, meski harus hidup pas-pasan. Dukungan tulus itulah yang membuat Hoegeng tetap teguh menjaga integritasnya hingga akhir hayat.
Buka Toko Bunga Demi Bantu Ekonomi Keluarga
Demi membantu perekonomian keluarga, Meriyati pernah membuka usaha toko bunga kecil di garasi rumahnya. Usaha itu dijalani dengan penuh ketekunan.
Perlahan, toko bunga tersebut mulai dikenal dan semakin ramai pembeli. Namun, di tengah keberhasilan itu, sebuah keputusan mengejutkan justru datang dari sang suami.
Saat Hoegeng dilantik menjadi pejabat imigrasi oleh Presiden Soekarno, dia meminta Meriyati menutup usaha tersebut. Bukan karena tidak mendukung, melainkan karena ingin menjaga integritas. Hoegeng khawatir jabatannya akan memengaruhi pilihan pelanggan dan merugikan pedagang lain.
“Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan bunga di toko ibu, dan itu tidak adil bagi toko-toko lainnya,” ujar Hoegeng kala itu, dilansir Merdeka.com. Dia tak ingin ada satu pun orang yang datang membeli bunga karena embel-embel kekuasaan.
Permintaan itu pun diterima Meriyati dengan lapang dada. Tanpa protes, dia menutup usahanya demi menjaga nama baik dan prinsip keluarga.
Tutup Usia Usai Dirawat karena Sakit
Meriyati Roeslani mengembuskan napas terakhir hari ini, Selasa (3/2/2026) pukul 13.24 WIB, di usia 100 tahun.
Kabar duka ini disampaikan Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polri RS Bhayangkara Polri, Brigadir Jenderal Polisi Prima Heru Yulihartono. Meriyati sempat menjalani perawatan akibat sakit sebelum meninggal dunia.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, telah meninggal dunia Ibu Meriyati Hoegeng. Pada hari Selasa, 3 Februari 2026 pukul 13.24 WIB dikarenakan sakit,” kata Prima Heru.
